Hemos actualizado nuestras Pautas de Contenido.
Consulta las pautas más recientes para seguir compartiendo historias de forma segura.

107,9 Haikal Radio

8 0 0
                                        

"Halo-halo sobat pelajar, balik lagi bersama aku Haikal, di sini ada, di situ ada, di mana-mana ada Haikal. Gimana kabarnya nih sobat pelajar? Kalau diinget-inget kayaknya minggu ini itu boring banget gak sih guys? Tapi harusnya hari ini gak sih, kan ada radio a'a Haikal yang menemani, hehe."

Suara radio itu menggema di seluruh penjuru sekolah. Seperti biasa, di hari senin sekolah ini dipenuhi oleh suara kak Haikal. Si penyiar radio terkenal di sekolah ini. Aku sendiri sangat menikmati setiap siaran radionya berlangsung. Menurutku, kak Haikal ini orang yang lucu, mungkin bisa terdengar dari ciri khas suaranya. Aku pernah bertemu dengannya sekali, dipertemuan Jurnalistik SMA ini, dan memang benar, dia orang yang menyenangkan.

Kalau tidak salah, Kak Haikal itu siswa kelas 12, dia adalah ketua ekskul penyiaran sekaligus ketua divisi jurnalistik di bagian podcast. Salah satu orang yang aku kagumi, aku akui itu. Entah sudah berapa kali aku mencoba mencarinya, hanya untuk melihatnya. Menurutku, orang seperti kak Haikal ini adalah orang yang sangat keren. Dia bisa mengatur penyiaran radio sekolah, dan juga menjadi penyiar seminggu sekali dengan adlibs dan kemampuan yang luar biasa.

Aku ingin menjadi seperti dia. Aku ingin menjadi penyiar radio juga, aku ingin mempunyai kemampuan yang hebat seperti dirinya. Rasanya, semua impianku ada pada dia. Pernah suatu hari aku ingin berkenalan dengan kak Haikal ini, dengan bermodalkan pertemuan jurnalistik saat hari sabtu. Tapi keberanianku tidak sebesar itu untuk menghampirinya. Aku terlalu takut dengan kesenjangan kakak-adik kelas yang seringkali ada jarak.

Suatu hari, aku masih ingat saat itu bulan Februari. Tepat pada tanggal 13 Februari adalah hari Radio sedunia. Tiba tiba saja sekolah mengadakan audisi penyiar. Tanpa pikir Panjang, sudah pasti aku akan mengikuti audisi tersebut. Aku sangat senang, sampai sampai aku melupakan pelajaranku di kelas saat itu, aku sibuk menyiapkan diri untuk audisi penyiar.

Masih sangat melekat dalam pikiranku, saat itu aku memutar dua lagu, yaitu lagu Bahagia dari Yura Yunita, dan lagu Sempurna dari Andra and the Backbone. Tidak banyak kata yang aku sampaikan dalam audisi tersebut. Aku hanya mengatakan bahwa di dalam hidup ini kita hanya perlu bahagia untuk mendapatkan akhir yang sempurna.

Banyak sekali siswa yang mengikuti audisi itu, banyak juga diantara mereka yang sangat mahir dalam bidang ini. Para siswa dan siswi begitu bersemangat menyambut adanya audisi penyiar, ini pertama kali bagi mereka hal seperti ini. Apalagi penyiar penyiar sebelumnya pun terkenal hebat dan keren. Sudah mengikuti audisi saja, aku sangat bahagia. Aku tidak peduli akan diterima atau tidak, karena sudah diberi kesempatan se-baik ini pun aku sudah sangat bersyukur.

Seminggu berlalu, tanpa disangka, aku lolos audisi. Saat itu, aku dipanggil oleh guru yang memegang penyiaran sekolah, dan beliau bilang, aku lolos audisi. Aku tidak tahu lagi harus membendung bahagiaku seperti apa. Sejak saat itu, aku resmi menjadi anggota penyiar radio sekolah, impianku sejak lama.

Waktu terasa begitu cepat berlalu, tidak terasa aku sudah tiga kali siaran radio. Banyak sekali hal yang aku pelajari dari penyiaran radio ini. Aku juga sudah kenal dengan kak Haikal, walaupun tidak terlalu kenal. Kami hanya beberapa kali bertemu, itu pun dia hanya tahu bahwa aku adalah angoota penyiaran baru yang lolos audisi kemarin. Seperti dugaanku sejak awal, kak Haikal ini orang yang sangat menyenangkan. Dia mahir membangun suasana, orangnya ceria, juga selalu tersenyum. Tidak pernah sekalipun aku tidak mengaguminya. Sampai saat ini pun, aku masih suka memperhatikannya. Rasanya ikut bahagia ketika melihatnya tertawa.

Mungkin tuhan memang sangat baik padaku, berkali kali ia memberiku suatu hal di luar dugaanku. Kak Haikal, mendatangiku. Saat itu posisinya, aku baru saja selesai siaran di hari rabu. Dia bilang dia butuh bantuan. Kak Haikal akan mengikuti lomba announcer, lomba penyiar. Lomba itu diadakan oleh sebuah kampus swasta yang lumyan dekat dengan sekolah kami. Betapa terkejutnya aku ketika tahu, kak Haikal ingin aku menjadi partner siarannya. Dia bilang, aku kandidat paling cocok untuk lomba bersamanya. Aku tidak mengerti, padahal masih banyak penyiar lain yang lebih mahir.

Setelah waktu yang cukup lama, akhirnya aku setuju untuk mengikuti lomba tersebut bersamanya. Kami menghabiskan banyak waktu untuk menyiapkan lomba. Membuat naskah, mencari lagu, sampai mewawancarai orang-orang sebagai riset untuk penyiaran kami nanti. Living with meaning, adalah tema yang kami angkat disiaran ini. Bagaimana cara kita untuk memaknai dan menjalani hidup kita dengan bahagia.

Ada satu perumpamaan yang sangat aku sukai, yaitu romantisasi hidup. Romantisasi hidup itu adalah ketika kita selalu menganggap romantis apapun yang terjadi di dalam hidup kita, sekecil apapun. Hal itu akan membuat kita selalu menghargai apapun dan sekecil apapun hal yang terjadi. Semua itu, aku dan kak Haikal sampaikan pada siaran kami.

Kak Haikal orang yang sangat terbuka, ia selalu mempunyai ide cemerlang untuk setiap langkah yang kami lewati. Oh iya, dia paling jago membuat opening dan closing, karena pasti ada saja kata lucu yang terselip di dalamnya. Kami memilih dua lagu untuk lomba ini, yaitu 'Yang patah tumbuh yang hilang kembali' dari Banda Neira, dan lagu 'Sempurna' dari Andra and the Backbone, lagi. Sejak saat itu, dua lagu tersebut sangat berarti bagiku, entah apa alasannya.

Setelah berbagai persiapan yang kami lewati, akhirnya kami pun sampai pada hari lomba. Ini pertama kali bagiku, banyak sekali perasaan gelisah yang hinggap, tapi aku berusaha sangat keras untuk menyingkirkannya. Selama di ruang tunggu pun aku hanya bisa menggenggam kedua tangan, mengelap keringat yang ada di sana, apalagi ketika tahu bahwa juri yang menilai adalah penyiar-penyiar radio komersil.

"Gak usah gugup, santai ajaa na, nanti kalau waktu di dalem gugup, liat aku aja jangan liat jurinya ya."

Satu kalimat itu, berhasil membuatku terdiam beberapa saat. Kata-kata itu seperti membuatku terhipnotis, padahal hanya satu kalimat. Berhari-hari, kalimat itu masih terpampang jelas di dalam pikiranku. Aku tidak bisa melupakannya, tidak semudah itu.

Sudah beberapa hari terlewati setelah hari lomba tersebut. Tapi aku tidak bisa tidak terseyum ketika bertemu dengan kak Haikal. Bahkan aku tidak bisa tidak mengajaknya berbicara ketika bertemu dengannya. Sepertinya, aku menyukainya.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Aku masih menyukainya dalam diam. Tidak memberitahunya, tidak juga mendekatinya. Saat itu, kami tim penyiaran sedang merayakan kemenangan kami. Iya, aku dan kak Haikal menang, juara dua. Aku sangat bahagia saat itu, perlombaan ini akan sangat berarti dan akan selalu aku ingat sampai kapanpun.

Tapi, semua perasaan bahagia itu runtuh. Meruntuhkan segala rasa bahagiaku bahkan sampai berbulan-bulan yang lalu. Rasanya, semua yang aku lakukan dan aku rasakan selama ini tidak ada apa-apanya. Kak Haikal, telah menemukan pujaan hatinya, sudah memilikinya mungkin? Bahkan aku kenal siapa orangnya. Saat itu aku melihat langsung dengan mata kepalaku sendiri.

Mungkin memang benar, seharusnya aku tidak terlalu terbawa perasaan. Perasaanku tidak perfesional. Seharusnya aku tidak boleh menyukainya karena mengikuti lomba bersama. Seharusnya aku tidak boleh menyukainya karena sering menhabiskan waktu bersama. Seharusnya aku tidak boleh menyukainya karena satu kalimat yang ia ucapkan untuku, itu hanya kalimat penenang. Bagai obat yang akhirnya dosisnya pun akan habis.

Dan pada saat itulah, cinta pertamaku, berakhir. 



.

.

.

11/01/25

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Jan 11, 2025 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

Romance of My LifeHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora