Chapter 1 • Pertemuan

558 50 1
                                        

Lumrah adanya bagi seorang mahasiswa untuk lebih individualis selama menjalani kehidupan mereka menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Berbeda dengan kehidupan sekolah tinggi yang masih kental akan kobaran gairah remaja, masa transisi terjadi ketika mereka telah menyandang status sebagai ‘alumni’.

Tentu, tak semua lulusan sekolah tinggi akan melaju ke ranah perguruan tinggi, ada pula yang beralih setir ke dunia profesional lewat pelatihan khusus atau langsung menempa pengalaman mereka di dunia kerja lebih awal. Pola hidup manusia sungguh menarik bukan? Ditengah garisnya yang kadang nampak monotone itu, bila mampu digali lebih dalam, akan nampak susunan benang kusut yang seketika buat kita berdecak heran bahkan gusar.

“Kau harusnya masuk Psikologi kenapa malah berada di jurusan sastra?”

Perhatian seorang pemuda yang tengah membaca buku sambil memegang sendok berisi satu suap nasi makan siangnya yang belum sempat ia santap pun buyar.

“Tck– kau mengganggu.” Balasnya sinis.

“Oh no no— kau harusnya merasa bersalah! Apa boleh mendiamkan makanan seperti itu? Demi buku mengerikanmu itu?” ujar seorang pemuda berwajah manis dengan dramatis sebelum tampakkan senyum usilnya.

“Hanbin-ssi, learning human life bukan buku mengerikan.” Pemuda itu menyebut judul buku di tangan kirinya yang sejak tadi menyita perhatiannya hingga abai dengan santapan lezat di loyang makannya.

Pemuda bernama Hanbin yang tengah berdiri dengan nampan yang sudah kosong itu pun berjengit ngeri. “Kau sebut buku setebal itu tidak mengerikan? Heol— sudahlah aku duluan, ada janji dengan Jiwoong.”

“Hm.”

Pemuda itu hanya berdeham singkat yang kemudian buat Hanbin memutar bola matanya malas lalu membuat gestur seperti ingin memukul namun segera beranjak (kabur) saat dapatkan lirikan sinis dari mata jernih bak bayi rusa pemuda itu. Satu suap nasi yang sejak tadi ia abaikan pun masuk ke mulutnya. Memeriksa waktu istirahat dari smartwatch di tangan kanannya kemudian. Masih banyak waktu, pikirnya.

Suasana kantin yang saat itu hanya diisi beberapa orang pun mulai ramai oleh mahasiswa dari fakultas lain yang dapatkan kupon makan siang mereka disana. Pemuda itu sedikit kerucutkan bibirnya hingga nampak melengkung cantik sebelum kembali alihkan perhatian pada bukunya sembari tetap menyuap nasi di sela jeda.

Di sisi lain, bersama kerumunan mahasiswa yang membanjiri kantin, sekelompok pemuda yang terdiri dari 4 orang nampak berjalan memasuki area luas tersebut sambil tiada henti menyapa orang-orang yang kebetulan berpapasan hingga mungkin 4 orang tersebut nampak seperti idol? Sebab visualnya pun nampak tak biasa.

“Wow… kantin disini luas berbeda dengan di kampus ku sebelumnya.” decak seorang pemuda yang matanya mengedar seolah tengah meneliti tiap sudut ruang tanpa luputkan barang satu celah pun.

Pemuda dengan postur lebih pendek pun tersenyum seraya gelengkan kepala. “Kantin milik fakultas medical bahkan lebih luas dan mewah dari ini. Jungwon anak yang beruntung tapi sangat baik karena masih mau makan bersama rakyat jelata seperti kita.” Godanya melirik ke belakang pada pemuda yang garis matanya nampak cantik seperti kucing namun kini berikan sorot cemberut.

“Berhenti menggodaku. Kau juga bisa saja kuliah di kampus mewah kalau mau kan Kak? Harusnya kau mengajakku kuliah dan tinggal di Australia.”

“Eii~ mana mungkin aku bisa pergi kalau bocah Jepang di belakangmu itu selalu menempel padaku?”

“Siapa yang menempel padamu? Kau saja yang tiap kesepian selalu mendatangiku, dasar clingy.”

“Huh? Apa katamu?!”

Buaian Si Riuh Jenaka | HOONSEUNGStories to obsess over. Discover now