Bab 1: Awal Sebuah Rasa

35 2 0
                                        

Tokoh Utama:

Naru: Gadis yang menyukai Sasuke dalam diam selama 5 tahun.

Kyubi (Kyu-ni): Kakak Naru, sosok pelindung seperti Naruto.

Sasuke (Suke): Teman masa kecil Naru, mencintai Sakura, lalu terobsesi dengan Naru.

Sakura (Saku): Cinta pertama Sasuke.

Neji (Hyu): Pria yang mencintai Naru dengan tulus dan ingin menikahinya

Aku masih ingat jelas hari ketika aku pertama kali menyadari bahwa aku menyukai Sasuke.

Hari itu adalah musim semi, bunga sakura bermekaran di sekitar akademi. Aku duduk di bawah pohon besar bersama Sasuke, mengunyah onigiri yang dibuatkan oleh Kyu-ni, kakakku tercinta. Sasuke sedang asyik membaca buku, seperti biasa. Dia selalu terlihat begitu serius, begitu fokus… tapi entah kenapa, justru itu yang membuatku tertarik padanya.

Aku menatap wajahnya diam-diam, memperhatikan bagaimana rambut hitam legamnya bergoyang pelan diterpa angin. Tatapan matanya yang tajam seperti pisau, tapi dalamnya… selalu membuatku penasaran. Ia bukan tipe yang banyak bicara, tapi setiap ucapannya seolah memiliki makna dalam yang sulit kutafsirkan.

Kami memang berteman sejak kecil. Bahkan sebelum kami masuk akademi ninja, keluarga kami sudah saling mengenal. Ibuku sering mengajakku menginap di rumah keluarga Uchiha, dan begitu pun sebaliknya. Sasuke sudah seperti bagian dari hidupku. Kehadirannya selalu kurasa seperti matahari di pagi hari—tenang, konsisten, dan memberi kehangatan, meski ia jarang menunjukkan perasaannya.

Sejak kecil, aku sudah merasa berbeda saat bersamanya. Saat dia memujiku karena berhasil melemparkan shuriken tepat sasaran, hatiku berdebar lebih cepat. Saat dia membelaku dari anak-anak nakal yang mengejek namaku, aku tahu… dialah orang yang ingin aku jaga selamanya.

Tapi aku bodoh. Aku terlalu takut untuk mengungkapkan perasaanku.

Selama bertahun-tahun aku hanya bisa mengaguminya dari jauh. Setiap kali aku melihatnya tersenyum, hatiku ikut hangat. Setiap kali dia tertawa, aku ikut bahagia. Aku menyimpannya sendiri—rasa ini, cinta ini—selama lima tahun. Lima tahun aku menahan keinginan untuk memeluknya, mengatakan padanya bahwa aku mencintainya. Tapi aku takut… takut merusak apa yang sudah ada di antara kami.

Dan ketakutan itu menjadi nyata di tahun kelima kami di akademi.

Hari itu, aku melihat mereka.

Sasuke dan Sakura. Berjalan berdua di taman Konoha. Tangannya menggenggam tangan Sakura dengan lembut. Sakura terlihat sangat bahagia, pipinya memerah, matanya berbinar seperti anak kecil yang baru saja diberi hadiah. Dan Sasuke… dia tersenyum. Senyum yang jarang sekali kulihat, tapi hari itu… senyum itu bukan untukku.

Aku terdiam di balik pohon. Tidak bisa bergerak. Nafasku tertahan. Aku menunduk, mencoba menahan air mata, tapi sia-sia. Hatiku terasa ditikam. Perih. Rasanya seperti seluruh dunia runtuh dalam sekejap.

Sasuke… sudah menjadi milik orang lain.

Aku berjalan pulang tanpa suara, tanpa arah. Kyu-ni sempat bertanya kenapa wajahku terlihat pucat, tapi aku hanya menjawab, “Tidak apa-apa, Kyu-ni. Aku hanya kelelahan.” Dia tidak bertanya lebih lanjut. Kakakku memang tahu kapan harus diam.

Sejak hari itu, aku berubah.

Aku tidak seceria dulu. Aku tidak tertawa sebanyak dulu. Aku tidak lagi menunggu Sasuke di gerbang akademi, tidak lagi duduk di sebelahnya saat makan siang. Aku mencoba menjaga jarak, bukan karena aku membencinya… tapi karena aku ingin menyelamatkan hatiku sendiri.

Tapi setiap malam, aku tetap memikirkannya. Kenangan tentang kami berdua saat kecil, impianku yang kuanyam diam-diam, semua itu terus menghantui pikiranku. Sakit. Tapi aku hanya bisa menahan. Lagi dan lagi.

Aku tidak pernah membenci Sakura. Aku tahu dia gadis baik. Mungkin lebih layak bersanding dengan Sasuke dibanding aku. Aku hanya… hancur. Itu saja.

Hidupku berjalan tanpa arah selama beberapa bulan. Sampai hari itu datang—hari ketika aku bertemu seseorang yang mengubah semuanya.

Namanya Neji Hyuga, atau lebih sering kupanggil Hyu. Pertemuan kami terjadi secara tak terduga, di tengah misi kecil dari desa. Saat itu aku sedang bertarung melawan bandit yang menyerang desa kecil di perbatasan. Aku hampir kalah, tapi tiba-tiba, seseorang datang dengan tenang dan membantuku mengatasi mereka dalam sekejap.

Dia berdiri di hadapanku, mengenakan jubah putih dan lambang klan Hyuga di punggungnya. Rambut panjangnya tergerai indah, matanya putih seperti bulan—dingin tapi menenangkan.

“Namamu Naru, kan?” tanyanya.

Aku hanya mengangguk, napasku masih tersengal karena pertarungan.

Dia tersenyum kecil, lalu berkata, “Kau bertarung cukup baik. Tapi jangan biarkan hatimu mengganggu fokusmu.”

Aku tertegun. Kalimat itu terasa menyentuh sesuatu yang dalam di hatiku.

Sejak hari itu, Hyu mulai sering muncul dalam hidupku. Dia tidak pernah memaksa, tidak pernah menuntut. Dia hanya… hadir. Menemaniku ketika aku ingin diam. Mendengarkan tanpa menghakimi. Membuatku tertawa dengan komentar datarnya yang tak terduga.

Lama-lama, kehadirannya menjadi bagian dari rutinitasku. Dan tanpa kusadari… dia mulai menyembuhkan luka-luka yang ditinggalkan Sasuke.

Aku mulai merasa hidup lagi.

---

Akhir Yang Bahagia Stories to obsess over. Discover now