Espresso

7 0 0
                                        


Sore hari, pertengahan bulan april.
Hujan turun tak seperti biasa nya, sore ini langit jakarta nampak mendung sejak sepuluh menit lalu, awan hitam nya turut menyerukan benang-benang hujan yang akhirnya jatuh bersahut-sahutan.

Perempuan dengan rambut hitam sebahu yang dibiarkan terurai itu terlihat menunggu dengan sabar, segelas espresso menemani nya menunggu hujan mereda.

Nama nya Megumi- (dalam bahasa jepang arti nya cinta dan kasih sayang ) entah bagaimana bapak dan ibu nya memberikan nama itu untuk nya, padahal mereka saja tidak sungguh-sungguh saling mencintai.

Megumi meremat mug kecil berisi espresso yang hampir dingin itu, perlahan ia menyesap dalam-dalam kopi nya. tak hanya tentang rasa nya tapi megumi juga menikmati bau khas perbaduan biji kopi robusta dan arabica itu.

Tahu kah kamu bagaimana rasa nya menikmati hujan yang syahdu berteman kan secangkir espresso ? itu terlalu nikmat !

Hujan diluar masih turun, disekitaran toko banyak sekali orang-orang yang berteduh, beberapa terlihat memeluk diri mereka sendiri sebab mungkin dingin terlalu menusuk ke tubuh.
beberapa terlihat merapikan anak rambut yang basah, menyelipkan nya diantara daun telinga, beberapa orang lagi terlihat mengadah wajah kelangit yang buram sebab air hujan,entah doa apa yang sedang dilangitkan.
beberapa lagi,mereka telihat kosong, entah mengapa terlihat menyedihkan menatap sepatu mereka yang basah terkena air hujan, atau sebenarnya mereka sedang meresapi beberapa luka basah dihati mereka.
entah lah ! megumi tak bisa menafsir kan nya.
Untuk apa juga dia harus repot menafsirkan perasaan orang-orang diluar sana, sedang selama ini dia sendiri kesulitan memahami diri nya sendiri !

Sekali lagi, ia menyesap espresso nya, kali ini lebih ringan
entah mungkin bau kopi sudah hilang atau mungkin dia sendiri sudah kehilangan sabar nya sebab hujan tak kunjung usai.

Dia melirik jam di lengan kiri nya, sudah pukul setengah enam sore.
harus nya dia sudah tiba dikamar kos nya, membersihkan diri nya dan kemudian ia merebah diri di kasur kecil nya mengistirahat kan diri nya yang lelah sebab hari ini tentu dia telah melewati banyak hal berat !
tapi lihat lah, dia masih disini, terjebak di sebuah kedai kopi favorite nya dengan segelas espresso dan benang-benang hujan yang menari di luar sana.
indah memang, teduh dan syahdu, tapi perasaan nya selalu tak tenang,entah untuk bagian mana lagi kali ini dia harus merasa bersedih.

Megumi, yang kata nya adalah refleksi pernyataan cinta dan kasih sayang itu, tidak lah setenang itu untuk di sebut cinta !

Megumi- adalah yang disebut sehebat-hebat nya ( luka).

Espresso nya sudah tandas, hujan diluar juga sudah mereda. orang-orang yang tadi terlihat hampir di sepanjang sisi pertokoan kini lenyap sudah, mereka melanjutkan kembali perjalanan yang tadi terjeda !

Megumi bersiap meninggal kan meja nya, merapihkan beberapa isi tas nya yang tadi sempat dia keluar kan. dengan tersenyum menyapa seorang barista yang tadi menyeduhkan kopi untuk nya, megumi pergi meninggal kan kedai kopi itu,
dia harus segera tiba di kamar kos nya, yang meski kecil tapi itu memberi ketenangan untuk nya, yaa meski hanya beberapa waktu sebelum akhirnya setiap hari megumi harus memulai hari di luar kamar nya !
*******

Drrrttttt...
Drtttttt....

Sebuah panggilan masuk dari ibu,
megumi menatap datar layar ponsel nya, menarik nafas sebelum akhirnya menerima panggilan itu.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 25, 2024 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Meraya(kan) hati yang patahStories to obsess over. Discover now