≀➸ Denting Awal

3.8K 285 24
                                        

Malam menyelimuti istana dengan keheningan yang pecah oleh denting pedang dan jerit perjuangan. Cahaya obor yang redup menari di dinding-dinding megah, menciptakan bayangan liar yang bergerak mengikuti keganasan perang.

Lantai marmer yang biasanya memantulkan kemegahan kini penuh dengan genangan darah, bercampur dengan serpihan perabotan yang hancur.

Para prajurit berbalut zirah saling bertarung di bawah bayang-bayang pilar-pilar raksasa, sementara tirai sutra yang terkoyak melambai seperti bendera duka. Aroma mesiu dan luka bercampur dengan wangi mawar layu yang jatuh dari vas-vas megah.

Derap langkah kaki seseorang berlari memecah kesunyian lorong istana yang tak terjamah peperangan. Hanfu putih berhiaskan bercak-bercak darah melambai indah seirama dengan langkah nya yang kian memburu.

Brak!

Suara pintu yang dipaksa terbuka menghentikan langkahnya. Pemuda dengan hanfu putih itu segera menghampiri seseorang yang terbaring lemah dengan pedang berlumur darah disisi nya.

"Gege!!"

Tangannya mendekap tubuh sang kakak yang kini pandangannya mulai tidak fokus, beberapa kali mengerjap berusaha mempertahankan kesadarannya. Darah segar merembes dari dada nya, terlihat bekas tusukan pedang disana.

"Gege, kumohon bertahanlah!"

Meskipun pandangannya memburam, dihalangi oleh darah yang terus mengalir dari dahi nya, namun pendengarannya selalu mengenali suara sang adik, "Aku berhasil membersihkan jalan untukmu, keluarlah ikuti lorong ini kau akan menemukan jalan rahasia, tenang saja, sepanjang jalan ini sudah aman, keluarlah dari istana dan cari seseorang bernama Zhu Yan"

Sang adik menggeleng samar, air mata terjun bebas mengalir dikedua pipi nya, "Tidak, aku tidak mau, aku tidak bisa tanpa mu"

"Didi, kumohon, ini satu-satu nya hal terakhir yang bisa aku berikan untuk melindungi mu, tolong selanjutnya hiduplah dengan baik"

Walau dengan berat hati, akhir nya sang adik mengangguk pelan dengan penuh keraguan. Ia memeluk erat kakaknya untuk terakhir kali nya, tidak peduli jika hanfu putih nya kini bernoda darah. Sang kakak mengangkat tangannya, mengusap rambut adiknya yang kusut akibat berlarian.

Ketika puas memeluk kakak nya, ia segera meletakkan pelan tubuh sang kakak dari pangkuannya. Ia melangkah dengan ragu, air mata masih mengalir deras membuatnya kesulitan bernapas.

"Didi.."

Panggilan lemah sang kakak membuatnya menghentikan langkah tanpa menoleh kebelakang. Ia takut jika menoleh hanya akan membuka luka dihati nya semakin dalam, serta larut dalam kesedihan dan penyesalan yang tak berkesudahan.

"Jangan lupa untuk tidak memberitahukan identitas mu... pada siapapun..."

Kaki nya kembali melangkah setelah mendengar ucapan sang kakak. Hatinya menjerit ingin berlari dalam pelukan kakaknya lalu pergi bersamanya. Namun pikirannya mengatakan ia harus bangkit dari keterpurukan, membalaskan dendam kedua orang tua nya serta kedua kakaknya.

"Didi, aku selalu menyayangi mu"

.

.

.































≀➸ Titik Jeda

Across The Journey | ZhuYi [END]Stories to obsess over. Discover now