Aku bisa merasakan hembusan angin dingin melewati lubang yang ada di perutku.
Harusnya aku sudah mati saat ini, kan?
Anehnya kenapa aku masih bisa bergerak?
Bau darah, oli, dan mesin-mesin rusak di sekelilingku, Semuanya terasa sangat nyata. Padalah harusnya ini hanya mimpi.
Ah, benar. Aku hanya harus menuntaskan tujuanku. Harapan semua orang dan juga harapanku.
Nafasku terasa sangat berat, semuanya terlihat buram, Pasti darah ku sudah berkurang banyak ya. Hahaha, Lucu sekali.
Tanganku meraih keyboard hologram yang berkedip-kedip berusaha bertahan untuk tetap menyala. Dengan jari-jari gemetar, Aku menulis ulang seluruh program penghancuran diri. Jantungku berdetak dengan keras memompa darah ke seluruh tubuhku, terutama luka yang menganga lebar di perut dan untuk otakku yang sekarang perlahan mulai kehilangan gunanya.
Suara ledakan mesin-mesin disekelilingku seakan berteriak kesakitan mencapai batas. Bunyi tembakan makin mendekat dari belakang, aku tahu aku harus segera menyelesaikannya. Tubuhku terasa berat, menjerit meminta waktu istirahat, tapi aku tak boleh berhenti.
"Al-"
Seseorang memanggil namaku, tak begitu jelas terdengar karena salah satu gendang telingaku rusak. Aku reflek menoleh sebelum menekan tombol Enter. Sedetik kemudian penglihatanku tertutupi warna merah. Aku melihat percikan cahaya mesin-mesin yang rusak. Bersamaan dengan suara yang jatuh dan sesuatu yang terasa panas melewati bahuku. Tubuhku oleng tapi masih bisa bertahan, menjadikan meja sebagai sandaran.
Dihadapanku, pemuda itu meminta maaf tanpa suara dan ambruk dengan luka parah. Aku mengertakkan gigi dan menatap tajam ke arah pintu masuk dimana ada pemuda lainnya yang masih mengisi amunisi di senjatanya.
Aku bergegas menekan Enter dan di waktu bersamaan, Sesuatu yang panas melobangi jantungku. Aku terjatuh, Samar-samar Aku mendengar pemuda yang menembakku berbicara dengan seseorang, berkata misi mereka gagal.
Pemuda itu menyadari aku masih bernafas. Ia mendekar, Itu adalah kesempatan yang bagus baginya untuk menghabisi lawan, namun Ia mengangkat tubuhku dengan lembut sambil merapikan rambut yang menutupi wajahku.
"Ini kah akhir yang ingin kau dapatkan, Kak?"
Ia bertanya dengan suaranya yang dingin.
Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas, Tapi satu hal yang terpintas dipikiranku.
[ Ah, kau benar ]
Aku pun terputus dari dunia itu.
***
"Kak!"
Anak laki-laki berusia delapan tahun menggoncang bahuku, menyadarkanku dari lamunan saat menatap bintang dari balkon atap rumah. Aku melepaskan headphone.
"Apa?"
Aku menoleh melihat adikku, rambutnya hitam dan matanya keemasan jika terkena cahaya, dengan kulit yang putih membuatnya
populer di kalangan anak perempuan.
"Mama, manggil makan!"
"Oh, Ya, Ya"
Aku mengangguk paham sambil merapikan buku sketsaku. Dia memperhatikan buku sketsaku yang hanya berisi coretan sketsa acak gambar wajah orang-orang dan bangunan.
"Apa tuh? Komik?"
"Bukan..."
Adikku langsung menatap curiga padaku, tapi ia berbalik pergi mengabaikanku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pathfinders
RandomAlyka, seorang gadis muda dengan kemampuan istimewa untuk menjelajahi dimensi saat tidur, menemukan bahwa adiknya, Hoshi, memiliki peran penting di setiap dimensi. Dengan bantuan Shun, sahabatnya, mereka memulai petualangan menakjubkan untuk memaham...
