Seorang pernah berkata menuliskan sampai kau lega. Jika tak ada yang bisa kau ajak bicara, ajakalah dirimu sendiri bicara. Mungkin akan terdengar tidak masuk akal. Namun hal itu cukup mampu mengeluarkan suara emosi dalam diri. Tidak semua orang memiliki teman curhat yang benar. Kadang hubungan pertemanan atau saudara tidak sebaik itu. Tidak semua orang memiliki lingkungan yang baik. Tidak semua orang bisa bersosialisasi dengan baik. Ada kalanya beberapa orang terlalu
Takut, khawatir, tidak pede, merasa tidak bisa, merasa kurang. Selalu mempertanyakan mengapa aku berbeda. Mengapa aku tidak bisa. Mengapa Tuhan beri aku jalan yang seperti ini. Agaknya hidup yang tengah aku jalanipun begitu. Teman hilir mudik berganti. Selalu permasalahan yang sama, pertemanan. Entah aku yang kurang beruntung atau Tuhan yang menakdirkan begitu. Katanya dalam hidup kita perlu bersyukur, bersabar dan ikhlas. Ketika kau mendapatkan nikmat, maka bersyukurlah. Ketika mendapat cobaan bersabarlah. Dan jika kehilangan, ikhlaskan. Ikhlaskan yang seharusnya memang bukan milikmu.
Bukankah jodoh, rezeki itu takdirnya? Lantas mengapa pernikahan harus menjadi hal yang seolah wajib. Di usia akhir kepala dua ini, membuat para perempuan menjadi minder. Apakah aku akan tetap diterima oleh masyarakat. Apakah aku bisa bertahan dalam pusaran arus ini. Apakah jalanku ke depan akan baik-baik saja. Bisakah aku berguna bagi orang disekitar. Apakah ada yang merindukanku. Apakah aku cukup berharga untuk dicari dan ditunggu?
Benar kata orang rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau. Apakah itu artinya kita kurang bersyukur? Aku bersyukur bahkan sedari awal aku sadar tentang diriku, keluargaku, aku selalu paham apa yang boleh dan tidak boleh aku lakukan. Hingga membuatku takut untuk melangkah, takut memulai sesuatu. Karena pada akhirnya aku akan gagal.
Perasaan iri pada orang lain selalu ada. Karena aku tahu, aku tidak bisa mendapatkannya. Kenapa orang bisa dengan mudahny mendapatkan hal-hal yang baik. Sementara aku harus berjuang dengan sekuat tenaga untuk hal-hal yang biasa saja.
Bagaimana bisa orang bisa seegois itu? Padahal aku selalu berfikir seribu kali jika itu berhubungan dengan orang lain.
Bagaimana bisa aku?
Kali ini aku kembali tersadar, bahwa aku bukan pemilik cerita dalam hidupku. Bumi tidak pernah berputar untukku. Aku hanyalah intermezo dari cerita utama. Siapa bilang ini ceritamu? Ini adalah tentang orang lain. Lampu sorot tak pernah menuju arahku. Apakah aku harus menciptakan dramaku sendiri? Oh tentu jangan sampai. Seorang pernah berkata setidak penting apapun peranmu dalam drama, peran itu tetap harus ada. Barangkali itulah yang menjaga keseimbangan. Boleh jadi apa yang menurutmu tak berharga itu sangat diperlukan. Tuhan tidak akan menciptakan sesuatu tanpa tujuan yang pasti. Setiap orang punya masalahnya masing-masing. Jika orang lain drama dengan masalahnya, apakah kamu jug harus ikut berdrama jugA. Tidak apa-apa menjadi beda. Cintai dirimu sendiri. Hargai dirimu. Jika menurutmu itu kurang nyaman, ungkakan.
YOU ARE READING
Tidak Ada Waktu yang Tepat
RandomTidak ada waktu yang tepat untuk kita. Tak ada yang bisa kau lakukan. Tak ada waktu yang tepat. Lekas mulai sekarang. Mulai aja dulu.
