01🌹

402 14 0
                                        

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!

Sebelumnya maaf jika ada salah pengetikan atau tanda baca ya, saya masih pemula dalam menulis, Makasih sudah mau kasih tau mana yang salah nanti saya akan perbaiki, dan selamat membaca.

🧕🏻

Dentang bel pulang sekolah, suara yang biasanya dinanti dengan riang gembira, kali ini terasa seperti lonceng kematian yang memecah keheningan kelas.

Para siswa, bagai kawanan burung yang dilepaskan dari sangkar, berhamburan keluar, suara riuh mereka menggema di koridor yang panjang dan sunyi. Zya, dengan langkah gontai dan bahu terkulai, meraih ponselnya dari dalam tas.

Layar ponselnya berkedip-kedip, menampilkan panggilan tak terjawab dari ayahnya. Jantungnya berdebar kencang, firasat buruk menyelimuti hatinya, seperti kabut tebal yang menghalangi pandangan.

"Assalamualaikum, Ayah," ucapnya dengan suara bergetar, nyaris tak terdengar.
Hening sejenak, hanya suara napas berat ayahnya yang terdengar dari seberang sana. Kemudian, suara ayahnya yang terdengar lemah dan bergetar, "Zya, Ibu... Ibu masuk rumah sakit."

Dunia Zya seolah runtuh, hancur berkeping-keping. "Astaghfirullah! Ayah nggak bercanda, kan?" Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, mengaburkan pandangannya.

Ia mendengar penjelasan ayahnya, setiap kata terasa seperti tusukan belati di hatinya yang rapuh. "Ya Allah... Oke, aku akan ke sana sekarang."

"Tapi, Ayah, aku mau ke sana!" Zya bersikeras, suaranya naik satu oktaf, namun ayahnya melarangnya, mengatakan bahwa ia harus menjaga rumah. Dengan berat hati, Zya mengalah, air mata menetes membasahi pipinya.

"Baiklah, Ayah. Aku pulang dulu. Salam untuk Ibu. Assalamualaikum."

Ia menghentikan Bu Lilis, tukang ojek langganannya, yang sudah mengenalnya sejak lama, bahkan sejak ia masih duduk di bangku SMP.

"Bu tolong antar saya pulang.." suaranya tercekat, tak sanggup melanjutkan kalimatnya, air mata kembali tumpah.

Bu Lilis, dengan tatapan penuh simpati, mengangguk.

Setibanya di rumah, Zya bergegas menuju kamar, mengambil Al-Qur'an dari meja belajarnya.

Dengan tangan gemetar, ia membuka halaman Al-Qur'an yang sudah lusuh, tanda sering dibaca.

Dengan suara lirih, ia melantunkan ayat-ayat suci, memohon kepada Allah untuk kesembuhan ibunya.

"Ya Allah, tolong Ibu hamba. Hamba belum siap kehilangan dirinya. Hamba sangat mencintainya. Hanya Engkau yang bisa menolongnya. Kabulkan doa hamba, ya Allah."

Tiba-tiba, suara lembut memanggil namanya dari luar, memecah keheningan yang menyelimuti rumah.

"Zya!."

Zya terkejut, menghentikan bacaannya, jantungnya berdebar kencang. Ia mengusap air matanya dan bergegas menuju pintu. Ia membuka pintu dan mendapati Chika, sahabatnya, berdiri di sana dengan wajah panik, matanya memerah.

"Assalamualaikum," ucap Zya, berusaha menenangkan diri, meskipun hatinya bergejolak.

"Waalaikumsalam! Zya, lo sudah tahu, Ibu masuk rumah sakit?," Chika bertanya dengan suara bergetar, air matanya tak terbendung.

Zya mengangguk, air mata kembali mengalir di pipinya, tak mampu menahan kesedihannya. "Ayah sudah telpon tadi."

Chika mendekat dan duduk di samping Zya, memeluknya erat, menyalurkan kekuatan dan dukungan. "Zya, yang sabar ya."

"Gue takut, Chik. Takut kalau Ibu..." Zya tak sanggup melanjutkan kata-katanya, tenggorokannya tercekat oleh isak tangis.

Chika berdiri di hadapannya, menatapnya dengan mata penuh kasih, berusaha menyalurkan ketenangan. "Ssst, jangan bicara seperti itu! Ibu pasti sembuh. Kita berdoa bersama, ya?."

Mereka berpelukan, kehangatan dan kasih sayang mengalir di antara mereka, seperti aliran sungai yang menenangkan. Keheningan menyelimuti mereka, namun keheningan itu penuh makna, tanpa perlu kata-kata.

"Oh ya, kalian dapat tugas dari Bu Lita?" Chika mencoba memecah keheningan yang menyelimuti mereka, berusaha mengalihkan perhatian Zya.

"Nggak, kenapa?," Zya bertanya dengan suara serak, matanya sembab.

"Ya ampun, Bu Lita gila! Kelas kami disuruh mencatat dari halaman 1 sampai 30!" Chika menggerutu, berusaha membuat Zya tertawa.

Zya tertawa kecil, meskipun hatinya masih terasa berat. "Namanya juga tugas, Chik. Apalagi kita mau lulus, pasti tugasnya makin banyak."

"Iya, ya. Nggak terasa kita sudah mau lulus. Nanti kita nggak bisa bertemu setiap hari, sedih!," Chika berpura-pura menangis, berusaha mencairkan suasana.

"Heh, rumah kita dekat, Chik! Sudah, yuk masuk. Gue belum selesai mengaji tadi." Zya mengajak Chika masuk, berusaha kembali ke rutinitasnya.

"Baiklah, Bu Ustadzah! Maaf sudah mengganggu ngajinya," goda Chika, berusaha membuat Zya tersenyum.

"Bu Ustadzah? Gue cuma mengaji, kok. Sudah, gue lanjut dulu, ya. Lo duduk aja di sini." Zya berkata sambil tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan kesedihannya.

"SIAP, BESTIE!," Chika berkata dengan semangat, berusaha menyemangati Zya.
Chika merasa lega melihat Zya tersenyum lagi, meskipun hanya sebentar.

Ia tahu, di balik senyum itu, Zya menyembunyikan kesedihan yang mendalam, seperti luka yang belum sembuh. Namun, ia berjanji pada dirinya sendiri, akan selalu ada untuk Zya, sahabatnya, apapun yang terjadi.

🧕🏻

Jangan lupa vote ya, maaf kalo emang ada kata-kata salah silahkan komen, Makasih.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

TAKDIR ALLAH [End!]Where stories live. Discover now