Ajari Aku

77 0 0
                                        

Amatera....

Nama yang cantik. Persis seperti pemiliknya. Dengan mata kecil, hidung meruncing, dan senyuman yang seringkali lebih manis daripada gulali.

Tangannya sedang menari-nari di udara. Menghalau sinar matahari fajar yang terbit di ufuk timur menerpa wajahnya. Jari-jari kakinya yang mungil menendang pasir kesana dan kemari. Rambutnya yang hitam legam berdansa di atas pundaknya sewaktu angin meniupnya.

Dia berbalik, kemudian menatapku sambil tersenyum, "sudah lama sekali, aku teramat merindu..."

Kemudian dia berbalik lagi. Sibuk dengan air laut yang mampir sesekali ke pantai dan membasahi kakinya.

Dia teramat mudah mengatakan rindu. Padahal rinduku saja sudah dibasuh hujan, ditiup angin dan dikeringkan lagi oleh panas. Rinduku sudah berkarat. Tapi tetap saja bibir ini bisu tiap kali hati memohon untuk mulai berkata.

"Sudah berapa lama ya, hmm..." dia mulai berpikir

"Tiga tahun, delapan puluh tujuh hari, dan lima jam. Sebanyak itu. Sebanyak itu aku menghabiskan waktu tanpamu Tera" selaku.

Dia terkikik. "Apa daya kalau di negeri matahari itulah aku harus kembali pulang"

Pulanglah ke pelukanku Tera. Berbaringlah dipangkuanku sampai kita terlalu tua untuk pergi melarikan diri. Menetaplah disini. Cepatlah sadar bahwa akulah sesungguhnya rumah tempat kau seharusnya pulang. Jangan pergi lagi!

"Aku akan menikah..."

Aku butuh udara. Aku butuh udara. Aku butuh udara. Hati yang luka ini serasa dibasuh laut dengan garam kemudian dipecahkan oleh ombak.

"Kau baru saja menginjak kepala dua. Mengapa cepat sekali?" Tanyaku.

Aku menunggumu. Lewat beberapa musim tanpa rindu itu pernah terkubur. Cinta ini memang hidup dengan air mata. Tidak peduli diabaikan, cinta ini tetap keras kepala ingin bertahan. Tetapi mengapa? Mengapa sepedih ini?

"Memangnya kenapa, kalau aku sudah jatuh cinta? Toh, pada akhirnya aku juga akan tetap menikah dengannya dan hidup bersama selamanya"

"Aku mencintaimu..."

Dia terdiam. Menatapku dengan kedua biji matanya yang indah. "Mengapa baru mengatakannya?"

"Apa?"

"Aku dulu mencintaimu. Aku berharap kau mau menghentikanku ketika aku pergi. Atau sekedar memelukku di bandara sewaktu aku harus kembali ke Jepang. Atau sekedar menghubungiku setiap hari dan menanyakan apa aku baik-baik saja. Tetapi selama ini, kau kemana saja?"

Aku disini Tera. Aku menunggumu dari pagi hingga pagi. Aku menunggumu sampai kerongkongan ini terasa kering dan kepala ini siap meledak. Bukankah selama ini kau mengabaikan aku? Ataukah aku yang sebenarnya terlalu pasif untuk membuatmu tetap disisiku? Siapa sesungguhnya yang salah Tera?

"Tera, jangan pergi. Jangan menikah. Aku menghabiskan tiap detik memikirkanmu. Berikah aku satu kesempatan. Aku akan menebus semuanya" aku memohon.

Tetapi dia menggeleng, "tidak perlu. Laki-laki yang akan kunikahi, dia telah menebus segalanya. Dia datang. Membantuku menata hidup tanpamu. Memberikan apa yang tidak pernah kau berikan. Dia tidak pernah membuatku menunggu. Terlebih lagi, dia tidak pernah membuatku menunggu ketika dia, di luar sana, juga sedang menungguku. Jangan konyol!"

Aku merasa bodoh. Jadi selama ini, aku mempermainkan Tera, juga mempermainkan diriku sendiri. Ini bukan perkara aku telah sakit hati. Aku sudah biasa merasakannya. Permasalahannya, aku tidak bisa menyerah, aku tidak bisa mundur, tidak bisa mencari penggantinya.

Dia mendekatiku, kemudian menciumku. Singkat. Teramat singkat. Dia tersenyum, "sudah berakhir..."

Lalu aku harus apa? Bagaimana jika aku tidak bisa berhenti mencintai? Lalu bagaimana jika sesungguhnya hati ini tidaklah pernah rela melihat dia berbahagia bersama yang lain? Jika aku melepaskannya hari ini, apakah penyesalan itu akan semakin membuatku kalut? Biarkan aku belajar menaklukan jarak dan berjuang, tetapi bisakah jangan paksa aku berhenti?

"Namaku adalah nama dewi matahari, ingat? Karenamu, aku redup terlalu lama. Aku tak terbit terlalu sering. Sekarang aku hidup lagi. Beginilah aku seharusnya. Jadi, jangan padamkan aku lagi" katanya.

"Kau membagi terlalu banyak kenangan. Dimana aku hidup untuk terus mengenangnya. Tidakkah kau mau menetap sedikit lebih lama lagi...?" Tanyaku

"Untuk apa?"

"Mengajariku caranya berhenti mencintaimu"

.........................

The end

Ajari AkuWhere stories live. Discover now