Alya selalu percaya bahwa cinta adalah sesuatu yang sederhana. Tidak perlu berlebihan, tidak harus selalu ditunjukkan dengan hadiah mahal atau janji manis yang membumbung tinggi. Baginya, cinta adalah ketika seseorang pulang ke rumah setelah seharian lelah bekerja, lalu tersenyum melihat wajahmu, meskipun rambutmu kusut atau wajahmu tanpa riasan. Itu cukup.

Dan itulah yang ia rasakan sejak menikah dengan Raka dua tahun lalu.

Pagi itu, cahaya matahari menembus tirai jendela kamar mereka di sebuah rumah kecil sederhana di sudut Jakarta. Suara burung gereja yang bersahutan terdengar samar, berpadu dengan aroma kopi yang sedang menetes dari mesin kecil di dapur. Alya membuka mata, menoleh ke samping, dan mendapati wajah Raka yang masih terlelap. Sesuatu di dalam dirinya selalu bergetar ketika melihat suaminya tidur dengan damai. Ada rasa syukur yang tak pernah gagal hadir setiap pagi: bahwa ia memiliki seseorang yang begitu ia cintai, dan seseorang itu memilih untuk mencintainya kembali.

Dengan hati-hati, Alya bangkit dari ranjang, berusaha tidak membangunkan Raka. Ia berjalan ke dapur, menyiapkan sarapan sederhana: roti panggang, telur dadar, dan secangkir kopi hitam yang selalu menjadi favorit suaminya. Sesekali, sambil menunggu roti matang, Alya melirik ke arah meja makan. Di sana, ada vas bunga kecil berisi mawar putih yang sudah agak layu, hadiah dari Raka seminggu lalu.

“Sayang, kamu bangun terlalu pagi,” suara serak Raka memecah keheningan. Ia berdiri di ambang pintu dapur, rambutnya masih acak-acakan, dengan senyum lelah namun hangat.

Alya terkekeh. “Kalau aku bangun siang, nanti kamu telat ke kantor. Mau makan apa coba kalau bukan masakanku?”

Raka menghampiri, lalu tanpa banyak kata merangkul pinggang istrinya dari belakang. “Masakanmu selalu jadi alasan aku semangat kerja. Bahkan lebih kuat dari kopi.”

Alya pura-pura cemberut, meski pipinya memerah. “Gombal pagi-pagi.”

Momen kecil seperti itu yang selalu membuat Alya merasa rumah tangganya sempurna. Mereka tidak kaya raya, tidak punya mobil mewah atau rumah besar, tapi setiap pagi dimulai dengan canda sederhana yang cukup untuk membuatnya tersenyum sepanjang hari.

Setelah sarapan, Raka bersiap ke kantor. Ia bekerja sebagai manajer pemasaran di sebuah perusahaan properti, sementara Alya memilih bekerja dari rumah sebagai penulis lepas. Ia suka menulis cerita anak, cerpen, dan artikel ringan untuk beberapa media daring. Pekerjaan itu membuatnya bisa tetap berada di rumah, mengurus kebutuhan Raka, sekaligus menyalurkan passion yang ia cintai.

Sebelum berangkat, Raka mengecup kening Alya. “Doakan aku biar lancar meeting hari ini, ya.”

“Selalu.” Alya tersenyum. “Jangan lupa makan siang, jangan telat pulang.”

Raka tertawa kecil. “Iya, Bu Guru.”

Dan dengan itu, pintu rumah tertutup, meninggalkan Alya sendirian. Ia duduk di kursi dekat jendela, menatap langit biru Jakarta yang mulai ramai dengan suara klakson kendaraan. Hatinya dipenuhi rasa syukur. Kadang ia berpikir, mungkin ia terlalu beruntung. Tidak semua orang bisa menemukan pasangan yang begitu perhatian dan bertanggung jawab.

Hari-hari berlalu dengan rutinitas manis yang hampir sama. Alya menulis, memasak, menunggu Raka pulang. Setiap malam, mereka makan bersama sambil bercerita tentang hal-hal kecil: tentang rekan kerja Raka yang lucu, atau tentang ide cerita baru yang sedang ditulis Alya. Sesekali, mereka menonton film lama sambil berpelukan di sofa, tertawa pada adegan-adegan konyol yang sudah mereka hafal.

Namun yang paling Alya sukai adalah kebiasaan sebelum tidur. Raka selalu menggenggam tangannya, lalu berbisik, “Terima kasih sudah menjadi rumah untukku.”

Dan setiap kali mendengar itu, Alya merasa seperti orang paling bahagia di dunia.

---

Suatu sore, Alya sedang menulis di laptop ketika Raka tiba-tiba pulang lebih cepat. Ia tampak lelah, dasi dilepas, wajahnya pucat. Alya segera bangkit.

1Where stories live. Discover now