01. || Won The Game, But Not Her Heart

1.5K 132 1
                                        

"you are NOT better than him."
wanita itu meninggikan nadanya, seolah-olah mencoba agar lawan bicaranya dapat mendengar dengan jelas apa yang ia ucapkan dengan suara yang lantang.

Arthur bergumam tertahan, Kata-kata itu menusuk seolah-olah sebuah serangan langsung, Hatinya membeku sementara, kemarahannya memuncak, Wajahnya yang biasa tenang berubah menjadi, Tidak ada air mata. Hanya ada ketidakpuasan dan ketidakpuasan yang tidak bisa ia punkiri, Tubuhnya gemetar hebat akibat emosi yang begitu besar. Ia ingin berbicara, ingin menyalahkan, tetapi ia menahannya.

"Di dunia ini ga ada yang benar-benar tulus, thur. Ubah pandangan lu tentang hal itu." Sambungnya, berangkat dengan tas kecil yang ia gandeng di lengan kirinya. Tanpa menoleh ataupun berbalik.

Setiap detik dari malam ini begitu terasa, seakan dunia berhenti untuk berputar. Langkahnya semakin jauh, benar-benar siap untuk meninggalkan lawannya.
"bangsat." Kesal Arthur. ia berbalik, emosinya teredam di dalam raut wajah itu.

Dia merutuki semuanya; kerja yang membosankan, hujan yang tak pernah berhenti, dan kehidupan yang begitu membosankan. Semuanya tampak berkonspirasi untuk membawa dirinya semakin dalam kegelapan. Ia merasa sangat kesal, takdir seolah tengah mengolok-olok hidupnya.

kata kata kasar itu berputar di kepalanya sepanjang waktu.

Dia berjalan tanpa arah, tak tahu ke mana kaki-kakinya membawa dirinya. Pandangannya kosong, tanpa ada tujuannya. Ia ingin lari dari kenyataan itu. lari dari suara-suara kejam di kepalanya, lari dari luka-luka yang tidak menyayat.

Jersey tim e-sport masih berada di genggaman tangan, menemani kegelisahan itu. Ia meremasnya dengan kuat, seolah berharap dengan itu semua rasa sakit hari ini bisa hilang. Tetapi, pada akhirnya hujan tetap saja turun.

_______

"MARI KITA SAMBUT, TIM RRQ!"
Mic itu menggema, seluruh ruangan sontak menjadi ramai. Mengalihkan semua pandangan menuju ke atas panggung, tempat ia berdiri. Segerombolan orang berteriak,sangat antusias untuk mendukung tim kebanggaan mereka. Dan disanalah dia berdiri,

Arthur.

Dia benar-benar muak dengan keramaian itu. Semangat para penonton menggebu-gebu, selang dua menit setelah adegan sorak sorai itu, pertandingan kian bermula.

Tangannya memegang kendali, seolah sudah sangat familiar dengan posisinya saat ini. Ia memosisikan badannya sesantai mungkin, gerakan lembut yang dibuat oleh jemari itu tampak sangat lihai. Ia memegang kontrol seakan nasib seluruh tim bergantung pada tangan. Jelas sekali dia bukan pemuda biasa dalam hal ini.

Wajah mereka tegang, permainannya tidak terencana, begitulah yang mereka sebut. Strategi ketajaman mereka sama sekali tidak terpatok, sangat siap untuk pertandingan ini.

Suasana yang sebelumnya terasa hangat nan damai, kini berubah menjadi tegang, dan, tidak nyaman.
Salah satu pemain yang mereka sebut-sebut sebagai provokator mulai memprovokasi dengan suara serak lantang, Dari tim lawan. Tentu itu bukan lah hal yang bagus, tensi yang tinggi dapat muncul kapan saja mereka merasa tidak nyaman. Namun, untuk sekedar profesionalitas, tim ini seharusnya tidak tersinggung akan sindiran rendah itu.

Dominasi yang ditunjukkan oleh tim RRQ dapat menjadi sebuah bukti bahwa mereka memberikan dampak yang lebih besar bagi sang provokator.

Seiring dengan pertandingan yang semakin sengit, para Host serentak memberikan masukan serta menjelaskan inti dan alur dari permainan tersebut. Entah itu melemparkan pertanyaan ataupun pembahasan, kedua tim masih terlalu fokus untuk game pertama.

Tidak ada alam mimpi di situasi seperti ini, hanya ada mereka.

Empat puluh menit berlalu, RRQ benar-benar telah kembali ke performa nya. Tim mereka dengan mudah memutarbalikkan suasana tanpa mengenal intimidasi sedikit pun, angka dua kosong di atas layar dapat menenangkan hati lima pemuda tersebut.

Secarik kertas yang berada di tangan sang pembawa acara yang berisi se untas pertanyaan menarik, akan disampaikan dengan gelora audio yang tersebar disegala penjuru ruangan. Mereka menyebutnya sebagai bude Clara, sepertinya.

Skylar, Rinz, Idok, Dyren, dan Sutsujin. Begitulah cara memanggil mereka. Secara bergilir akan di interview oleh sang pembawa acara, tentu saja ini hal biasa bagi Skylar.

Sedikit jawaban menggelitik yang Skylar berikan sudah cukup untuk membangkitkan suasana dimana mereka berdiri. Mimik wajah bahagia itu, jarang sekali dapat melihatnya setelah keterpurukan yang mereka alami sebelumnya.

Namun, fokus Arthur, atau yang disebut-sebut sebagai sutsujin, tidak mengarah pada pembawaan acara saat ini. Mata eloknya memandangi seorang wanita yang duduk di kursi penonton. Pendukung lawan.
Seseorang yang ia pikir akan tetap menjadi sandarannya dikala mimpi buruk itu tiba, justru menjadi mimpi buruk itu sendiri.

Ia berdecik saat memperhatikan pria yang merangkul wanita itu, mereka terlihat begitu serasi. Baru saja tiga bulan berlalu, Arthur sudah harus melihat kemesraan pahit itu.

"Ngeliatin apaan?" Bisik Rinz, berdiri tegak disampingnya. Arthur lupa bahwa dirinya masih berada di atas panggung saat itu. Ia terbangun dari lamunan kecil nya, tepat di saat ia menoleh ke samping kanan, tempat dimana asal suara itu berada.

Tangan Rinz meraih titik terjauh dari pinggang pemuda pendek itu. "Jangan jauh-jauh." Ucapnya.
Arthur tidak berkata apa-apa, ia masih saja kesal tanpa menyadari pergelangan tangan Rinz yang merangkulnya sedemikian rupa. Tubuh mereka semakin dekat, tidak ada jarak lagi saat ini. Perhatian mereka saling membalas.
Hingga Arthur benar-benar mengalihkan pandangannya, saat sesi interview menginginkan pendapat dari dirinya.

Lagi-lagi mengapa mereka bertingkah begitu akrab, bukan kah hal ini jarang mereka lakukan sebelumnya, pemuda itu membatin.

"Respect aja sih, bude." Arthur melontarkan kalimat penuh kepercayaan. jauh di dalam lubuk hatinya, ia ingin menelan kalimat halus itu dan menggantinya dengan sepotong paragraf penuh dendam.

detik-detik terakhir dari interview ini, masing-masing tim kembali ke ruangan pribadi mereka. Entah itu bersiap untuk pulang atau membahas strategi baru mereka.

bus pribadi itu melaju menyusuri jalan raya. sorak sorai menggema diantara mereka, seakan merayakan kemenangan untuk kesekian kalinya. Arthur menatap ke luar jendela, suasana ramai yang selalu ia lihat sebelumnya.

Kalimat wanita itu, seperti menari-nari di pikirannya.
Ia masih mengingatnya, sungguh, ia benar-benar berharap untuk tidak peduli akan hal itu. Ia benar-benar merasa sial saat ini, lamunan nya masih terus di usik oleh pemuda bertubuh tinggi yang duduk disampingnya.

"Hati-hati kemasukkan setan" Rinz berbisik di telinga kiri nya, ia benar-benar mencapai bagian sensitif Arthur kali ini. Sekali dua kali, Arthur hanya menoleh, lalu berbalik. Bagus, ia baru ingat bahwa Sang pengganggu masih berada di sampingnya.

"Kan elu setannya." Dengus Arthur sembari memperbaiki posisi kacamata dengan frame hitam itu. Rinz tidak menunjukkan kekesalannya, ia justru tertawa kecil. Mungkin itu jawaban yang paling cocok untuk Arthur.

"Lek, Arthur nya jangan digangguin terus dong." Dyren berseru dengan logat medan andalannya.

"Halah, lu juga ngaca 'dong'." Tiru Rinz dengan logat yang sudah sangat melekat di mulut Dyren.

Mereka saling membalas, menciptakan suasana canda tawa yang selalu terbentuk di dalam bus itu.

Coach mereka, khezcute, ikut beradu argumen menggunakan candaan miliknya. Tidak heran jika mereka tidak membutuhkan hal serius dalam tim ini.

HOW WE MET. || rinz x sutsujin || bxb||Stories to obsess over. Discover now