Ada kalanya perasaan suka atau tertarik bisa muncul secara tiba-tiba, tanpa diminta bisa hadir begitu saja. Mungkin itu yang sedang dipikirkan Julio terhadap Abangnya kali ini. Terlampau paham dengan tabiat Maraka kadang juga buat kepala Julio berat.
"Bang, stop lihatin temen gue kayak gitu lagi ya!" Julio menggerutu sambil menutup pintu mobil sedikit agak kencang. Dia jengkel setengah mati, pasalnya Maraka yang notabennya Abangnya itu bertingkah aneh ketika bertemu dengan teman-teman semasa kuliahnya dulu.
Maraka yang diprotes seperti itu ya santai saja, tidak ada beban berarti yang membuat dia harus mempertimbangkan perkataan Julio tadi. Toh, apa salahnya naksir sama temen adiknya itu? Tidak ada, kan? Maraka juga manusia normal yang punya perasaan tertarik kepada orang lain.
Julio mendengus kesal, kakaknya itu benar-benar buat dia pusing. Bagi Maraka ini bukan hal penting tapi bagi Julio ini berbeda! Jelas saja, dulu Maraka juga sempat tertarik dengan teman semasa kecil Julio, Katrina namanya. Maraka seperti budak cinta apabila sudah dihadapkan oleh perempuan blasteran Rusia itu. Sayang seribu sayang, Maraka harus menelan pahitnya kenyataan karena ternyata Katrina tidak pernah menganggap Maraka lebih dari sekadar kakak dari teman masa kecilnya, segala perhatian Maraka yang diberikan kepada Katrina tidak pernah menarik hati perempuan itu.
Sekoyong-koyong Katrina justru menerima dengan baik laki-laki yang katanya sudah direncanakan untuk dijodohkan oleh ayahnya, sekarang Katrina sudah hidup bahagia dengan suaminya di China. Sedangkan Maraka? Entahlah, sudah dua tahun berlalu tapi Maraka seperti tidak punya gairah untuk menjalin asmara lagi.
Baru tadi Julio bisa melihat binar mata Maraka kembali hidup ketika bertemu dengan Hesa, teman satu kelas Julio ketika mereka masih kuliah dulu. Hesa Galuhpati namanya, Julio akui Hesa memang semakin cantik dari terakhir mereka bertemu, sekitar empat tahun yang lalu saat wisuda kelulusan mereka.
Hesa sendiri merupakan teman dekan Nala, kekasih Julio sejak mereka masih semester dua. Iseng mengajak Maraka di acara reunian angkatan kuliahnya justru membuat Julio khawatir dengan Kakaknya itu.
"Kenapa sih, Yo? Abang cuma ngobrol sama Hesa lo udah marah-marah kayak gitu?"
Maraka ambil tas kerjanya di kursi belakang, melangkah untuk masuk ke dalam rumah, meninggalkan Julio dibelakang yang wajahnya masih menekuk jengkel.
"Bang, gue tau ya itu enggak cuma! Lo suka kan sama Hesa?" Tuduh Julio langsung, sambil mengejar Kakaknya yang sudah memutar kunci untuk membuka pintu utama kediaman mereka. Hari sudah sangat larut, hampir menyentuh tengah malam, Maraka yakin Bubu dan Ayah juga sudah terlelap, untuk itu dia inisiatif membawa kunci cadangan ketika Julio tadi pagi tiba-tiba mengajaknya untuk ikut acara reuni angkatan kuliahnya.
Maraka tahu acara anak muda seperti ini tidak akan selesai cepat, bahkan mereka berdua saja pamit pulang lebih dahulu mengingat besok Maraka dan Julio masih harus turun ke lokasi untuk mengecek proyek terbaru mereka.
"Loh, asal tuduh aja, Masa udah buruk sangka sih sama gue Yo? Hesa itu nyambung tadi ngobrolnya sama Abang, baik juga itu anaknya" Ucap Maraka berusaha buat tenang menanggapi Julio yang menurut dia aneh. Sebenarnya Maraka males ngeladenin Julio yang enggak jelas kayak gini, sudah terlalu sering Julio was-was sama hal yang enggak penting.
"Halah, Lo itu lemah sama yang lembut kayak Hesa tadi. Enggak cowok enggak cewek kalo lembut pasti langsung tertarik kan lo? apalagi Hesa itu tipe lo banget. Bang, jangan suka sama temen gue lagi, udah cukup yang kemarin itu buat lo kayak orang gak punya gairah hidup ya!" Julio panjang lebar memperingati, menyinggung juga kejadian dua tahun lalu. Ya supaya Maraka lebih hati-hati lagi, dia enggak mau lihat Kakaknya itu kembali menjadi manusia yang enggak sayang sama dirinya sendiri karena patah hati.
"Kenapa ya ini? Kok anak-anak Bubu kayak lagi adu argumen dan bawa-bawa masa lalu? Abang itu adeknya kenapa, hm?" Belum sempat Maraka menjawab perkataan Julio tadi, Suara Bubu yang berasal dari dapur buat Maraka urung untuk membalas Julio, dia tatap Bubu yang berjalan ke arah mereka sambil bawa satu gelas air, kayaknya Bubu kebangun karena haus dan kebetulan mereka berdua baru tiba dirumah.
Cekcok kakak dan adik itu sedikit dilihat Bubu, sebagai orang tua Tian punya rasa penasaran. Apalagi Tian sendiri juga tau topik masa lalu yang dibawa Julio dalam percakapan mereka tadi.
"Julio aja Bu lebay, Abang enggak ngapa-ngapain tapi dia udah ngomel enggak jelas. Bubu tidur lagi kalau sudah selesai urusannya di dapur. Abang mau ke kamar ya, mau bersih-bersih terus tidur. Abang sayang Bubu". Maraka mengecup pipi kanan sang Bubu lalu melangkah menaiki tangga menuju lantai dua, lalu menghilang dibalik pintu kamarnya meninggalkan Bubu yang heran dan Julio yang masih berekspresi kesal.
Tian pandang Julio dan menghela napas pelan, dia usap pipi kanan Julio, anak keduanya itu. Baik Julio maupun Maraka, mereka berdua sama kerasnya, jadi Tian tau ini bukan masalah sepele. Julio dan Maraka sama-sama selalu mengutamakan keluarga, jika ada salah satu dari mereka yang jatuh, keduanya sama-sama peduli dan berusaha saling melindungi.
"Lio masuk ke kamar ya? Istirahat, besok masih kerja kan sayang? Abang kamu itu sudah dewasa, Julio harus percaya sama Abangnya ya? Sudah jangan terlalu dipikirkan, besok lagi saja. Sekarang masuk kamar, ya nak" Tian berucap sambil mengusap pipi kanan Julio lembut, menenangkan.
Julio hanya mengangguk lalu mecium pipi Bubunya sama seperti yang dilakukan Maraka tadi. Julio lalu berjalan ke kamarnya yang juga berada di lantai dua, tepat di samping kanan kamar Maraka. Mungkin benar ucapan Bubunya, mungkin dia hanya terlalu khawatir dengan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Yah, semoga saja bukan hal buruk selanjutnya yang akan datang.
Sementara Maraka sendiri, dia masih duduk diatas ranjangnya. Belum mengganti pakaian, masih menggunakan setelan kerjanya, dia mengamati figura foto yang berisikan Julio, dia dan Katrina yang tersenyum bahagia saat hari kelulusan SMA-nya.
Jujur saja sosok perempuan itu belum hilang sepenuhnya dari hati Maraka, bahkan Maraka sendiri juga masih bimbang, lalu kenapa Julio sebegitu kesalnya ketika dia hanya ngobrol dengan Hesa. Maraka akui Hesa memang baik dan masuk dalam tipe pasangan idealnya kalau kata Julio, tapi kan untuk tertarik Maraka sendiri juga belum tau isi hatinya.
Jadi apa yang dipermasalahkan Julio? Maraka taruh figura foto tersebut di meja nakas sebelah ranjangnya, masalah hati memang rumit. Biar nanti saja sebagaimana berjalannya waktu, Maraka juga belum mau memikirnkannya terlalu jauh. Tapi Maraka akui, Hesa memang manis.
Lelaki itu juga pintar dalam mengambil topik pembicaraan, atau Julio benar ya? Maraka sudah mulai tertarik? Memikirkannya saja buat Maraka enggak sadar senyum-senyum sendiri.
Atau memang belum sadar saja mungkin ya.
______
Halo halooo ini cerita pertamaku yaaa di akun ini, semoga kalian suka. Mohon beri dukungannya, serta kritik saran yang membangun yaaa untuk berkembangnya cerita ini supaya lebih baik lagi hihihi.
With love,
Ann
KAMU SEDANG MEMBACA
DIVE INTO YOU
Fiksi PenggemarBxb, strangers to lovers, markhyuck, romance. Bagaimana jika kali ini Maraka mendapat peruntungan luar biasa, meskipun seperti mengulangi kisah kelam untuk kedua kalinya?
