Chapter 1: Prolog

18 1 4
                                        

"Ini..."

Gigi terkatup begitu keras hingga terasa bisa hancur kapan saja.

Kepalan tangannya mengencang hingga memerah oleh darah.

Tubuh gemetar tak terkendali, bergetar karena emosi.

Amarahnya begitu besar hingga mampu membuat rambutnya memutih.

Merah. Segalanya merah. Semua yang tampak di depan matanya berlumur darah.

Puncak gunung yang hijau subur kini berubah menjadi merah darah; keindahannya tersapu dalam satu hari.

Kematian. Sekarang yang tersisa ditempat ini hanyalah kematian.

Apa tujuan semua pertumpahan darah ini?

Cheong Myeong mencengkeram gagang pedang yang tertancap dibahunya, mencabut bilah Pedang Plum Blossom yang telah patah.

Lengan kirinya hilang-hanya tersisa robekan lengan bajunya yang berkibar di tiup angin. Kakinya tak terluka, namun ia nyaris tak bisa bergerak. Perutnya menganga dengan lubang sebesar kepala bayi.

Namun, Cheong Myeong tidak merasakan sakit.

Rasa sakit di tubuhnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan gejolak yang melanda hatinya.

"...Kakak seperguruan ketua sekte." Dia menemukan jasad Jang Mun, kepala Sekte Hwasan, yang tergeletak tak bernyawa.

Kenapa ini begitu tidak adil? Mengapa para korban bahkan tidak dapat menutup mata mereka dengan damai?

"Adik seperguruan..." Tubuh terbelah adik seperguruan Chung Gong terus menghantui pikirannya.

"Para murid, kakak dan adik seperguruan..."

Semua orang telah mati. Para pemuda terbaik dan yang paling cemerlang dari Sekte Hwasan, yang berjanji untuk mendaki puncak bersama, menjaga wilayah mereka, dan menyebarkan nama sekte mereka, kini telah pergi ke tempat dimana mereka tak bisa kembali.

Dan para murid mereka mengikuti mereka.
Cheong Myeong menggertakkan giginya.
Mereka berkorban dengan mulia. Kematian mereka adalah suatu kehormatan.

Namun siapa yang berani memuji kematian mereka? Siapa yang berani!?

Tatapan Cheong Myeong terkunci pada pelaku keji ini, sosok yang telah membangkitkan amarahnya yang tak terukur.

Iblis dari langit, pemimpin Sekte Iblis: Iblis Langit itu sendiri (Cheon Ma; Iblis surgawi).

Sosok hina itu duduk bersila di lautan darah dan kehancuran, tampak tenang meski dalam adegan neraka ini.

Namun, "ketenangan" tidak cocok untuk menggambarkannya sekarang. Puluhan pedang menembus tubuhnya, dan dua tombak mencabik perutnya. Semua orang telah mengorbankan hidup mereka
untuk menjatuhkan iblis itu.

Pertempuran antara pasukan terakhir, terdiri dari 20 sekte lebih termasuk sekte dari aliansi ajaran lama, unit militer terbaik yang terdiri dari para elit yang paling elit, melawan Iblis Langit berakhir dengan kehancuran total.

Apakah itu cukup memuaskan? Apakah para korban akan beristirahat dengan tenang?

Tidak, mereka tidak.

Dan walaupun mereka bisa, Cheong Myeong tidak. Dibutuhkan seluruh kekuatannya yang tersisa untuk menahan amarah agar tidak menguasai kewarasannya.

Mata kosong Iblis Langit perlahan terbuka, menatap langit biru.

"...Sekte Gunung Hua (Sekte Hwasan)." Tiga kata itu meluncur dari bibirnya. Kata-kata itu, kata-kata yang terpatri selamanya di hati Cheong Myeong, kini keluar dari mulut sang iblis.

Mount Hua SectWhere stories live. Discover now