Hidup adalah sandiwara, dan kamu adalah pemeran utamanya
Teorinya, pemeran utama tidak pernah mati
Lantas mengapa arah mu seakan semu?
-riuh
-
-
-
Hidup memang sandiwara, dan kita semua adalah pemerannya. Namun, dalam panggung besar ini, aku selalu merasa bahwa aku bukanlah pemeran utama. Seharusnya, sang pemeran utama tidak pernah mati, bukan? Tapi mengapa arah langkahku seolah kabur, tak menentu? Seperti jalanan yang berkelok tanpa akhir, seolah-olah aku terjebak dalam perjalanan yang tak pernah benar-benar ku mengerti.
Orang-orang bilang, hidup ini akan terasa lebih ringan jika kita bersyukur. Namun, aku sering bertanya-tanya, jika benar syukur membawa keberuntungan, mengapa sering kali aku merasa seperti tidak mendapatkan apa pun? Setiap kali aku mencoba untuk bersyukur, seolah-olah keuntungan yang dijanjikan tidak pernah sampai. Apakah ada yang salah dengan rasa syukurku? Atau mungkin cara pandangku yang keliru?
"Mungkin karena syukur mu gagal," kata seseorang suatu hari. Kata-kata yang ia ucapkan begitu dingin, seakan ia tahu segalanya. "Padahal, kalau kamu benar-benar bersyukur, kamu akan lebih tenang. Keuntungan hidup itu bukan hanya dilihat dari kebahagiaan yang tampak dari luar."
Mungkin dia benar, tapi aku merasa dia tidak pernah merasakan apa yang kurasakan. Dia tidak tahu betapa lelahnya aku berusaha. Aku sudah mencoba, sungguh-sungguh mencoba untuk tetap hidup dan bertahan di dunia ini. Berusaha untuk merayakan mereka yang ingin ku rayakan, meskipun dalam hati aku meragukan apakah aku sendiri layak dirayakan. Kerap kali aku merasa bahwa aku hanya menjalani hidup demi orang lain, demi memenuhi harapan-harapan mereka, demi standar yang telah mereka tetapkan. Tapi apakah itu cukup? Apakah dengan terus mengikuti alur yang sudah disediakan oleh orang lain, aku benar-benar menjalani hidupku sendiri?
Di duniaku sekarang, aku hidup, tapi mereka menganggap ku mati. Mereka membicarakan ku seolah aku tidak ada, seolah kehadiranku hanyalah bayang-bayang. Sering kali aku bertanya pada diri sendiri, "Jika mereka memperlakukan aku seperti ini, apakah aku bisa tetap waras? Apakah aku cukup kuat untuk menopang jiwaku sendiri?" Hampir setiap malam, pertanyaan-pertanyaan itu menggema di kepalaku. Mengapa aku masih di sini? Mengapa aku masih mencoba, padahal segalanya tampak sia-sia?
Setiap hari, aku merasa seolah hidupku adalah pertarungan antara diriku dan ekspektasi orang lain. Aku dipaksa mengikuti standar yang tidak pernah ku mengerti sepenuhnya, standar yang tidak pernah ku tetapkan untuk diriku sendiri. Tapi apa yang bisa kulakukan? Setiap langkah yang kuambil terasa semakin kabur, semakin jauh dari apa yang kuinginkan. Seperti berjalan di tengah kabut tebal, tanpa tahu di mana ujungnya.
Apakah ini yang dinamakan hidup? Kehidupan yang penuh manipulasi, di mana kita dipaksa untuk membuat segalanya terlihat baik dari luar, meskipun di dalam kita hancur berantakan? Kita mencari validasi dari orang lain, hanya untuk menutupi kekecewaan yang kita rasakan dalam diri sendiri. Setiap orang memakai topeng, menyembunyikan kesedihan mereka di balik senyum yang palsu. Dan aku, seperti orang-orang lainnya, memakai topeng itu setiap hari. Topeng yang semakin lama semakin berat untuk dipakai.
Tidak peduli seberapa berat beban yang kita bawa, tidak peduli seberapa hancur kita merasa, waktu akan terus bergerak maju. Hidup tidak akan berhenti untuk menunggu kita pulih.
Aku sering merasa seperti aku adalah seorang perasa yang terlalu dalam. Aku terlalu mudah tersentuh, terlalu mudah terluka. Seringkali aku menangis hanya karena mendengar sebuah lagu, seolah lagu itu benar-benar memahami apa yang sedang terjadi dalam hidupku. Aku tahu itu mungkin terdengar bodoh, tapi begitulah aku. Musik selalu berhasil menembus dinding-dinding yang ku bangun di sekeliling hati, membuatku merasa lebih hidup, sekaligus lebih hancur di saat yang sama.
ВЫ ЧИТАЕТЕ
Riuh
Разное"Rumit rasanya jika harus sesuai ekspektasi" Cerita ini mengajak pembaca menyelami kerumitan pikiran seseorang, di mana setiap detik dipenuhi oleh pertanyaan dan perdebatan batin yang tiada henti. Dalam tiap babnya, pikiran itu menjadi arena pergul...
