Sang Ravenstead

10 1 0
                                        


"Kegelapan bukanlah musuh, melainkan bayangan yang menantang nyali. Ia memelukmu dengan misterinya, menguji seberapa jauh kau berani melangkah tanpa tahu di mana cahaya akan berakhir."

Di bawah sinar rembulan yang pucat, sebuah distrik berdiri angkuh di tengah Hutan Malam Abadi, Ravenstead. Rumah-rumah tua dengan dinding kayu lapuk berkerangka batu menjulang tinggi di antara jalanan berbatu yang berliku dan sempit, seolah mengarah pada kegelapan yang tak terjamah. Kabut tipis melayang rendah di udara malam, menyelimuti tiap sudut distrik, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak seakan ada mata yang mengintai. Udara malam yang dingin menggerus kulit, membawa aroma tanah basah yang lembab, kayu bakar yang hampir habis terbakar, dan sesekali tercium harum bunga liar yang tak diketahui namanya, mekar di tepi hutan. Di balik pohon-pohon tinggi yang bergoyang diterpa angin, suara bisikan samar dan denting logan yang jauh terdengar, menambah aura misteri yang seakan meresap ke dalam setiap sudut distrik ini.

Seorang perempuan melangkah memasuki distrik Ravenstead, seolah tubuhnya menyatu dengan kabut malam yang menggulung di antara jalan-jalan sempit. Di atasnya, gapura kayu besar dengan tulisan pudar "Selamat Datang" tampak seperti peringatan yang terlupakan, seakan menyembunyikan rahasia gelap di balik kata-katanya. Gaun tipisnya yang ketat berkilau di bawah sinar rembulan, belahannya menjulang tinggi menampilkan lekuk tubuhnya yang mempesona, namun juga memberi kesan penuh misteri, seperti makhluk yang terperangkap di antara dunia nyata dan dunia yang terlupakan. Rambut pirang kelabunya terurai longgar, bergoyang lembut seiring langkahnya, berkilau bak sutra halus yang tersentuh cahaya rembulan pucat. Mata birunya yang tajam melintas cepat di antara bayang-bayang, menyapu setiap sudut kota yang terbungkus kabut, mencerminkan kewaspadaan yang mendalam. Meski begitu, paras cantiknya tetap dingin tanpa jejak emosi, seakan ia adalah bagian dari malam itu sendiri, sebuah sosok yang datang untuk menguji rahasia tersembunyi di balik kabut Ravenstead.

Kedai The Moonlit Veil, bangunan yang lebih kokoh dibanding rumah lain di distrik itu, menjadi tujuan pertamanya. Sebuah papan kayu dengan ukiran wajah bulan setengah pudar menggantung di pintu masuk seakan mengundang siapapun yang berani mendekat. Dari dalam, terdengar suara gelak tawa dan percakapan riuh. Namun, begitu perempuan itu membuka pintu, suara itu langsung mereda, seolah kehadirannya menyerap segala suara serta suasana dan menggantikannya dengan keheningan penuh makna.

Kehadirannya disana memantik perhatian para wanita di sekitar dengan cara yang tak bisa dijelaskan. Beberapa diantaranya saling bertukar pandang setelah mencermati penampilannya yang cukup terbuka, sementara udara Ravenstead yang dingin justru membuatnya tampak mencolok. Suasana sempat tegang, namun tak lama berubah menjadi bisik-bisik yang merayap di antara meja-meja. Perempuan itu tetap tenang, seolah tak terganggu, matanya terfokus pada deretan botol minuman keras di hadapannya.

"Apa yang kau inginkan, nona?" tanya Myra, pelayan muda dengan rambut cokelat pendek dan wajah polos, suaranya sedikit gemetar saat menghampiri meja perempuan itu.

"Minuman hangat. Apapun yang kau punya," jawabnya singkat tanpa menoleh.

Tak lama kemudian, Myra kembali dengan sebuah cangkir hangat di tangannya. Perempuan itu menerimanya deangan satu gerakan ringan, lalu meneguknya perlahan. Matanya tertuju pada ukiran halus pada gelas yang membuatnya terpesona, setiap garis dan detailnya seolah bercerita, menarik perhatian perempuan itu lebih dari sekadar isi gelas di tangannya.

Perhatian perempuan itu segera teralihkan oleh suara tawa riuh dari meja di tengah ruangan. Di sana, sekelompok wanita tampak berkumpul, bercanda dan tertawa sambil mengelilingi seorang pria yang duduk di tengah-tengah mereka, seperti raja di antara pengikutnya. Rambut hitam pekatnya dipotong pendek di sisi dan dibiarkan lebih panjang di atas, dengan poni yang sengaja dibiarkan berantakan. Kemeja putihnya terbuka di bagian atas, memperlihatkan lehernya yang kuat dan kulit pucatnya. Mata elangnya yang berwarna tembaga keemasan tampak tajam, meneliti setiap gerakan orang di sekitarnya, meskipun senyumnya dingin dan tak terjangkau.

"Draven," ujar Lila dengan nada menggoda, matanya tak pernah lepas dari sosok pria itu. Lila—Seorang seorang wanita dengan rambut merah mencolok yang dikenal sebagai wanita paling agresif di distrik ini. "Aku bisa menemani mu kemana saja, kau hanya perlu mengajak ku." rengek nya sambil melangkah lebih dekat, tangan lembutnya menyentuh dada bidang Draven. Namun, Draven menepis tangan itu, ekspresinya tetap datar, seakan tak ada yang istimewa.

"Draven, kau tak bisa terus mengabaikan Lila begitu saja," seru wanita lain, disertai tawa riuh dari kelompok itu.

Di sudut ruangan, perempuan berambut pirang kelabu itu mengamati. Mata tajamnya terfokus pada Sang Ravenstead—Draven Eldric. Ia mengangkat alis, mendengus kecil sambil meminum minumannya. Namun saat ia menoleh kembali, tatapan tajam Draven sudah mengarah langsung padanya. Mata mereka bertemu, dan dunia terasa hening sesaat. Draven menatapnya seperti seseorang yang baru saja menemukan teka-teki yang menantang. Perempuan itu tidak terintimidasi, dan balas menatapnya dengan dingin.

Ketegangan itu terputus saat Draven tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya dan beranjak pergi tanpa sepatah kata pun. Perempuan itu tergerak oleh dorongan tak terjelaskan, segera berdiri dan hendak melangkah menuju pintu. Namun langkahnya terhenti saat seorang pria muda bernama Thomas, pandai besi distrik, menghampirinya. Dengan tubuh kekar dan wajah penuh percaya diri, Tomas membungkuk sedikit dan berkata, "Maaf mengganggu, nona. Aku Thomas. Jika kau butuh bantuan, aku akan dengan senang hati melakukannya."

Peremuan itu hanya tersenyum tipis pada Thomas.
"Terima kasih, Thomas," jawabnya singkat. "Tapi aku belum membutuhkan bantuan sekarang."

Meskipun tersenyum, Tomas tampak sedikit kecewa. Ia membungkuk sekali lagi sebelum perempuan itu kembali melangkah menuju ambang pintu, namun Draven sudah menghilang, seolah ditelan oleh bayang-bayang malam yang menelan semua cahaya.

Perempuan itu menghela napas, seolah-olah beban yang tak terlihat menekan dadanya. Tepat saat ia berbalik, langkahnya terhenti oleh sosok yang tiba-tiba muncul dihadapannya. Seorang wanita tua dengan kerudung abu-abu, wajahnya dihiasi keriput yang dalam, mendekatinya dengan gerakan lambat namun pasti. Edlyn—penjaga rahasia Hutan Malam Abadi. Tangannya yang kurus dan bergetar terulur, menyentuh helai rambut pirang kelabu milik perepuan itu, seolah ingin memastikan kehadirannya nyata.

"Ku pikir kau hanyalah legenda, Edlyn." ujar perempuan itu, matanya memandang wanita tua itu dengan campuran keheranan dan rasa hormat yang mendalam. Ia mendakat sedikit, memberi ruang bagi Edlyn untuk meraba rambutnya, yang bagai memancarkan cahaya lembut.

"Ada bahaya di tempat ini, nona muda," suara Edlyn terdengar seperti bisikan angin, lembut namun tajam seperti pisau. kata Edlyn dengan suara lembut tetapi penuh peringatan. "Hutan ini tidak akan memaafkan siapa pun yang datang tanpa alasan."

Perempuan itu menatap Edlyn dengan mata yang tak bergeming. "Aku tidak takut, Edlyn," jawabnya, suara itu dipenuhi tekad, meski lembut, seolah manantang setiap bayangan yang terlintas dalam gelapnya malam. "Dan aku punya alasan untuk berada di sini."

Edlyn tersenyum samar, senyum yang lebih banyak meniympan kesedihan daripada kebahagiaan. Ada sebuah kedalaman yang tak bisa diterjemahkan dalam ekspresi itu, seperti sebuah kisah laa yang terlupakan namun tetap membekas. "Kegelapan akan menjemput mu, nona Selene Ravenshade." katanya, suara itu membawa keheningan yang menekan. "Kegelapan yang tak akan berhenti hingga ia menguasai segalanya darimu—termasuk dirimu."

Kata-kata Edlyn seperti duri yang menusuk di antara hati dan akal sehat Selene. Belum sempat membuka mulut untuk membalas, Edlyn sudah berjalan menjauh. Langkahnya yang lemah namun penuh makna meninggalkan aroma teh herbal yang samar, seolah jejak masalalu yang tak bisa dilupakan. Selene terdiam, matanya terpaku pada punggung wanita tua itu, menyadari bahwa Edlyn tidak hanya mengetahui namanya--tetapi juga marga asli keluarganya. Sesuatu yang lebih dalam, lebih gelap, seolah telah mencatat setiap jejak kehidupannya.

Di atas kuil yang berdiri megah di depan kedai, di balik bayangan yang melingkupi bangunan itu, Draven mengamati dengan penuh misteri. Matanya, yang begitu tajam seperti pisau, tak lepas dari pergerakan Selene. Ia tahu lebih banyak daripada yang diinginkan Selene untuk ketahui, dan jauh di dalam hati, sebuah rencana diam-diam mulai terjalin, menunggu saat yang tepat untuk terungkap—tanpa Selene sadar sedikit pun.

***

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 30, 2024 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Eternal Night : Legends Of RavensteadStories to obsess over. Discover now