Sheila dan Septa mulai semakin dekat. Setiap sore, mereka sering bertemu di taman kecil dekat rumah. Sheila merasa nyaman berbicara dengan Septa, karena di antara semua orang, dialah satu-satunya yang tidak pernah menghakimi atau menuntut apapun darinya. Septa selalu mendengarkan, dan itu adalah hal yang langka bagi Sheila. Mereka bisa berbicara berjam-jam, entah tentang mimpi, hidup, atau sekadar hal-hal kecil yang mereka temui setiap hari.
Namun, hubungan mereka mulai menarik perhatian. Teman-teman Sheila di sekolah mulai mempertanyakan mengapa ia sering terlihat bersama Septa, si "anak bengkel" dari SMA teknik. Bagi mereka, Septa bukanlah bagian dari lingkaran sosial Sheila yang sempurna. "Sheila, kenapa kamu buang-buang waktu sama dia?" kata Lia, sahabat terdekat Sheila, saat mereka sedang duduk di kantin.
Sheila hanya tersenyum, mencoba mengabaikan komentar Lia, tapi di dalam hatinya, ia merasa terluka. Dia tahu Septa berbeda, tetapi justru itu yang membuatnya tertarik. Septa tidak pernah mencoba menjadi orang lain atau berusaha masuk ke dalam standar sosial yang orang lain tetapkan. Sementara, di sekolah, Sheila merasa terkadang harus menjadi orang lain agar diterima.
Di sisi lain, Septa pun mulai merasakan dampak dari hubungan mereka. Ketika dia mulai sering bertemu Sheila, teman-temannya di bengkel mulai menyindir, "Wah, anak SMA favorit sudah mulai turun gunung, ya? Jangan lupa, dia cuma main-main." Meskipun Septa tidak pernah merespons komentar-komentar itu, dalam hatinya, ia mulai meragukan tempatnya di sisi Sheila. Dunia Sheila tampak terlalu besar dan rumit untuknya.
Suatu hari, saat Sheila dan Septa bertemu di taman seperti biasa, Sheila tampak lebih diam dari biasanya. Septa merasakan ada sesuatu yang mengganjal.
"Kenapa, Sheila? Kamu kelihatan nggak seperti biasanya," tanya Septa, menghentikan pekerjaannya di atas motor dan duduk di sebelahnya.
Sheila menunduk, bermain dengan ujung roknya sebelum akhirnya bicara, "Septa... kamu pernah ngerasa nggak cocok sama hidup kamu sendiri? Kayak... kamu harus pura-pura jadi orang lain biar semua orang suka."
Septa terdiam sejenak sebelum menjawab, "Sering. Tapi aku selalu berpikir, lebih baik jadi diri sendiri, meski nggak semua orang suka. Kalau terus berpura-pura, kita nggak akan pernah bahagia."
Sheila menghela napas, "Aku capek jadi 'Sheila yang sempurna'. Semua orang punya ekspektasi tinggi. Dan sekarang, banyak yang nggak suka aku dekat sama kamu... mereka bilang, kita beda."
Septa menatap Sheila dengan penuh pengertian, meski hatinya juga tersayat mendengar kata-kata itu. "Kita memang beda, Sheila. Dan mungkin karena itu juga mereka merasa kita nggak cocok. Tapi... apa yang mereka bilang benar-benar penting buat kamu?"
Sheila menatapnya, matanya berkaca-kaca. "Aku nggak peduli dengan apa yang mereka pikirkan. Tapi aku takut... aku takut kalau akhirnya kamu yang merasa nggak nyaman sama aku."
Septa terkejut mendengar kekhawatiran Sheila. "Aku nggak pernah merasa seperti itu. Aku mungkin nggak hidup di dunia yang sama denganmu, tapi aku selalu nyaman di dekatmu."
Malam itu menjadi titik balik hubungan mereka. Meski mereka tahu dunia mereka sangat berbeda-Sheila dengan dunianya yang penuh ekspektasi sosial, dan Septa dengan kehidupannya yang lebih sederhana-keduanya merasa bahwa mereka saling melengkapi. Sheila menemukan kebebasan di sisi Septa, sementara Septa menemukan sisi lembut Sheila yang jarang ditunjukkan kepada orang lain.
Namun, tantangan terbesar mereka belum selesai. Di sekolah, tekanan semakin besar untuk Sheila. Teman-teman dan bahkan guru-gurunya mulai mempertanyakan prioritasnya. Mereka khawatir Sheila mulai terpengaruh oleh kehidupan Septa yang dianggap tidak memiliki masa depan yang cerah. Sementara itu, Septa juga mulai merasa terbebani dengan pandangan orang-orang tentangnya yang menganggapnya tidak layak untuk Sheila.
Pertanyaannya kini: apakah mereka akan sanggup menghadapi perbedaan yang semakin besar di antara mereka? Ataukah tekanan dari luar akan memisahkan mereka?
YOU ARE READING
Sebelah Rumah Beda Dunia
Romancesp yang suka tetangga sendiri hayooo??sama nih kaya kawan kuu, aku udh minta izin diaa ya buat novel inii
