The End

262 19 1
                                        

Matanya terpejam. Begitu juga orang disampingnya. Tapi Fang tahu mereka berdua masih sadar walau hanya dengan dua-tiga nafas tersisa. Itupun juga kadang tersenggal karena mulai berpikir sudah tak ada harapan lagi untuknya.

Terlebih untuk sang kapten yang sudah tidak bisa bergerak sejak terkena senjata tajam mematikan dari musuh. Dan itu reflek untuk melindunginya. Walaupun dia lebih dulu dibabi buta, tapi tusukan pedang besar itu tepat mengenai perut abangnya, meski sudah ditahan dengan tangan.

Fang sudah tidak bisa berfikir tentang bagaimana keadaan kawan-kawannya, para pasukan TAPOPS, apalagi musuh. Tapi dia masih bisa mendengar sayup-sayup suara pertempuran di kejauhan. Luka-luka tikaman di tubuh, nafas yang sudah sesak, ditambah dengan genangan darah diseliling tubuhnya membuatnya pasrah apapun yang akan terjadi dengannya.

Kaizo? Fang mengeraskan hati bahwa luka seperti apapun takkan membuat kaptennya mati. Dia harus yakin itu. Abangnya sudah berkali-kali ikut pertempuran besar dan dia tetap selamat.

"Aku janji takkan pernah mati dipertempuran. Jika memang aku akan mati, aku bersumpah takkan pernah membiarkan diriku mati sia-sia. Walau untuk menyelamatkan pasukan lain sekalipun."

Fang masih bisa mengingat kata-kata Kapten Kaizo itu untuknya. Ya, hanya dengannya Kaizo berjanji dan bersumpah. Tapi Fang tak ingat itu kapan.

"Fang...." Suara berat dan serak dari orang disampingnya-yang terdengar dipaksakan, berhasil membuat Fang membuka mata dan memaksanya juga untuk menoleh ke sumber suara. Kapten Kaizo masih memejamkan mata. Tapi tangannya mencoba untuk meraih tangan Fang yang tidak begitu jauh darinya.

Fang kaget tapi juga lega. Walau dia sudah paksakan hatinya untuk percaya dengan janji dan sumpah abangnya, tapi dia masih merasa takut. Dengan suara dan gapaian tangan itu, setidaknya membuat Fang sedikit bisa melupakan sakit di tubuhnya.

"Nyanyikan... bait lagu... yang paling...aku sukai...."

Jujur, Fang tidak mengerti apa yang dipikirkan Kapten Kaizo.

Fang tahu lagu favorit Kaptennya. Fang juga tahu bait mana yang paling mereka favoritkan. Dulu.

Mungkin permintaan itu untuk penyemangat Kaptennya dan untuknya. Walau lagu itu sebenarnya untuk perpisahan. Tapi dia masih ingin memegang janji dan sumpah itu. Dia harus bernyanyi.

"Selagi... kau berdaya~... jangan...kau lupa~"

Nafasnya kembali berat. Tapi dia tak ingin menyanyi tanpa melodi.

"Segala... yang... hh.. telahhh... kita.. hh.. lalu bersama...~"

Lukanya kembali berontak, membuatnya sedikit meringis.

"Jeritanh.. hh.. ke angkasa~...selamatkan dia...~"

Genggaman tangan Kaizo menguat. Fang berusaha menahan agar tak menangis.

"Selamatkan...." Walau suaranya mulai pecah. "Kita... semua..."

Sedetik kemudian Fang sadar bahwa genggaman tangan itu bukan genggaman biasa. Dan ketakutan Fang makin menjadi kala abangnya meneruskan bait selanjutnya tanpa melodi.

"Ku pergi... hh... senhdiri... dan takkanh... hh... kembali..."

Cahaya putih mulai menjalar dari tangan Kaizo ke tangan Fang.

"Maafkanh... hhh... segala... hh... perbuatanku... hh... kepadamu..."

Cahaya itu mulai mengisi energi Fang sekaligus menguras energi Kaizo. Fang ingin sekali menghentikan itu. Tapi entah bagaimana Kaizo menggenggam tangan Fang lebih erat ditengah semakin melemahnya dia.

"Ku pergi-"

"Berhenti!" Fang sudah bisa bangkit dan memberhentikan nyanyian-tanpa melodi Kaizo itu. Tangannya dicoba untuk ditarik supaya tranfer energi itu juga berhenti. Tapi tak bisa.

"Kapten! Lepaskan!" Dia membentak. Mencoba menarik tangannya. Yang dipedulikan dan dikhawatirkannya sekarang adalah keadaan Kaizo yang semakin memburuk dengan nafas yang dipaksakan dan masih menutup mata.

"Teman aku...." Kaizo masih melanjutkan. "Buat... h... kali... hh... terakhir...."

Fang sudah tak bisa menahan air matanya lagi. Dia menyerah. Tangan Kaizo tak bisa dilepas. Genggaman tangan itu diarahkan ke dadanya. Dipeluknya erat.

"Abang berjanji... takkan mati...." Sekarang Fang mencoba dengan kata-kata. "Abang juga bersumpah...." Mencoba mengingatkan Kaizo.

Fang benar-benar tak peduli dirinya menangis di depan seorang Kapten Kaizo yang melarangnya keras untuk mengeluh, membantah, malas, dan cengeng di depannya.

"Aku... memenuhi... janjiku...." Kaizo masih bisa bersuara walau bergetar. "Aku... tak mati... sia-sia...." Dihirupnya udara yang semakin tipis dirasakan.

"Pembohong...." Kata itu diucapkan Fang dengan lirih diiringi isak tangisnya. Cahaya tadi telah redup. Tenaga Fang sudah lebih pulih. Tapi semakin tak berdaya saat merasakan perasaan yang sama ketika pertama kali dia tahu ayah-ibunya telah tiada. Dan dia tak ingin ditinggalkan lagi.

Mata Kaizo terbuka sedikit. Fang segera beringsut mendekati tubuh abangnya.

"A... ku... hk... te... lah... hhh...." Kaizo meringis dengan nafas yang sepertinya sudah menolak dihirupnya lagi. Tangannya semakin bergetar digenggaman Fang yang sekarang tak ingin melepaskannya. "Me... hhh... lin... du... ngi... hhh...." Matanya terpejam kembali. Sangat rapat. Mencoba menahan rasa sakit sampai kata terakhirnya selesai. "Adikku... Pang"












Lagu: Bunkface - Jatuh
Boboiboy © Monsta

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 07, 2024 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Brothers EndWhere stories live. Discover now