Apa jadinya jika seorang rakyat biasa tiba-tiba dijemput dengan kereta kuda mewah dan diberitahu bahwa dia adalah putri raja? Itulah yang dialami Seraphine Grish, seorang gadis biasa yang hidup sederhana, tak pernah tahu bahwa darah kerajaan mengali...
Seraphine membuka matanya perlahan, merasa seolah dunia menginginkan agar dia tetap terjaga. Pagi yang cerah dari balik tirai jendela kamar istana tampaknya tidak bisa mengubah suasana hati gadis itu. Sudah empat hari sejak kedatangannya ke istana, dan setiap hari terasa semakin melelahkan.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Kamar tidur yang luas dan mewah di istana tidak membuat Seraphine merasa nyaman. Semua terasa asing, dan yang lebih mengganggu, semua orang di sekitar tampak sangat sempurna dalam cara mereka menjalani hidup mereka. Tidak ada kebebasan, tidak ada keceriaan, hanya jadwal yang menunggu untuk dipenuhi.
"Selamat pagi, putri Seraphine," suara pelayan yang masuk ke dalam kamar memecah keheningan. Charlotte hanya menggerakkan tangannya sedikit, seolah memberi izin untuk mulai mengurusnya. Pelayan itu, Clara, dengan sigap membuka tirai dan menata tempat tidur.
Seraphine menguap panjang, matanya masih setengah terpejam. "Apa yang harus aku lakukan hari ini?" tanyanya, suaranya serak dan malas. Keinginan untuk tidur lebih lama terasa begitu kuat.
Clara tersenyum lembut, meski Seraphine tahu senyum itu tak lebih dari sekadar kewajiban. "Hari ini ada pelajaran sejarah, putri. Anda harus siap-siap."
"Sejarah lagi..." Seraphine menggerutu dalam hati, merasa tidak bersemangat sama sekali. "Kapan semua ini selesai?"
Clara memulai rutinitas pagi hari, membawa pakaian yang telah dipilihkan untuk Seraphine. Sebuah gaun kerajaan yang mengkilap, yang terasa begitu berat untuk dikenakan. Tanpa mengatakan apa-apa, Seraphine bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.
Setelah beberapa menit, Seraphine keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang setengah basah, dan seorang pelayan lain, yang sudah menunggu dengan penuh kesabaran, segera membantunya memakai gaun yang rumit. Sementara itu, Clara sudah mempersiapkan korset yang harus dikenakan oleh Seraphine-sebuah korset yang tampaknya bisa membuatnya tercekik.
" Anda harus mengenakan ini dulu," ujar pelayan itu, menyodorkan korset yang tampaknya lebih besar dari tubuh Seraphine sendiri.
"Kenapa aku harus mengenakan ini?" Seraphine memandang korset itu dengan ragu. "Aku sudah merasa terjebak di sini, kenapa harus menambahnya dengan benda ini?"
Clara tersenyum dan mulai mengencangkan tali korset di belakang tubuh Seraphine, yang langsung merasa tubuhnya terhimpit. "Ini untuk membuat tubuh Nona terlihat lebih ramping, agar lebih cocok dengan gaun kerajaan."
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Seraphine menghela napas, merasakan sesak di dadanya. "Aku rasa aku bisa jadi patung dengan ini."
Pelayan lainnya yang datang untuk menata rambutnya ikut tertawa pelan. "Nona, Anda akan terbiasa. Ini hanya untuk sementara."
Seraphine hanya mengangguk lemas, namun hatinya terus bertanya-tanya: apakah semua ini benar-benar perlu? Bukankah hanya sedikit kebebasan yang dia butuhkan? Tapi dengan segera, dia menyadari bahwa kebebasan bukanlah sesuatu yang akan didapatkan begitu saja di istana ini.
Setelah korset terpasang dan rambutnya diikat rapat, Seraphine merasa lebih seperti boneka hidup daripada seorang putri. Ia berjalan ke ruang makan, diiringi oleh pelayan yang membawa sepiring sarapan yang lebih tampak seperti hiasan daripada makanan yang bisa dinikmati.
Pagi itu terasa seperti mimpi buruk yang tak berkesudahan. Makanan yang disajikan hanya membuatnya lebih merasa terasing. Saat sarapan selesai, Clara mengingatkan Seraphine tentang jadwal berikutnya.
"Pelajaran sejarah dimulai pukul sembilan, Nona."
Seraphine melangkah dengan langkah berat menuju ruang belajar, setiap langkahnya terasa semakin berat. Ruang itu dipenuhi dengan buku-buku tebal dan meja panjang yang tampaknya hanya akan menyiksa kepalanya dengan pelajaran yang tak ada habisnya.
Tentu saja, pelajaran sejarah kerajaan dimulai dengan penuturan panjang tentang garis keturunan, perang, dan takhta. Seraphine hanya duduk, merasa setiap menit yang berlalu seperti bertambah panjang. "Kenapa aku harus tahu semua ini?" pikirnya, merasa dunia ini tidak pernah memberinya ruang untuk diri sendiri.
"Tuan, Putri Seraphine, Anda harus memahami sejarah kerajaan agar bisa menjalani peran Anda kelak," ucap tutor yang sedang mengajar dengan suara yang begitu serius.
Seraphine hanya bisa tersenyum kecil, merasa lebih terkurung dari sebelumnya. "Kenapa semua ini terasa seperti beban, bukan pelajaran?" gumamnya pelan.
Hari itu berakhir seperti hari-hari lainnya-penuh dengan tugas dan aturan yang tak ada habisnya. Seraphine berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar yang tinggi. "Aku ingin pulang," pikirnya, meski dia tahu itu tidak mungkin. Hari ini dan besok akan sama. Tidak ada yang bisa mengubah kenyataan bahwa dia sekarang adalah bagian dari dunia yang sama sekali tidak dia kenal.
---
Cerita aku ini. juga ada di fizzo tapi lebih panjang judulnya Seraphine:The lost heir.