1. Spotlight

29 6 0
                                        

~o0o~

​"Di mana?"

​Suaranya sendiri terasa asing, pecah dan tertelan oleh keheningan yang solid. Jisung menroleh ke sekeliling, namun netranya hanya membentur dinding kegelapan pekat yang seolah memiliki massa, mengepungnya dalam satu lingkaran lampu sorot yang dingin. Ia merunduk, memandangi kedua kakinya yang lunglai-dua onggok daging tak bernyawa yang menolak diperintah. Telapak tangannya menekan permukaan semen yang lembap dan kasar, menyalurkan rasa ngilu yang merambat naik ke bahunya.

​"Ternyata lo tuh aslinya kayak gini, ya?"

​Sebuah siluet pria berdiri menjulang tepat di perbatasan cahaya, memandangnya dengan gestur merendahkan yang literally membuat udara di sekitar Jisung mendingin. Jisung mendongak, matanya yang pedih berusaha menangkap fokus wajah di depannya.

​"Hah... Apaan sih?" Napasnya tersengal. Entah bagaimana, indera jahanamnya menangkap aroma busuk dari kebencian yang menguap, sebuah polusi bagi hidungnya yang terbiasa dengan kemewahan Dior Sauvage miliknya sendiri-aroma bergamot dan sichuan pepper yang tajam kini terasa seperti besi berkarat di pangkal lidahnya.

​"Gak usah deketin gue lagi. Ogah gue urusan sama orang gay kayak lo..." ​

Siluet lain muncul, memunggunginya. Jisung bisa merasakan penolakan itu bukan hanya dari kata-kata, tapi dari aura dingin yang terpancar dari bahu tegang sosok itu.

'​Bentar, ini...' Benaknya mulai menyulam kepingan realitas yang pahit. Ia menarik rambutnya sendiri, merasakan sensasi perih yang nyata di kulit kepala saat helai rambutnya tertarik kencang. Apakah mimpi buruk ini beneran manifestasi dari ketakutannya?

​"Lo tuh gak normal... Jijik, tahu gak?"

​Sosok lain berjongkok tepat di depan wajahnya. Jisung terjengit, jantungnya berdentum keras menghantam rongga iga saat ia menangkap kilatan kebencian di mata yang tak berbentuk itu.

​"Orang kayak lo tuh gak seharusnya ada di dunia ini. Ibaratnya, lo tuh cuma polusi buat manusia..."

​"Sebenernya nih orang-orang sape sih?!"

Jisung mengerang, suaranya parau. Alisnya bertaut rapat, berusaha mencari celah oksigen di tengah kepungan intimidasi ini. Namun, cacian itu terus datang bertubi-tubi, terasa seperti sayatan tipis yang berulang kali mengenai titik saraf yang sama hingga ia terpaksa menutup telinganya rapat-rapat.

​"Kamu bikin Mama kecewa, Nak..."

​Suara itu lembut, namun dampaknya lebih destruktif daripada makian mana pun. Jisung tersentak, memutar tubuhnya hingga sendi pinggangnya berderit protes. Di sana, ibunya berdiri tegak dengan keanggunan yang membekukan. Gaunnya yang jatuh sempurna dan wajahnya yang tanpa celah disertai raut muram, bersanding dengan sang ayah yang berdiri kaku bak pilar batu.

​"Ma... ma...?" lirih Jisung. Lidahnya terasa kelu.

​"Aniya! Mama, ini gak kayak gitu! Please, dengerin aku dulu!" Ia berseru panik. Tangannya menggapai ke depan, berusaha menangkap kehangatan yang biasanya terpancar dari sosok itu, namun yang ia temukan hanyalah hampa.

​"Apa pun alasan kamu, kamu udah nipu Mama sama Papa..."

​Mata bulat Jisung bergetar hebat, menyaksikan dunia idealnya runtuh. Rasa takut itu literally terasa seperti cairan merkuri yang dingin, mengalir di pembuluh darahnya dan melumpuhkan jantungnya. Ia merangkak dengan lutut yang bergesekan kasar dengan lantai, mencoba mencapai mereka, namun sosok itu memudar, menjauh seiring dengan langkahnya yang putus asa.

Flavors (Stray Kids x Han) (Harem Edition)Stories to obsess over. Discover now