Atualizamos nossas Diretrizes de Conteúdo.
Consulte as diretrizes mais recentes para continuar compartilhando histórias com segurança.

1.1

6 0 0
                                        

Tolong dengarkan lagu Ocean Eyes - Billie Eilish sambil membaca SongFic ini








***




Desa kecil yang indah di dekat lautan. Semua masyarakat disana sangat bergantung pada laut. Semua olahan serta hidangan selalu berhubungan dengan laut. Tak jarang banyak pengembara menghampiri desa kecil itu, sekedar untuk menikmati indahnya ataupun berdagang.

Desa yang hanya terisi oleh 50 rumah dengan atap kerucut serta perbukitan dandelion yang terbentang, dimana setiap musim panas dandelion akan terbang memenuhi langit.

Cuaca sangat cerah hari itu, Calen Sylastian, seorang pemuda berusia 28 tahun menjadi penjaga mercusuar. Pekerjaan yang keluarganya lakukan selama turun-menurun. Calen tentu senang bisa dekat dengan laut, baik malam ataupun siang hari. Menjaga terangnya lampu mercusuar untuk membantu penerangan nelayan di malam hari.

Calen kini hidup sebatang kara. Kedua orangtuanya telah tiada ketika badai menghantam desa 10 tahun yang lalu. Hal semacam badai tentu terjadi setiap tahunnya akibat musim yang berganti, namun semakin tahun badai semakin mengerikan. Kepala Desa meminta masyarakat untuk mulai bergerak pindah ke bukit. Namun, Calen bersikeras tetap berada di mercusuar, dengan ingatan tentang kepergian orangtuanya ia tak mau hal serupa terjadi kepada penduduk lain.

"Apa kabar, Calen? Duduklah, Nak, biarkan Bibi siapkan semangkuk sup hangat untukmu."

Calen tersenyum. Semua warga di desa sangat baik pada dirinya, semua orang ikut kehilangan saat tahu bahwa kedua orangtua Calen telah tiada dibawa ombak.

"Kau sudah dengar desas-desus di desa?" tanya Bibi Helen, ia pemilik kedai sup ikan terbaik di desa. Suaminya ikut menjadi korban pada saat badai 10 tahun yang lalu.

"Apa itu, Bibi?" tanya Calen sambil menghirup supnya.

"Seorang gadis telah tinggal di rumah tua atas bukit. Sepertinya dia sendirian. Beberapa kali warga desa menemukannya menangis tergugu di balkon rumahnya."

Calen terhenti. Tidak sekalipun ia melihat gadis di desa seperti yang Bibi ucapkan. "Bagaimana ciri-cirinya? Apakah dia pendatang baru?"

"Kurasa tidak. Dia warga lama, entah bagaimana ia bertahan di rumah tua itu sendiri hingga beranjak belia baru terlihat. Rambutnya sewarna sinar mentari dengan manik biru langit, ia juga senang mengenakan gaun sewarna laut. Kau mungkin akan sering melihatnya karna rumah tua itu berada dekat dengan mercusuar," ucap Bibi Helen yang tengah mengelap mangkuk basahnya.

"Baiklah, Bi."

Calen tidak ingin ambil pusing. Kejadian 10 tahun yang lalu benar-benar mengguncang kejiwaan semua orang. Bahkan, banyak yang takut untuk kembali melaut.

***

Desir angin menghantam lembut kulitnya dengan aroma asin khas laut. Tepi pantai hampir ia injak ketika tubuhnya tersentak dan melangkah mundur ketakutan. Matanya bergerak gelisah. Bunyi debur ombak seakan semakin besar. Tubuhnya bergetar dan mulai berlari menjauh. Tangisnya ikut pecah beriring dengan ia berlari.

Sampai kapanpun bentang air itu akan selalu menorehkan hal menyakitkan dalam hatinya. Semakin ia mencoba semakin ia sadar bahwa kemungkinan untuk kembali menikmati bentangan air itu terlalu mustahil.

Tubuhnya terdorong hingga jatuh ke rumput, beruntung tidak ada batu disana yang dapat melukai dirinya saat jatuh. Matanya yang penuh airmata tak dapat fokus menatap objek di depannya yang tampak terkejut.

"Kau baik?"

Ia menggeleng. Siapa yang bisa baik-baik saja ketika kau harus berhenti menyukai apa yang kau sukai. Mimpimu dihancurkan oleh hal yang kau sukai.

The Glass WindowHistórias para pegar e não largar. Descubra agora