bunyi bising menggema di telingaku. aku lantas bangkit dari tidur, kuusap mata yang masih tertutup. sebenarnya masih ngantuk tapi alaram sudah menunjukkan pukul empat lebih sepuluh.
aku yang masih memejamkan mata duduk di tengah-tengah kasur sesekali menguap nggak ada niatan buat jalan keluar kamar. ngantuk banget gila kemarin baru tidur jam sebelas.
dua menitan aku terdiam duduk di atas kasur, tubuhku terhuyung ke belakang membuat kepalaku menimpa bantal. setengah sadar, aku kembali memeluk boneka pinguinku, berniat kembali melanjutkan tidur sebelum-
TOK TOK TOK!!
seseorang mengetuk kamarku.
aku terkejut bukan main. masalahnya itu orang ngetuknya nggak santai banget. bisa-bisa jebol pintunya nanti dimarahin papa.
TOK TOK TOK!!!
aku ngedumel dalam hati.
"WOY, SA! BANGUN GAK LO! SUBUHAN DITUNGGU PAPA!"
dari teriakannya aja aku sudah tau siapa yang berada di balik pintu.
dengan langkah gontai masih mengantuk aku berjalan menuju pintu kamarku lantas membukanya. dan benar saja, pemuda jangkung dengan surai hitamnya berdiri di hadapanku sambil berkacak pinggang. sumpah kaya bapak-bapak habis ngeronda! pake sarung kotak-kotak warna abu-abu, kaos putih oblongnya dimasukin, pake peci hitam sama sajadah diselempangin di bahu kanannya. mana rambutnya masih basah banget netes di lantai.
"lo tidur apa mati sih ya ampun susah banget dibangun." dia berkata demikian.
"berisik kak... kalo habis wudhu itu dikeringin dulu muka sama rambutnya! kan netes-netes jadinya!" aku ngedumel ke pemuda jangkung di depanku.
dia malah menjitak keningku, "cepetan turun. ditungguin orang-orang buat subuhan."
pemuda itu lantas berlalu menuruni tangga. aku yang melihatnya jengkel sendiri. mana sakit banget habis dijitak sama spesies kera kaya gitu.
dengan mengelus keningku aku ikut menuruni tangga menuju ke kamar mandi untuk cuci muka sekaligus berwudhu. dan benar saja aku ditunggu oleh banyak orang di ruang mushola tempat kami menunaikan ibadah. pemuda yang membangunkanku tadi menyeletuk, "nah ini tuan putri yang ditunggu-tunggu. lama banget putri tidur."
aku cuma mencibir.
oiya ngomong-ngomong aku belum memperkenalkan diriku kepada kalian.
halo, bunda memberiku nama dengan tajuk angkasa naura gautama. orang-orang disini memanggilku asa. terlahir sebagai gadis jawa keturunan barat di kala matahari menyingsing tepat pukul satu. surainya hitam legam pendek sebahu. merupakan anak gadis bungsu satu-satunya di rumah papa di antara enam bersaudara.
pemuda yang membangunkanku tadi namanya kak bagas. dia emang suka cari ribut kalau di rumah. si sulung nomor tiga. kerjaannya kalau nggak main game ya ngerusuh teriak-teriak nggak jelas. sampe kebal seisi rumah gara-gara teriakannya dia.
intinya, tinggal di rumah ini itu setara dengan ngeladenin temen yang nggak pernah absen buat curhat tentang mantannya. harus banyak-banyak bersabar pokoknya. ini baru kak bagas, sisa empat orang lagi yang nggak kalah bikin pening kepala.
. . . . .
matahari sudah terbit memperlihatkan eloknya di tengah-tengah bumantara. cerah banget deh hari ini kayanya mau ada kebahagiaan yang bagus buat aku.
namun, kebahagiaan itu pupus ketika langkahku menuruni tangga, melihat dua pemuda tengah berebut roti di meja makan.
"ASA! roti bakar isi coklatnya buat kakak ya!" teriak si pemuda yang juga berketurunan barat itu. panggil saja kak harsa.
KAMU SEDANG MEMBACA
berteduh, txt.
Fiksi Penggemarrumah, dan segala tetek bengek dunia kecilnya. © actionvigour in 2O25 『on going 』
