Bel sekolah berbunyi nyaring, menandakan berakhirnya pelajaran di jam kedua. Riuh suara dan langkah kaki berhamburan keluar kelas, bagaikan semut yang keluar dari sarangnya. Aroma masakan yang menggoda dari kantin tercium samar, membangkitkan rasa lapar di perut. Hampir semua murid berbondong-bondong menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang keroncongan.
Namun, dengan kacamata bulat dan rambutnya yang diikat rapi. Dia tetap duduk di bangkunya, membuka buku pelajarannya dengan tekun.
Rara dan Amel, dua sahabat Niskala, menghampirinya. “Ayo, Kala, ke kantin yuk! Lapar nih!” ajak Rara dengan ceria.
Niskala menggeleng pelan. “Nggak mau,” jawabnya singkat.
“Belajar lagi? Tapi, kala, ini kan jam istirahat. Kita perlu makan dan bersantai sejenak,” kata Amel sambil menepuk pundak Niskala.
Niskala menutup bukunya sejenak dan menatap kedua sahabatnya. “Aku ingin nilai terbaik di kelasku,” jelasnya dengan nada serius.
Rara dan Amel saling bertukar pandang, kerutan kecil muncul di dahi mereka. “Tapi, kamu nggak perlu belajar berlebihan. Perempuan itu nanti tugasnya di rumah, ngurus anak suami” ujar Rara dengan nada merendah.
Niskala terdiam sejenak, rahangnya mengeras menahan emosi. Dia ingin membantah perkataan Rara, ingin mengatakan bahwa perempuan juga berhak meraih mimpi dan cita-citanya. Tapi, dia tidak ingin pertengkaran di antara mereka.
“Aku mau belajar, kalian berdua ke kantin saja,” kata Niskala akhirnya, suaranya datar.
“Yaudah bye, kala” Kata rara sambil berjalan keluar.
Setelah Rara dan Amel pergi. Diva, sang ratu sekolah, bersama gengnya menghampiri Niskala. Mereka terkenal dengan mulut pedas dan suka menjulidkan orang lain.
“Wah, wah, Niskala cantik lagi belajar nih? Rajin banget ya, mau jadi kutu buku?” Ujar Diva dengan postur mengejek Niskala.
Geng Diva tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Diva.
Niskala mencoba untuk mengabaikan mereka, tetap fokus pada bukunya. Namun, suara mereka yang nyaring dan tawa yang mengejek membuatnya sulit untuk berkonsentrasi.
Diva mendekat ke Niskala, matanya penuh dengan sinis. “eh jablay!, lo gak denger kata temen lo tadi?, Mau lo belajar sampek gimanapun, tetep bakalan jadi babu rumah tangga. HAHAHA”
Niskala akhirnya tidak tahan lagi. Ia menutup bukunya dengan suara keras dan menatap Diva dengan tajam. Niskala melakukan tindakan yang seharusnya tidak di lakukan, Niskala berdiri dari bangkunya dan mengacungkan jari tengahnya ke Diva. Membuat Diva tercengang, tidak pernah ada yang berani membalasnya seperti itu.
Niskala pergi ke kantin, bukan untuk makan, melainkan untuk mencari tempat belajar yang lebih nyaman. Ia menghampiri Rara dan Amel. Rara dan Amel pun bertanya dengan heran, karena Niskala jarang sekali ke kantin.
“Idih, tadi di ajak gamau, sekarang mah ngintil” Ucap Rara.
“Tumben Lo ngikut ke kantin, biasanya ga mau tuh” Ujar Amel, dengan ekspresi heran.
“Iya, ada tikus di kelas” Kata Niskala, sambil membuka buku nya kembali.
Tiba-tiba, Diva dan gengnya datang ke kantin. Mereka melihat Niskala dan langsung menyiramkan jus jambu ke bajunya. Niskala terdiam sejenak, terkejut dan marah. Diva dengan nada sinis bertanya, “Siapa lo? Berani-beraninya sama gue?”. Niskala dengan lantang dan penuh emosi menjawab, “Gue Niskala”.
Niskala memberanikan diri dan menginjak kaki Diva. Ia berkata dengan tegas, “Emangnya lo siapa? Sampai gue harus takut sama lo?”.
Untuk pertama kalinya, Niskala menggunakan kata-kata kasar, seperti “lo” dan “gue”. Ia merasa kesal dan ingin melawan Diva. Niskala kemudian mengambil minuman Rara dan menyiramkannya ke Diva.
Tanpa membuang waktu lagi, Niskala langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
***
Niskala melangkah keluar dari kamar mandi dengan wajah murung. Noda jus jambu yang menempel di seragamnya setelah pertengkarannya dengan Diva di kantin tadi pagi, ternyata tidak bisa hilang semaksimal mungkin ia berusaha membersihkannya. Noda itu bagaikan bayangan masa lalunya yang menghantuinya
Saat ia berjalan di lorong sekolah, bisikan-bisikan julid dari murid lain mulai terdengar. “Oh, ini yang bertengkar sama Diva tadi,” kata seorang murid dengan nada mengejek. “Berani banget ya,” timpal murid lainnya.
Niskala menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan noda jus jambu itu dengan tasnya. Ia merasa malu dan dipermalukan. Pertengkarannya dengan Diva tadi memang bukan sesuatu yang ingin dia ingat.
Tiba-tiba, Niskala merasakan sesuatu mendarat di pundaknya. Ia menoleh dan melihat jaket base ball berwarna hitam bersemu putih tergeletak di sana. Seorang laki-laki dengan rambut cokelat gelap yang memberikan jaket itu kepada Niskala.
Sebelum Niskala sempat mengucapkan terima kasih, laki-laki itu pergi begitu saja. Niskala terdiam sejenak, bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Ia tidak mengenal laki-laki itu, dan ia tidak tahu mengapa dia memberikan jaketnya kepada Niskala.
Niskala ragu-ragu sejenak, tapi kemudian dia memutuskan untuk memakai jaket itu. Jaket itu terasa hangat dan nyaman di tubuhnya, dan noda jus jambu di seragamnya pun tertutupi dengan sempurna.
Niskala melanjutkan perjalanannya ke kelas, dengan perasaan yang lebih tenang. Jaket misterius itu bagaikan hadiah kecil yang tak terduga, yang membantunya melewati hari yang sulit.
Chapter 3 was published
#ParadeMumtazBatch1
#TantanganMenulisNovel
