hai

6 0 0
                                        

Di sebuah kota kecil, hiduplah seorang pria bernama Alfredo yang dikenal oleh semua orang di lingkungan sekitarnya. Alfredo adalah sosok yang unik dan selalu membawa keceriaan di mana pun dia berada. Alfredo memiliki keterbelakangan mental yang membuatnya melihat dunia dengan cara yang berbeda. Salah satu kebiasaannya yang paling mencolok adalah kebiasaannya menatap wanita sambil membuka mulut lebar-lebar.

Suatu hari, di taman kota yang ramai, Alfredo sedang duduk di bangku sambil menikmati es krim kesukaannya. Tiba-tiba, seorang wanita muda bernama Maria berjalan melintasi taman. Maria adalah seorang penari balet yang anggun dan selalu menarik perhatian dengan langkah-langkahnya yang lincah. Begitu melihat Maria, Alfredo segera terpesona dan, seperti biasanya, menatapnya dengan mulut terbuka lebar.

Maria, yang merasa ada seseorang menatapnya, segera menyadari Alfredo. Ia tersenyum ramah dan melambai kepadanya. Alfredo, bukannya membalas dengan lambaian, justru semakin membuka mulutnya lebar-lebar seolah-olah dia baru saja melihat sesuatu yang sangat menakjubkan. Hal ini membuat beberapa orang di sekitar mereka mulai memperhatikan dan tertawa kecil.

Maria, yang penasaran, mendekati Alfredo dan berkata, "Hai, Alfredo! Apa kabar?" Alfredo, dengan mulut yang masih terbuka, hanya bisa mengangguk-angguk sambil tersenyum lebar.

Melihat Alfredo yang selalu menatapnya dengan cara yang lucu, Maria memutuskan untuk mengajaknya berbicara lebih lama. Mereka berdua akhirnya duduk bersama di bangku taman. Maria menceritakan tentang hari-harinya sebagai penari balet, sementara Alfredo hanya bisa tersenyum lebar dan sesekali mengeluarkan suara kagum.

Tak lama kemudian, teman-teman Maria yang juga penari balet datang bergabung. Mereka semua sudah mengenal Alfredo dan menganggapnya sebagai maskot tidak resmi taman tersebut. Salah satu teman Maria, bernama Lucia, dengan jahil berkata, "Alfredo, kalau kamu terus membuka mulut seperti itu, nanti ada lalat masuk, lho!"

Semua orang tertawa mendengar lelucon Lucia, dan Alfredo dengan polosnya menutup mulutnya sejenak, hanya untuk membukanya lagi beberapa detik kemudian sambil tertawa bersama mereka.

Hari itu, Alfredo menjadi pusat perhatian dengan cara yang paling menyenangkan. Kecerdasannya mungkin terbatas, tapi hatinya penuh dengan kebaikan dan keceriaan yang tulus. Semua orang di taman hari itu pulang dengan senyum di wajah mereka, mengingat momen lucu bersama Alfredo yang selalu bisa membuat hari mereka lebih cerah dengan caranya yang sederhana dan unik.

Sejak saat itu, setiap kali Maria dan teman-temannya datang ke taman, mereka selalu menyempatkan diri untuk duduk dan berbicara dengan Alfredo, menikmati kebersamaan yang penuh tawa dan kehangatan. Alfredo, dengan segala keterbatasannya, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari komunitas kecil itu, mengingatkan semua orang bahwa kebahagiaan bisa datang dari hal-hal paling sederhana.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 01, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

ini rumah sayaWhere stories live. Discover now