Di pertengahan bulan November hingga akhir Desember, bentang alam ini dipenuhi berbagai ragam warna yang berangsur-angsur dari Utara ke Selatan. Di antara banyaknya daun berjatuhan, yang paling aku sukai adalah dedaunan berwarna kuning dengan aroma khasnya yang manis dan lembut.
"Aku suka duduk di bawah pohon ini. Aku suka aroma daun katsura yang jatuh. Rasanya menenangkan." Katamu dengan senyum yang mekar berseri-seri.
Senyum yang bagaikan matahari di musim gugur. Itu cukup memberi kehangatan pada tubuh yang dilanda sejuk. Kamu mengenakan kimono merah muda favoritemu dengan rambut yang terurai. Meraih satu dedaunan kastura yang jatuh ke tanah untuk dihirup. Dan aku bersumpah itu adalah pemandangan yang paling aku sukai di musim gugur.
"Ingat pertama kali kita bertemu?" Suara lembut itu seakan terngiang jelas di telingaku. Melemparku tiga tahun sebelum hari ini, di musim gugur yang lalu.
"Bagaimana mungkin aku melupakannya?"
Dan itu cukup untuk membuat senyummu kembali merekah. Membuat tubuhku cukup memompa lebih banyak darah agar oksigen dan energi cepat sampai ke otot dan otak. Hanya dengan begitu, tanganku sampai gemetar. Dan hanya dengan begitu, kau mengukir memori paling indah sekaligus menyakitkan selama satu tahun ini.
"Suatu hari nanti, jika kita menikah aku ingin kita punya dua anak. Satu anak perempuan dan satu anak laki-laki." Kamu tampak bersemangat hari itu, "Anak-anak akan tumbuh dengan baik di Hokkaido. Kita akan tinggal di sini dan hidup bahagia. Nezuko akan menjadi seorang istri dan ibu yang baik, dan Tomioka Giyuu akan menjadi seseorang suami dan ayah yang bertanggung jawab. Kita hanya akan hidup sederhana. Ayah bekerja dan ibu mengurus anak-anak dan rumah tangga. Kelak, anak-anak akan bersekolah, menjadi cerdas, mendapatkan pekerjaan yang baik dan menemukan cinta sejatinya. Lalu kita hanya akan menua, saling merawat satu sama lain dan akhirnya mati dengan tenang."
Pecahan-pecahan mimpi yang kau gambarkan hari itu, hingga kini masih tetap di hatiku. Kesederhanaan yang kau rajut dalam mimpi-mimpi kecilmu, kemudian kau tinggalkan, dan mimpi itu kau titipkan kepadaku dalam bentuk kenangan yang manis.
Aku tidak tahu sudah berapa kali aku menangis hari ini. Aku berpikir tidak ada yang lebih baik selain momen-momen yang berjalan beriringan denganmu. Warna biru pada langit yang ku lihat hari ini, kelak aku pun akan berada di sana, bukan? Meraih tangan lembut yang terus melambai-lambai ke arahku dari atas.
Bisakah aku menyalahkan seseorang untuk ini semua?
Aku hanyalah pria yang tidak mengerti arah hidupku sebelum akhirnya kau datang. Aku tidak pernah merajut mimpi apa-apa. Bagiku, hidup hanya akan berlangsung untuk hari ini dan belum tentu ada hari esok.
"Jangan takut, jangan menunduk, karena kamu tidak melakukan kesalahan!"
Kata-katamu akan selalu terngiang di kepalaku. Aku kembali merasakan kehangatan memenuhi ruang di dalam dadaku setelah sekian lama. Sebelumnya tidak ada yang pernah mengatakan itu.
"Tidak peduli seberapa menyakitkan dan seberapa banyak kehilangan yang kau alami. Kau harus tetap hidup." Aku sangat tersentuh.
Ya, aku mendengarnya. Masih ada yang menginginkan Tomioka Giyuu tetap hidup.
Bahkan meskipun aku menutup mataku, aku masih bisa mengingatnya dengan jelas. Kimono merah muda yang menjuntai diterpa angin. Surai indah yang berayun-ayun. Dan senyum yang selalu mampu membuat hatiku hangat.
Aroma khas pohon Katsura memenuhi penciumanku. Rasanya aku seperti merasakan kehadiranmu di sini. Saat aku meraih satu dedaunan dari Katsura yang jatuh ke tanah, aku mengenangmu. Aku sangat menghormatimu.
Kehidupan baru yang kau bawa bersamamu kemudian yang kau bawa pergi jauh dari sini. Aku menantikan tangan mungil yang menggenggam jariku menyebarkan kehangatan hingga ke tulang-tulang. Tetapi sepertinya kau pun teramat mencintainya. Kau lebih memilih membawanya bersamamu lebih awal.
Aku ingin kau kembali bergabung dan kemudian memori kita akan selalu tersimpan di hatiku yang penuh karenamu, dengan jumlah yang tidak terbatas.
Aku berdiam di sini sejak hampir satu jam yang lalu. Di bawah pohon Katsura tempat kita pertama kali bertemu di pegunungan Hokkaido. Orang-orang lalu lalang. Dan aku hanya bisa tersenyum kecil melihat kebahagian-kebahagiaan mereka yang harusnya bisa aku dapatkan. Telunjuk yang digenggam erat oleh tangan mungil saat berjalan beriringan, melihatnya membuat hatiku hangat sekaligus sakit.
Matahari bersinar menembus kesejukan di bulan Desember. Aku masih mengingat senyum berseri-seri itu merekah dengan indah. Ikatan berharga ini tidak akan pernah menghilang. Bahkan meskipun aku harus mati dan bereinkarnasi berkali-kali, mimpi itu masih tetap sama. Tersimpan rapi di dalam hatiku dan tidak akan pudar. Aku berjanji akan membawa potongan memori itu berapa kali pun aku hidup.
Aku bersumpah, aku tidak pernah menyesal mengenalmu dan membawamu masuk ke dalam hidupku, Nezuko. Aku mencintaimu.
•••
Terinspirasi dari lirik lagu Kamado Nezuko no Uta.
Fanfiksi singkat yang dibuat pas lagi gabut.
Menceritakan isi hati Tomioka Giyuu kepada istrinya, Kamado Nezuko yang meninggal satu tahun lalu akibat mengalami 'Intrauterine fetal death'.
Giyuu yang merasa terpukul kerap kali mendatangi tempat di mana dia dan istrinya pertama kali bertemu. Namun bagian favoritnya adalah pada musim gugur. Musim di mana dia dan istrinya pertama kali bertemu. Musim yang selalu mengantarkan rasa rindu padanya. Di bawah pohon Katsura pegunugan Hokkaido, kenangan itu akan selalu abadi.
VOCÊ ESTÁ LENDO
Aki no Katsura no Kaori
FanficDalam selang waktu yang terus berganti, kenangan-kenangan indah terus melayang terbang. Pecahan-pecahan mimpi yang kulihat hari itu, hingga kini masih tetap di hatiku. Bahkan meskipun aku harus bereinkarnasi berkali-kali, mimpi itu akan tetap sama. ...
