Hidup itu melelahkan.
Y/N sudah terlalu lama menanggung beban yang terasa tidak pernah berkurang. Setiap hari, ia bangun dengan rasa sesak di dadanya, seolah dunia menekannya tanpa ampun. Tidak ada tempat untuk bernafas, tidak ada ruang untuk lari.
Sejak kecil, hidupnya tidak pernah mudah. Ayahnya meninggalkan keluarga saat Y/N masih kecil, meninggalkan ibunya yang terjebak dalam lingkaran depresi dan kemiskinan. Setiap hari, ibunya menghabiskan waktunya dengan mengeluh, menangis, atau kadang hanya duduk termenung, seakan kehilangan harapan.
"Apa gunanya hidup kalau selalu menderita?" Itu yang sering ibunya katakan.
Dan semakin Y/N tumbuh dewasa, kata-kata itu semakin tertanam dalam pikirannya.
Uang selalu menjadi masalah. Sejak SMA, Y/N harus bekerja paruh waktu di minimarket untuk membantu ibunya. Ia terbiasa tidur larut malam karena harus belajar setelah bekerja, hanya untuk bangun keesokan harinya dengan tubuh yang lebih lelah dari sebelumnya.
Saat kuliah, segalanya semakin sulit. Tagihan terus datang, tugas menumpuk, dan tekanan untuk berhasil semakin besar. Beasiswa yang ia perjuangkan hanya cukup untuk membayar kuliah, sementara kebutuhan hidup terus menghantui. Ia harus mengambil lebih banyak pekerjaan, mengorbankan waktu tidurnya, mengorbankan kesehatannya, dan bahkan mengorbankan mimpinya.
Tetapi dunia tidak peduli.
Dosen tidak peduli bahwa ia kelelahan. Atasan tidak peduli bahwa ia sedang sakit. Dan ibunya—ibunya hanya melihatnya sebagai satu-satunya harapan, satu-satunya sumber uang yang bisa menyelamatkan mereka dari jurang kemiskinan.
"Aku tidak kuat lagi…"
Malam itu, Y/N duduk di lantai kamarnya yang sempit, menatap botol pil tidur di tangannya.
Tangannya gemetar. Kepalanya dipenuhi suara-suara yang terus membisikkan hal yang sama.
"Kamu gagal."
"Kamu tidak cukup baik."
"Dunia akan lebih baik tanpa kamu."
Air matanya mengalir. Ia tidak ingin mati. Tetapi ia juga tidak tahu bagaimana caranya untuk terus hidup.
Dalam keheningan malam, jari-jarinya membuka botol itu. Satu per satu pil itu masuk ke mulutnya. Ia tidak tahu berapa yang sudah ia telan—ia tidak peduli. Ia hanya ingin semuanya berhenti.
Dan perlahan, kesadarannya mulai memudar.
---
Saat Y/N membuka mata, ia mengira akan menemukan kegelapan. Mungkin kehampaan, mungkin kebebasan dari segala rasa sakit.
Namun yang ia lihat adalah langit. Langit biru yang jernih, dengan awan putih berarak pelan. Udara terasa segar, tidak seperti bau lembap dan pengap yang biasa ia hirup di kamarnya.
Y/N mengerjapkan mata, berusaha memahami situasinya. Ia merasa… berbeda. Ringan. Tidak ada beban di dadanya, tidak ada rasa sakit di kepalanya.
"Ini… di mana?" gumamnya pelan.
Ia duduk perlahan, tubuhnya terasa lebih sehat daripada sebelumnya. Tangannya meraba-raba permukaan yang ia duduki—bukan kasur tipis di kamar sempitnya, tetapi sebuah tempat tidur yang empuk dengan seprai bersih berwarna putih.
Ruangan itu luas. Terlalu luas dan mewah untuknya. Jendela besar di sebelahnya terbuka, membiarkan angin sore masuk. Tirai putih berkibar pelan, membawa aroma teh yang samar.
Ini bukan rumahnya. Ini bukan tempat yang ia kenal.
Dan kemudian, ia melihatnya.
Seorang pria berdiri di ambang pintu, mengenakan setelan jas rapi dengan dasi yang sedikit longgar. Kacamata bundarnya bertengger di hidung, rambut pirangnya tersisir rapi, dan wajahnya tenang namun menyimpan sedikit kelelahan.
Nanami Kento.
Y/N membeku. Otaknya tidak dapat memproses kenyataan ini.
"Mustahil," bisiknya.
Nanami menatapnya dengan ekspresi datar, tetapi ada sedikit kehangatan di balik tatapannya. "Kau akhirnya bangun."
Jantung Y/N berdetak kencang. Ini tidak nyata. Ini hanya bisa terjadi dalam mimpi.
Tetapi semuanya terasa terlalu nyata.
"Di mana aku?" suaranya nyaris tak terdengar.
Nanami berjalan mendekat, matanya menatapnya dengan seksama. "Di rumah kita."
Y/N merasa napasnya terhenti. "Rumah… kita?"
Nanami mengangguk pelan. "Tentu saja. Kau istriku."
Dunia Y/N seakan berputar.
Bagaimana bisa?
Kenapa setelah kematiannya, ia justru berada di dunia anime?
Dan yang lebih penting… kenapa ia adalah istri Nanami Kento?
---
Di dunia lamanya, Y/N bukan siapa-siapa.
Satu-satunya kebahagiaan kecil dalam hidupnya adalah membaca manga dan menonton anime di sela-sela pekerjaannya. Dan dari sekian banyak karakter yang pernah ia kenal, hanya satu yang benar-benar membuatnya merasa aman.
Nanami Kento.
Ia menyukai kepribadiannya—pria yang tenang, bijaksana, tetapi menyimpan sisi lembut yang jarang ditunjukkan. Nanami adalah seseorang yang tidak akan pernah meninggalkannya. Seseorang yang, dalam pikirannya, bisa menjadi tempatnya bersandar jika saja ia hidup di dunia yang sama dengannya.
Dan sekarang… entah bagaimana, semesta telah membawanya ke sini.
Apakah ini hukuman? Atau hadiah kedua?
Y/N tidak tahu. Tetapi satu hal yang pasti—kematian bukanlah akhir baginya.
Ini adalah awal dari sesuatu yang baru.
YOU ARE READING
TRANSMIGRATION FOR NANAMI KENTO
Romance"dimana ini? bukannya aku sudah mati?" dia berjalan tergopoh-gopoh menyusuri ruangan yang berbau disinfektan itu. "tunggu dulu bukanya...itu.." terdiam sambil terus melihat kesatu arah . BRUKK ... cerita halu buat kalian semua yang ngehusbuin Nanami...
