We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Snowgirl (Kazuha)

17 2 0
                                        

Seperti boneka salju yg dingin, tapi menggemaskan. Itu yg kulihat dari [Name]. Dia tak pandai bicara. Katanya, jika ada yg mengajaknya mengobrol, otaknya kan langsung beku, yg akhirnya membuatnya mengeluarkan kata-kata dengan mentah seperti hujan di bulan Desember. Kadang, itu seperti salju. Kadang juga tajam dan menyakitkan seperti es batu. Kendati begitu, ku tahu ada musim semi yg penuh dengan bunga-bunga rapuh di hati itu. Hanya orang-orang beruntung saja yg bisa melihatnya, dan salah satunya adalah diriku.

Buktinya dia mau membicarakan perasaannya tanpa ku minta, ketika bersama yg lain dia diam seribu bahasa. Dia mempercayai ku. Janjiku takkan menusuknya dari belakang seperti yg orang lain lakukan. Sudah cukup dia merasakan musim panas tersebut. Dan lagi, kau tidak bisa bayangkan betapa sulitnya diriku mendapatkannya. Seperti memanjat gunung Everest. Tidak mungkin ku menghancurkannya pada akhirnya.

[Name] menggigil ketika kami keluar dari hotel, menginjakkan sepatunya di salju tuk pertama kalinya. Malam tadi hujan salju pertama di bulan Desember, di Sneznhaya (Rusia) ini. Aku tahu jika ku menjuluki dia sebagai Snowgirl, padahal jika diambil dari sisi ini, [Name] bukanlah orang yg tahan dingin. "Haruskah kita membeli mantel yg lebih tebal lagi, My lady?"

"Tidak, aku sudah mirip kepompong sekarang. Aku hanya butuh waktu tuk membiasakan diri," jawabnya, menggosokkan kedua telapak tangannya yg bersarung. Ku tersenyum sedikit geli. Ya, dia mirip kepompong. Atau kucing anggora yg bulu-bulunya mekar ketika cuaca dingin? Domba? Ah, aku punya banyak julukan untuknya sekarang. Maafkan aku, tapi dia menggemaskan sekali. Wajahnya yg memerah karena membuat panas tuk melawan dingin, butiran-butiran salju yg menghiasi rambutnya seperti sprinkle dari peri (awas saja jika ada yg mengatakannya: justru seperti ketombe).

"Seperti kepompong tidak masalah. Karena ketika kau sudah terbiasa dengan ini, kau akan jadi kupu-kupu winter yg indah. Bagaimana jika kita berdansa?"

"Sekarang?" Alisnya naik, tampak terkejut dan excited di saat yg bersamaan. [Name] dan dirinya yg selalu jujur.

"Yeah, kenapa tidak? Bukankah itu salah satu rencanamu ketika kita liburan ke sini?" Aku terkekeh kecil. "Berdansa juga bisa memanaskan tubuh, My Lady." Kutarik tangannya lembut, sementara tanganku yg lain merengkuh pinggangnya, mengikis jarak diantara kami, berbisik, "walau tidak sepanas saat kita di ranjang."

"Zuha!"

"Apa?" Bibirku tersenyum polos, seperti tatapan sepasang ruby di mataku yg layaknya belum dipoles. "Apa yg kau pikirkan, [Name]? Bukankah di ranjang memang hangat? Di bawah selimut, di atas kasur yg empuk. Dengan termostat di atas 25 derajat. Kau bisa tidur nyaman meski di luar sedang hujan badai." Ucapan ku tak salah, bukan? Wajah [Name] semakin memerah. Apa dia semakin kedinginan?

"Kau baik-baik saja? Haruskah kita kembali dan ke ranjang--"

"Tidak! Ayo kita berdansa! Hujan salju yg lembut ini sempurna, kita tidak boleh menyia-nyiakannya, kan?" [Name] gelagapan. Tangannya menggenggam ku erat, dan bibir merahnya terpilin menunjukkan kegugupan dan malu. Melihatnya seperti ini membuatku jadi ingin mengaku jika kata-kata ku tadi memang mempunyai dua makna. Dan membuatku ingin melakukannya sekarang juga... Tidak, bercanda. Aku tidak se-bajingan itu. Tunggu sampai kita menikah, [Name].

"Zuha? Hey, ada apa?"

"Hm?" Suara [Name] membuyarkan pikiran ku yg hampir melalang buana. Aku menggeleng, tersenyum kecil. "Tidak, aku hanya sedang hanyut pada sepasang snowman yg dibuat dua anak kecil itu," jawabku berkilah, menunjuk dengan dagu pada dua anak kecil, laki-laki dan perempuan, yg tak jauh di belakangnya tengah menghias dua snowman yg mewakili gender mereka. Sangat niat. Snowman yg satu memakai rok, dan tudung transparan hitam di belakang kepalanya serta mahkota bunga di atas. Sementara yg lain dipakaikan dasi merah dan dedaunan sebagai hiasan pelengkap. "Mirip kita, ya?"

"Yeay! Done! Mereka sudah sah sebagai suami-istri!" Gadis kecil itu bersorak, dia melempar-lempar dedaunan sisa seolah itu adalah bunga-bunga pemberkatan di akad pernikahan. "Selamat kepada kedua mempelai! Selamat!"

"Yeah! Sekarang kalian sudah bisa berpelukan dan berciuman semau kalian! Selamat!"

"Aku tidak melihat itu mirip dengan kita?" jawabannya mengandung antisipasi serta dorongan, dengan satu alisnya yg terangkat, menambah kegemasan.

"Hmm, yah, kurasa itu imajinasi ku saja. Kau benar. Itu tidak mirip dengan kita. Karena ku tak perlu menunggu kita menikah tuk memeluk dan menciummu semauku, bukankah begitu?"

"What a pervert," gumamnya. Kulitnya yg pucat benar-benar membuat rona merah itu mudah dilihat.

Bibirku tidak bisa menahan seringai. Sama sekali tidak tersinggung. Ku dekatkan wajah sampai cukup tuk membuat nafas kami yg mengepul karena dingin saling bertemu. "Pervert? Kenapa begitu? Bukankah itu fakta, My Lady??" Ujung hidungku membelai sisi wajahnya, saat kurengkuh pinggang itu semakin dekat. Aroma segar citrus dan bubblegum mint dari tubuh [Name] memanjakan indera. Sedikit saja sudah membuat ku candu seperti segelas wine yg mampu menerbangkan kalbu.

"Fakta apa--"

"Ku bisa menciummu sesukaku meski diluar nikah?"

"Tidak!"

Kakiku mundur beberapa langkah ketika dia mendorongku. Tapi ku sama sekali tak bisa marah dengan ekspresi yg ditampilkannya, justru terkekeh. Flustered, confused, and annoyed, menjadi satu di wajah ayu itu. Andai mataku punya fitur kamera yg bisa otomatis memotret saat pikiran ku ingin, aku ingin mengabadikannya.

"Baiklah, aku hanya bercanda, [Name]. Maafkan aku, ya? Kau benar, itu tidak boleh. Tapi jika sudah menikah, berarti boleh, bukan?"

"Y-ya...."

Dia memalingkan wajahnya, kesempatan untukku berlutut dan mengeluarkan cincin bermata daun maple dari sakuku. Bukan berlian, tapi maknanya melebihi berlian. Dedikasi jika ku kan setia dan selalu berani menghadapi dunia bersamanya. "Then, [Name], Will you marry me? Like those snowman. But I'm promise my love for you never end."

Matanya membelalak, beradu dengan tatapanku yg penuh harap. Waktu terasa bergerak lambat, sementara jantungku berdetak begitu cepat. Angin dingin menyapa lembut, memperparah kupu-kupu yg gelisah di perut. Menerbangkan butiran-butiran salju ke awang, seperti membantu doaku tuk sampai ke Tuhan.

"Kau... serius?"

"Apakah kau ingin aku bercanda, My Lady?" Alisku berkerut samar, kecewa mulai merayap seperti harapan yg meleleh bak salju di akhir winter, kala melihat ekspresinya yg masih kaku. Dia tidak mau? Sepertinya ku terlalu cepat (dua tahun), seharusnya ku ingat. [Name] juga bukanlah orang yg menyukai pernikahan. Kakiku berdiri perlahan. Ingin ku tersenyum, tapi tak bisa meski sudah ku paksa. Tuk mengatakan "tak apa", namun, hatiku memang tidak bisa berbohong jika sekarang ku tak apa.

"Maaf--" tenggorokan ku tercekat, [Name] tiba-tiba memelukku dengan erat. Anak-anak rambutnya menggelitik wajahku. Dan sekarang, suaranya yg membuatku membeku, namun, kali ini seperti salju yg membawa kesenangan pada orang-orang yg menantikan.

"Iya, aku mau. Aku mau menikah denganmu, Zuha!"

"Kau... serius?"

"Apakah kau ingin aku bercanda, Zuha?" Alisnya berkerut samar saat dia sedikit menarik diri. Aku terkekeh, membawanya dalam pelukan lagi, berputar dan menari di atas salju, tak memedulikan orang-orang di sekitar yg curi-curi pandang seolah ini adalah walk teater winter.

"Tidak, aku tidak ingin kau bercanda! Jika bisa, aku ingin kita menikah sekarang juga."

"Jangan bercanda!"

Kami tergelak bersama.

[End]

Random FFStories to obsess over. Discover now