CW: NSFW, fxf, fem!Sunaxfem!Osamu, lesbian, menstrual sex, mention of blood, a little bit AtsuOsa, twincest dan incest di akhir
Happy reading!
.
Hari itu Osamu memutuskan untuk tidak masuk ke sekolah sama sekali. Lantaran perutnya yang seperti ditempa beban sepuluh kilogram, dan rasa tidak nyaman yang menjalar hingga ke punggung dan pahanya. Pun, kepalanya juga ikut-ikutan nyut-nyutan. Sehingga saat berbaring sekalipun, rasanya seluruh isi kamarnya juga turut berputar.
Adalah Atsumu, saudara kembarnya yang maharibut dan maharibet, yang berinisiatif untuk menggedor pintu kamarnya. Membuatnya kaget bukan main meskipun jarum jam di atas mejanya masih menunjuk ke angka tujuh.
"Bangun, Samu! Ayo ke sekolah!" teriak kembaran jametnya tanpa merasa berdosa. Dia lantas menaikkan alis saat melihat Osamu sama sekali tidak beranjak dari tempat tidur sekalipun dia sudah membuat sensasi seakan rumah mereka dilalap api.
Osamu dalam lamatnya yang berjuang melawan panas, menggerung lemas. "Berisik, Tsumu, perutku sakit..." gumamnya seperti kucing di dalam kardus jeruk.
Saat itulah Atsumu sebagai saudara kembar yang baik, memutuskan untuk berteriak sekali lagi. Kali ini kepada ibu mereka tercinta. "Buuu! Samu sakit ngga masuk sekolah!"
Ingin sekali Miya adik mendorong kakak kembarnya keluar, tapi pahanya terasa seperti disengat. Jadi dia cuma menampakkan muka paling tidak nyaman seumur hidupnya sebelum mengusir Atsumu. "Keluar sanah, aku mau tidur!"
Begitulah, Osamu diberikan heating pad, cemilan, air dan obat-obatan yang cukup oleh ibunya. Atsumu sudah pergi ke sekolah duluan karena dia ada jadwal latihan voli, dan dia tidak berminat dipelototi Kita san pagi-pagi.
Awalnya Osamu merasa tidak nyaman memakai heating pad di perutnya, berburuk sangka benda itu akan terlalu panas untuknya. Tetapi ibunya memaksa, dan begitu dia mengenakannya, Osamu bersumpah untuk membungkuk berterima kasih pada siapa pun yang telah menciptakannya.
Benda itu cukup hanya ditempel di pakaiannya, sungguh ajaib dengan panas yang pas. Tidak kurang, tapi juga tidak terlalu panas yang berakhir membuat perutnya kesakitan. Nyaman dipakai dan gampang dilepas kalau panasnya sudah berkurang.
Osamu terlalu lelah untuk duduk dan berjalan menuju toilet. Dia punya persediaan pembalut di sana. Hanya saja toilet itu berada di ujung lorong dan dia harus melewati kamar Atsumu sebelum bisa menuju ke sana.
Maka bungsu keluarga Miya mengambil ponselnya, mencari aplikasi LINE dan menemukan nama Suna.
Rin, beliin pembalut dong.
Entah kebetulan saja sedang istirahat siang, atau memang Suna Rin sedang gabut saja sehingga balasan pesannya sampai tak kurang dari sepuluh detik kemudian.
Mau yang tipe apa?
Yang celana.
Atsumu?
Mana paham dia, yang ada nanti dia beliin popok buat nenek-nenek.
Osamu bisa membayangkan Suna tertawa di depan ponselnya. Suna tidak segera membalas, tapi mengirim voice chat sederhana dengan "oke" sebagai balasan singkat. Remaja tanggung itu melihat layar yang terakhir kali menunjuk angka jam tiga belas sebelum jatuh tertidur.
Ketika Osamu terbangun, semua sudah berantakan. Suna Rin menggoyang bahunya pelan-pelan, tanpa sadar membuat tulangnya seperti retak. Itu dan semuanya membuat tubuhnya jadi terasa serapuh jeli.
Lembut suara Suna terasa seperti di awang-awang. Lantas Osamu mengerjap dengan mata seperti dijatuhi kepingan kaca, berat dan kabur. "Rin, kok di sini?"
YOU ARE READING
Bulan Merah
FanfictionOsamu tidak masuk sekolah hari ini, sebagai teman yang baik, Suna menjenguknya. /GL, fxf, fem!Sunaxfem!Osamu, incest dikit di akhir/
