Padang rumput tak dikenal, di antah berantah.
Rembulan mengawasi para pengelana di atas kepala mereka, pada tengah malam. Ya, aku dengan kedua orang lainnya, berkuda melintasi padang rumput di kegelapan, aku tidak tahu apa kepentingan mereka pergi ke royal city namun aku tidak mempunyai pilihan lain selain bergabung dengan mereka, dan akan lebih berbahaya jika aku memilih untuk bergerak sendiri.
Esok pagi kami akan sampai di Terradharn, kota yang dikelilingi bukit dan pegunungan dimana aku akan memulai kehidupan baruku. Aku tidak mengerti bagaimana orang-orang ini bisa menunggangi kuda mereka sepanjang malam tanpa henti, karena rasanya setelah aku turun dari kudaku aku tidak akan bisa berdiri sama-sekali. Aku tidak begitu memperhatikan kemana arah kami bergerak, aku hanya mengikuti kedua orang ini, mereka mendengar bahwa di Terradharn ada sebuah serikat yang akan menerima orang-orang sepertiku. Berita seperti ini jarang terdengar, karena biasanya serikat-serikat diluar sana sangat ketat, tidak banyak yang menerima greenhorn sepertiku.
Serikat itu menamai sendirinya 'Forsaken' atau orang-orang yang terabaikan, terlupakan, ditinggalkan. Aku jadi penasaran siapakah orang-orang ini, dan mengapa mereka menamakan diri mereka seperti itu. Lalu, kedua orang yang berkelana bersamaku, tak jauh di depanku, yang memimpin adalah seorang pengelana serba bisa, ia menamai dirinya Dickie. Tidak banyak berbicara, yang keluar dari mulutnya hanyalah perintah. Kurasa sebelum melakukan hal ini ia dulunya adalah seorang pemimpin, seperti panglima atau sebagainya.
Lalu satu orang lagi di belakangku ialah Armas, berbanding terbalik dengan Dickie, Armas tidak pernah menutup mulutnya. Terkadang aku heran mengapa kami bertiga tidak tertangkap bandit atau mahluk dan kelompok lainnya. Armas selalu bercerita tentang perjalan-perjalanan yang ia lalui sebelumnya. Tapi menurutku, cerita yang dia lontarkan dari mulutnya terdengar seperti omong kosong, dan terlalu dilebih-lebihkan, karena kenyataannya ketika kami sesekali harus turun untuk berburu beberapa persediaan makanan, ia selalu fokus untuk menghindari hewan-hewan yang kami berusaha bunuh, yang tentunya sudah pasti mencoba menyerang balik untuk membela diri mereka sendiri sebagai mekanisme pertahanan.
Dan kemudian ada aku, namaku adalah Luce, atau setidaknya itulah nama yang aku pilih untuk diriku sendiri di luar sini. Diriku yang dulu telah lama pergi dan terlupakan. Jika aku tanyakan diriku sendiri apakah ini hal yang rasional dan masuk akal untuk dilakukan? Melarikan diri dari kehidupan yang pernah kumiliki, apakah masuk akal? Tentu tidak. Tapi semua orang pernah bermimpi untuk kebebasan, kebebasan dan petualangan, juga cerita baru, begitulah istilahnya... Dan keinginan itu ada termasuk pada gadis sepertiku. Tidak ada yang terlalu mencolok dariku, aku hanya seorang murid dari buku yang tidak diketahui, dan aku ingin mencoba pergi ke dunia luar. Aku hanya dibekali belati di pinggangku, tetapi hanya itu saja, sejauh keberanian membawaku.
Nah, untuk mereka berdua, aku tak tahu apakah aku bisa menganggap mereka sebagai teman, maksudku kami dulu pernah menjadi teman, dalam perjalanan ke Terradharn ini. Mereka bukan orang yang sama sekali tidak kukenal, aku tahu asal usul mereka, aku tahu siapa mereka. Tapi apa mereka sekarang? Dalam ambisi menuju kejayaan, mereka digelapkan oleh nafsu kekuasaan. Tapi ini adalah cerita untuk lain waktu, untuk saat ini kami sedang menuju Terradharn, rumah bagi Forsaken.
Matahari baru saja terbit di ufuk, di waktu fajar seperti ini, jika aku sendirian, aku akan menghentikan perjalananku untuk beristirahat sebentar di bawah pohon, dan hanya menikmati pagi hari, udara dingin, dan warna-warna yang merayap dari matahari terbit. Namun bagi mereka, orang-orang yang berambisi dan memiliki keinginan kuat, tidak ada yang bisa menghentikan mereka sampai mereka sampai di tujuan. Jadi aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti mereka.
Pegunungan telah terlihat, tidak jauh lagi. Ada banyak orang dari Terradharn yang dapat terlihat di sekitar area ini, orang-orang seperti tukang kayu dan penambang. Bahkan kau bisa melihat beberapa bangsawan berkeliaran di pagi hari yang dingin dengan udara segar ini.
"Hei! aku harus bertanya, Dickie. Siapa pemimpin serikatnya? Maksudku, namanya." Aku berteriak karena suara ketukan sepatu kuda-kuda kami terlalu keras dengan kecepatan seperti ini. Kadang aku bertanya-tanya apakah Dickie dan Armas pernah memaksakan kuda mereka melewati batas. Kasihan mereka.
"Zoider! Namanya Zoider!" Dia berteriak kembali dari depan, dia membalikkan tubuhnya ke arahku, menatapku tajam sebelum kembali ke posisi sebelumnya. Aku tidak pernah menyukai cara dia berbicara, atau cara dia menatapku, tapi aku tetap bertahan di dekat mereka.
Kami terdiam lagi, tidak banyak yang bisa dikatakan, atau ditanyakan... Atau lebih tepatnya, aku takut bertanya. Yang satunya suka sekali diam, dan yang di belakangku suka membuat segalanya tentang dia, yang mana aku sudah muak. Kami sudah bepergian selama berbulan-bulan dan aku sudah muak. Kurasa diam itu menyenangkan.
Gerbang Terradharn telah terlihat, ada penjaga di kedua sisi gapura dan aku tak sabar untuk berbaring di tempat tidur. Tubuhku yang lelah dan kudaku yang malang, orang-orang ini membuatku lelah, tetapi untungnya perjalanan ini hampir berakhir. Zoider, huh? Nama yang aneh. Kedengarannya seperti nama seorang raja. Aku penasaran siapa dia, apa kisahnya. Mungkinkah dia benar-benar seorang raja? Raja yang kerajaannya hancur dan melarikan diri untuk mencari orang dan tanah baru untuk diperintah?
Ada banyak pertanyaan di kepalaku saat kuda-kuda kami berhenti. Kami sekarang berada di kota Terradharn. Ramai dengan orang-orang, tetapi para penjaga tidak pernah mengatakan apa pun saat kami memasuki kota. Mungkin lebih baik seperti itu, tapi aku mulai merasa seperti aku bisa menjadi gila jika terus seperti ini dengan interaksi yang minimal.
Perhentian pertama, pasar. Ah, kenapa tidak tempat tidur yang bagus untuk perhentian pertama? Kami turun dari kuda dan menuntun mereka melewati pasar.
“Selamat datang, barang apa yang anda butuhkan?” Seorang penjual menyambut kami. Dia memang terlihat punya barang bagus, tapi itu bukan hal yang menarik bagiku. Namun, kedua pria yang sudah berkelana denganku ini sudah mengincar barang-barang.
"Oh Aku rasa aku tidak membutuhkan apapun... Tapi, apakah kamu tahu di mana penginapan di kota ini?" tanyaku kepada penjual itu, mengabaikan dua orang yang ikut bersamaku.
Tanpa menunggu lama, wanita itu pun membuka mulutnya, "Sebenarnya saya juga mengelola sebuah penginapan. Pendatang baru?" tanyanya.
"Ya. Kami baru sampai di kota ini, jika kau tidak keberatan, bisakah kamu menunjukkan padaku dimana penginapannya?" tanyaku, aduh aku terlalu lelah untuk melakukan hal lain.
"Ke arah sini," dia memberi isyarat, aku meninggalkan dua orang pria yang terlalu sibuk menikmati pemandangan senjata-senjata yang dipajang, si penjual atau lebih tepatnya, pemilik penginapan itu membawaku masuk ke dalam sebuah bangunan, sementara apa yang bisa ku tebak adalah seorang pekerja keluar untuk menggantikannya saat ini. Dan ada satu lagi yang membawa pergi kudaku, mungkin membawanya ke kandang. Yah, aku tidak peduli, aku bisa saja mencuri satu lagi jika kudaku hilang.
Saat kami di atas, aku membayar wanita itu untuk kamarku sendiri. Ah akhirnya, tempat yang layak untuk tidur. Aku mengunci pintu kamarku dan membiarkan diriku terjatuh ke tempat tidur. "Zoider huh?" Aku bergumam pada diriku sendiri, mengambil napas dalam-dalam.
Forsaken, kurasa aku akan menemuimu besok. Dan begitu saja mataku terpejam, tertidur tanpa mimpi, ke dalam kegelapan yang menenangkan.
