More Than That

53 9 0
                                        

“Hari ini jauh lebih ramai pengunjung. Kuharap situasi ini akan terus seperti ini untuk waktu yang lama.”

Dalam balutan kemeja putih lengan pendeknya yang berpadu dengan bawahan berbahan kain berwarna hitam, pria yang berusia 27 tahun dengan surai pirang putih terangnya masih berdiri di tempatnya. Tepat di balik meja kasir yang berada di sudut ruangan berukuran 20x20 meter persegi itu.

Nuansa putih yang terpancar dari sorot lampu neon dalam ruang tampak berbaur dengan corak lantai berwarna kecokelatan yang membentuk beberapa bilik. Sengaja pemilik kedai mengusung tema makan duduk di lantai dengan meja persegi panjang yang tingginya mungkin hanya sebatas di bawah dada. Tidak terlalu tinggi maupun rendah, akan tetapi terbilang pas.

Namun, sang pemilik juga menyediakan meja dan juga kursi dengan model klasik berukuran cukup untuk kapasitas ruang tersebut. Sehingga mau yang mana pun, sebisa mungkin tetap ada pilihan bagi para pengunjung.

Terlebih letak bangunan tersebut yang begitu dekat dengan sisi pantai, suara nyanyian debur ombak mengiringi bak lantunan musik klasik. Meski sang pemilik kedai juga memutar musik dengan alunan yang lembut itu.

Sedangkan yang diajak bicara, tampak sibuk dengan alat-alat pembuat kopinya. Memasukkan bubuk creamer  tepat di atas permukaan cairan espresso buatannya. Tidak hanya aroma yang menguar. Namun, dinginnya atmosfer pada malam hari itu, memberikan penyegaran di tengah penatnya pekerjaan mereka.
Dan setelah selesai, sosok itu tiada diduga menyuguhkan secangkir espresso buatannya secara cuma-cuma. Kali ini menyunggingkan senyum hangat seraya menimpali.

“Aku juga berharap demikian. Nah, untukmu dan nikmatilah. Seharian ini kau sudah membantuku tanpa mengambil waktu istirahat. Dari pada rokok, kupikir kopi juga sama kuatnya dengan nikotin. Aku tidak akan mengguruimu. Tapi kau tahu benar merokok sama sekali tidak baik untuk kesehatan, Ell. Jadi merenunglah.”

Tanpa sadar sebelah alis pria yang dipanggil Ell itu terangkat. Turut menghadirkan guratan samar yang kini mengisi tepat di tengah glabela. Bukan sekali dirinya mendengar perhatian sang kakak ini. Meski cukup kesal juga saat diceramahi seperti ini.

“Cih. Selalu saja. Dari pada memikirkan aku yang merokok atau tidak, kenapa kau tidak sekali-sekali mencoba untuk menghabiskan waktu seperti pengunjung yang berada di sebelah sana?”

Ell menggunakan dagunya guna menunjukkan arah. Dan tanpa diminta, sosok yang diajak bicara itu justru turut menoleh. Mendapati sepasang kekasih yang tampak menghabiskan waktu bersama.

Sungguh pemandangan yang cukup mengundang rasa nostalgia. Atau lebih tepatnya, perasaan rindu yang entah sudah berapa tahun dia lewatkan. Terakhir kali, dua tahun setelah mengikuti wajib militer untuk negara Dieffendianthus, aktivitas fisik yang berat cukup mampu menghalau sekaligus menekan perasaan murninya itu.

Namun, selama itu, dia juga merenungi akan apa yang telah diperbuatnya. Sepertinya kata penyesalan jauh lebih mampu mendeskripsikan segalanya. Meski untuk itu sepertinya dirinya tidak perlu berlarut ke dalam hal yang membuatnya merasakan denyut nyeri. Walau sejujurnya, hatinya tetap mengakui hal tersebut. Kesalahan fatal yang turut mengekang batinnya.
Pria bersurai gelap sepekat malam itu hanya menarik napas dalam. Segera mengingkari apa yang sejujurnya sangat mengusik itu.

“Kau tahu benar apa yang terjadi pada keluarga kita Ell. Jadi berhenti membuatku terjebak dalam perasaan bersalah tersebut.”

Ell mengangguk. Sangat mengerti akan pernyataan itu. Terlebih ekspresi sang kakak, sungguh Ell menyadari benar akan hal tersebut. Dan dengan ringan tanpa adanya ingin menyinggung, Ell menimpali dengan datar.

“Ya. Meski sikapmu terakhir kali sungguh begitu kejam. Aku tidak tahu kau menyadarinya atau tidak. Tapi apa kau tahu ... dia datang saat kau keluar dan menuntaskan tugas negaramu, Kak?”

More Than ThatStories to obsess over. Discover now