Surat Pertama

2 0 0
                                        

Malam selepas hujan, setelah menangis sampai lelah

Kepada pria yang tidak tahu kemana hatinya berlabuh
Kepada pria yang selalu baik pada setiap orang
Kepada pria yang selalu kurindukan

Katakan saja ini gila
Katakan saja ini menjijikan
Kau juga bisa mengatakan ini menyesakkan

Entah sudah berapa bulan berlalu
Entah sudah berapa bulan purnama terlewati
Entah sudah berapa banyak orang yang kuajak bercengkrama
Namamu sepertinya tersesat mencari jalan keluarnya

Aku tidak lagi melihatmu
Tidak pula mendengar suaramu
Kebaikanmu bahkan sudah mulai pudar dalam ingatanku
Anehnya, perasaannya belum hilang

Aku tidak lagi bisa menyampaikan perasaan ini pada teman-teman
Aku sudah di cap wanita gila
Aku sendiri tidak tahu bagaimana menghentikannya
Aku bukan wanita bodoh yang terobsesi dengan pria
Aku juga bukan wanita lemah yang dunianya hancur hanya karena pria

Aku melakukan banyak kegiatan
Aku berinteraksi lebih banyak dibandingkan dulu
Aku memaksa diriku untuk terus berproses
Terkadang memang sakit, sepertinya tidak perlu kuceritakan sakit apa
Aku ragu kau peduli

Aku tidak membencimu
Perasaanku masih sama, entah kapan habisnya
Percayalah, aku sudah berusaha maksimal
Aku berdoa sungguh-sungguh tidak ingin mengganggumu lagi

Maaf jika aku masih sering menangis
Maaf karena usahamu mencari pahala, justru sedikit terhalang karena ada wanita yang menangis rindu padamu

Ini cara lain yang kupunya untuk sedikit melepaskan perasaan sesak ini
Entah akan dibaca atau tidak, aku lebih peduli pada perasaanku
Sama seperti yang kau katakan
Katamu, aku harus mendahulukan diri sendiri, harus selesai dengan diri sendiri
Entah perasaanku yang akan hilang setelah mengirim surat-surat lainnya nanti
Atau justru perasaanmu yang mulai terbuka
Aku hanya berharap kebahagiaan menyertai kita berdua

Dari wanita yang pendiam, tetapi selalu ribut isi kepalanya

Rumah PiluStories to obsess over. Discover now