1.

9 1 0
                                        

Dia masih sibuk dengan benda elektronik di hadapannya. Mengetik hal-hal yang perlu diketik. Berapa lama ku harus diam menunggu. Ini sudah hampir 2 jam tak kunjung selesai.

"Belum selesai juga tugasmu itu?" tanyaku kepadanya tanpa basa-basi. Wajahku sudah menunjukkan mimik manusia yang sedang cemberut.

"Belum" jawabnya singkat.

Aku menghembuskan nafas panjang.

"Yasudah deh, aku pergi sendiri saja" ucapku lagi tanpa basa-basi.

"Iya. Hati-hati" ucapnya singkat.

Wajahku langsung merah emosi. Mengapa ga dari tadi aku pergi dari tempat membosankan ini. Huft. Bergidik sambil menatapnya tajam. Tak ada sepatahkatapun lagi, aku langsung membereskan barangku dan keluar dari cafe ini. 

Untung saja hari ini aku bawa motor sendiri. Lagian juga buang-buang waktu aku menunggunya. Dapet feedback engga, dicuekin mulu iya. Huft sebal.

Aku bergegas keluar cafe dan menuju parkiran motor. 

"Udah mau keluar ya mbak, sini saya bantu keluarkan motornya" kata bapak parkir di belakangku.

Mampus, aku lupa bawa uang cash, haduh gimana ini, bayar parkir pakai uang apa. Berpikir keras. 

"Eh sebentar pak, ada barang yang ketinggalan" ucapku kepada bapak parkir.

Aku langsung bergegas masuk ke dalam cafe lagi.

"Ehm, boleh ga aku-"

"Nih" jawab nya memotong perkataan ku sambil menyodorkan uang 2 ribu. 

"Besok aku ganti" ucapku sambil mengambil uang yang dia sodorkan padaku. Matanya melirikku sesekali lalu beralih ke layar laptop kembali.

Dia mengingat kebiasaan ku dengan jelas. Aku pun sedikit malu dan canggung.

...

Aku sudah sampai di pantai. Hembusan angin menerbangkan rambutku yang terurai. Aku menikmati suasana pantai di sore hari sendirian. Meninggalkan jae yang masih fokus mengerjakan pekerjaannya. Ini hari Sabtu, tapi masih saja dia menggebu-gebu untuk merampungkan project eventnya. 

Aku memotret beberapa spot keindahan pantai di sore hari. Sedikit selfie untuk mengabadikan momen. 

Keasyikan menyetting kamera dan berfoto ria. Tiba-tiba ada seseorang datang dari belakang dan menepuk pundakku.

"Aku tau kamu disini." ucapnya sembari menyodorkan eskrim durian kesukaanku.

"Udah selesai tugasnya?" tanyaku dengan nada cemberut sambil menerima eskrim.

"Belum, butuh angin segar sebentar." jawab Jae sambil merilekskan jari jemari tangannya ke atas.

"Dari tadi kek, kan aku gausa cape-cape kesini sendiri." ucapku sambil menyendok eskrim.

"Iya sayang, udahan ya marahnya, kamu lucu tau kalo lagi mam escim", ucap Jae sambil mencubit pipiku.

Sunset sebentar lagi muncul, angin terus berhempus pelan. Aku dan Jae mengobrol sambil menunggu sunset muncul. Itu yang biasa kita lakukan saat kepala penuh dengan hiruk pikuk.

...

"Jae..." ucapku sambil melihat bintang. Sunset hari sudah usai. Namun langit masih memancarkan keindahannya. Malam yang penuh bintang pun muncul. Aku dan Jae berbaring di atas pasir dengan bersender tas yang ada di kepala.

"Hmm?" Jae pun bergumam. Biasanya dia akan menanyakan saat aku hanya memanggilnya dengan nama. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Entah kenapa.

"Kamu percaya mimpi itu akan menjadi nyata?" tanya ku kepadanya.

"Mungkin iya mungkin tidak." jawabnya singkat. Aku pun menatapnya perlahan.

"Kenapa kamu jawab gitu" tanyaku sambil menyelidik.

"Sayang.. Kita ga akan tau yang akan terjadi di masa depan. Kita hanya bisa berencana. Sementara Tuhan yang akan mengatur semuanya. Namun jika kamu punya mimpi yang indah, perjuangkan untuk meraihnya. Gagal atau berhasil kita serahkan ke yang diatas." Jawab Jae sambil melihat langit sesekali melihat ku.

Aku pun merenungi perkataan Jae saat itu sambil melihat bintang.

...


CahayaStories to obsess over. Discover now