Waisenstift Varel — Jerman
"Nyonya Grayon, apa keperluan Anda datang ke sini? Apakah Anda berniat mengadopsi seorang anak?"
"Tidak. Um... Entahlah. Saya sendiri tidak yakin apakah saya bisa menyebut ini sebagai niat untuk mengadopsi seorang anak," jawab wanita itu ragu-ragu, membuat lawan bicaranya mengerutkan kening, jelas bingung dengan sikapnya yang penuh keraguan.
"Maksud Anda apa? Kalau begitu, untuk apa Anda datang ke sini kalau bukan untuk mengadopsi seorang anak, hm?" Wanita tua itu hanya terkekeh pelan, menunjukkan senyuman tipis sebelum dengan anggun menyeruput teh hangat yang ada di tangannya.
"Begini, Miss Hardzas, saya datang ke sini untuk menemui seorang gadis muda yang tinggal di tempat ini. Saya dengar, ada seorang gadis yang masih menetap di sini?" Wanita perawan tua berusia 49 tahun itu berdecak pelan, kemudian menjilat bibirnya yang terasa kering.
"Memang benar. Gadis itu masih tinggal di sini. Sejak bayi, aku yang merawatnya. Namun, dia memiliki kekurangan. Apakah Anda masih berminat untuk mengadopsinya?"
"Kekurangan?" Wanita bernama Seleste Hardzas itu mengangguk.
"Kekurangan apa?" tanya Sofia penasaran.
"Gadis itu mengidap sindrom Peter Pan, sebuah kondisi di mana pada usia 22 tahun, dia masih bersikap seperti anak-anak berusia 6 tahun," ujar wanita itu, membuat Sofia Grayon sedikit terkejut dan membesarkan matanya mendengar penjelasan tersebut.
"Secara fisik, gadis itu memang sudah dewasa, namun secara mental dan psikologis, dia masih sangat kekanak-kanakan. Sindrom ini sering disebut juga dengan nama King Baby atau Little Prince Syndrome. Tapi, meskipun terdengar serius, ini bukanlah penyakit yang mematikan," lanjutnya.
Sofia terdiam sejenak, membiarkan keheningan mengisi beberapa detik di antara mereka. Kemudian, Seleste menatapnya tajam. "Apakah Nyonya masih berminat untuk mengadopsinya?"
"Say—"
"Ah, ya... Aku lupa," potong Seleste cepat, tampak sedikit terburu-buru. "Bukankah Nyonya sudah memiliki seorang cucu laki-laki? Dan sepertinya dia sudah tumbuh menjadi pria yang cukup maskulin, bukan?" Seleste memandang Sofia dengan pandangan penuh tanya, bingung.
Sofia Grayon memang sudah memiliki seorang anak, satu-satunya. Anak tersebut sudah menikah dan memiliki seorang cucu laki-laki. Namun, entah mengapa, wanita berusia 71 tahun itu masih datang ke panti asuhan dengan niat mengadopsi seorang anak.
"Ya, kau benar. Tapi aku datang ke sini bukan untuk mengadopsinya. Aku berniat merawatnya dan menjadikannya sebagai perantara dalam hubungan antara cucuku," jawab Sofia, dengan nada tenang. Seleste mengangkat keningnya, sedikit terkejut.
"Maksudmu, kau akan menjadikan gadis itu sebagai pihak ketiga dalam hubungan mereka?" tanya seleste, yang membuat sofia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Tampak sedikit jengkel di wajahnya.
"Bisakah kau langsung membawakan gadis itu ke sini? Aku benar-benar terburu-buru," tambah Sofia, sambil melirik jam arlojinya dan menatap Seleste dengan tatapan datar.
***
"Kuharap kalian memperlakukannya sebaik mungkin."
YOU ARE READING
ENAMORED
RomanceGadis dengan tingkah laku kekanak-kanakannya itu benar-benar mengusik pria dewasa itu-mengusik ketenangan serta tatanan hidupnya yang mapan. Kesabarannya hampir habis menghadapi kehadiran gadis yang, entah bagaimana, berhasil menyeret dirinya ke dal...
