Inti

6 0 0
                                        

Penderitaan itu ada di tengah.

Bayangkan mendapatkan tekanan dari segala arah karena berada di tengah. Tapi bukan itu bagian tersakitnya, melainkan karena dia hanya bisa diam. Ya, diam di tengah.

Seperti seekor cacing di antara sekawanan burung, yang sudah siap dengan ajal di depan matanya. Seperti itulah rasanya berada di tengah.

Pasrah, hanya itu pekerjaan terbaik yang bisa dilakukan bagi dia yang berada di tengah. Berharap Tuhan menolongnya sekali lagi, sekali lagi, dan terus "sekali lagi".

Pertahanan mereka yang kokoh pada akhirnya runtuh karena sudah tidak sanggup menahan beban. Bagaikan tanggul raksasa yang pecah dan menimbulkan air terjun ganas yang dapat menenggelamkan satu kota kecil.

Kesialan bagaikan kulit bagi dia yang berada di tengah. "Berusahalah!", ucap mereka yang tidak berada di tengah. Orang-orang munafik yang bahkan tidak pernah mau mencoba untuk diam. Merekalah pencipta kulit-kulit itu pada tubuhnya.

Saat dia pergi, tidak akan ada yang berbeda. Manusia pada dasarnya hanyalah makhluk pemakan buah terlarang. Jangan harapkan mereka peduli padanya.

TengahWhere stories live. Discover now