Aku Eloise Reuter, lahir dan dibesarkan di Luksemburg, sebuah negara kecil namun penuh dengan pengaruh ekonomi besar di Eropa. Sejak kecil, aku sudah terbiasa dengan dunia bisnis dan kekuasaan, mengingat ayahku, Henry Reuter, adalah pemilik dari ArcelorMittal, perusahaan baja terbesar di dunia. Sebagai pewaris tunggal perusahaan ini, aku dihadapkan dengan tuntutan untuk melanjutkan dan memperbesar warisan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Aku telah bekerja keras untuk membuktikan kemampuanku, menghadapi tantangan yang datang dengan menjadi seorang wanita yang memimpin perusahaan besar. Kini, aku telah menduduki posisi sebagai CEO pertama ArcelorMittal, menjadikan hari-hari ku penuh dengan tekanan, keputusan penting, dan tanggung jawab yang tidak ringan. Meski di luar, aku dikenal sebagai sosok yang tegas dan profesional, aku tidak dapat menghindari rasa beban yang datang bersama jabatan ini. Dunia bisnis mengamati setiap langkahku, dan aku harus selalu berada di puncak permainan.
Aku duduk di meja bundar yang panjang, ditemani oleh eksekutif-eksekutif penting perusahaan yang akan menyaksikan pelantikan resmiku sebagai CEO besok. Meja ini, yang terbuat dari kayu hitam mengkilap dengan lapisan kaca di atasnya, memberikan kesan kekuatan dan kemewahan yang selalu mewakili ArcelorMittal. Setiap sudut ruangan ini memancarkan citra otoritas—dinding kaca yang menghadap kota, lampu kristal yang bergantung megah, dan kursi-kursi kulit hitam yang sudah terpasang rapi untuk para tamu penting besok.
Bersama para eksekutif, aku membahas segala persiapan yang harus dilakukan untuk memastikan pelantikan ini berjalan sempurna. Mereka semua duduk dengan serius, masing-masing membawa pandangan dan strategi mereka untuk masa depan perusahaan. Aku, sebagai CEO pertama, tahu betul bahwa peran ini bukan hanya soal pengelolaan perusahaan sehari-hari, tapi juga soal membangun citra dan arah yang jelas untuk masa depan yang lebih besar.
"Esok adalah momen penting," kata Sebastian, salah satu anggota dewan yang sudah bekerja denganku sejak awal.
"Tentu saja kita harus pastikan bahwa seluruh aspek acara berjalan lancar, baik itu protokol maupun ketersediaan para tamu yang penting."
Aku mengangguk pelan, merasakan beban yang ada. Besok adalah hari di mana aku akan meresmikan posisiku sebagai CEO yang menggantikan ayahku, Henry Reuter, yang kini lebih memilih untuk memberi aku kendali penuh. Ini adalah saat yang penuh dengan harapan dan juga tantangan besar, karena meskipun aku telah memimpin ArcelorMittal untuk waktu yang lama, besok bukan hanya tentang aku. Ini tentang bagaimana dunia melihat keputusan besar ini—tentang siapa yang akan melanjutkan warisan keluarga ini, dan bagaimana aku, sebagai wanita, akan menghadapi ujian ini.
"Apa yang harus kita atur untuk besok, Eloise?" tanya Marie, salah satu eksekutif senior di bidang pemasaran, yang sudah menjadi bagian dari keluarga besar perusahaan ini selama lebih dari satu dekade.
"Kita harus memastikan tidak ada detail yang terlewat. Ini adalah kesempatan besar untuk menunjukkan kepada dunia bahwa ArcelorMittal tetap memimpin."
Aku menatapnya sekilas lalu memalingkan wajahku menatap seluruh eksekutif bergantian.
"Besok," kataku dengan suara yang tegas namun penuh perhitungan,
"semua mata akan tertuju pada kita. Bukan hanya pada siapa yang memimpin perusahaan, tetapi pada bagaimana kita mempertahankan kekuatan dan visi yang sudah dibangun oleh keluarga kita. Kita harus tetap menunjukkan bahwa meskipun ada perubahan, ArcelorMittal tidak akan tergoyahkan."
Aku menatap mata mereka satu per satu, memastikan mereka mengerti beratnya tanggung jawab ini.
"Kita mungkin akan menghadapi tantangan yang lebih besar, tetapi aku percaya bahwa kita bisa menghadapi semuanya dengan kekuatan yang sudah teruji selama ini."
YOU ARE READING
THROUGH THE IRON VEIL (SELESAI) ✅
RomanceDi puncak gedung pencakar langit yang melambangkan kekuasaan ArcelorMittal, ada seorang wanita yang memimpin dengan tangan besi dan hati yang tersembunyi dalam bayang-bayang ambisi. Eloise Reuter adalah CEO pertama perusahaan baja terbesar di dunia...
