Inuyasha belong to Rumiko Takahashi
Note: Cerita ini sedang di pdf kan, terimakasih. Yang ada di sini hanya Summary.
.
.
.
1. Bulan sabit
Inuyasha mendengkus sembari menaruh jimat yang diberikan Kagome padanya. Tidak melihat bahwa kalung yang terhias permata tersebut sesaat berpendar indah.
Inuyasha tidak percaya akan hal yang berbau mistis. Meskipun begitu, ia tetap menerima jimat pemberian Kagome. Ia dan Kagome merupakan teman sejak SMA, bahkan mereka berdua sempat menjalin hubungan asmara selama beberapa bulan. Ia tahu bahwa keluarga mantannya adalah keturunan Miko.
Tapi, mau tak mau ia harus percaya ketika hal aneh terjadi padanya dan nenek dari Kagome memberikan jimat tersebut.
Tanpa pikir panjang Inuyasha melepaskan pakaian dan menyalakan tv untuk mengisi suara di apartemen kosongnya. Berita terdengar samar ketika ia tengah mandi. Hanya beberapa menit, ia sudah keluar dari kamar mandi. Handuk mengitari pinggang serta rambut hitam pendek yang masih basah.
Ia pun berjalan mengambil remot untuk mengganti saluran, merubahnya ke acara anime yang selama ini diikuti. Bahkan sejak ia masih sekolah menengah pertama, ia sudah sangat menyukai anime. Ada salah satu cerita yang versi manga telah selesai beberapa bulan lalu, kini anime-nya akan menyusul.
Melihat iklan yang tersorot di televisi, Inuyasha bergegas mengganti pakaian dan menyiapkan mi instan untuk peneman menonton tv.
Ketika ia selesai bersiap dengan membawa semangkuk mi, lagu pembuka anime tersebut sudah habis dan kini tengah meringkas episode yang sebelumnya.
Sembari makan ia pun menonton penuh ketelitian.
Judul anime itu adalah bulan sabit, menceritakan mengenai perebutan kekuasaan antara manusia, yokai, serta hanyou. Dibungkus dalam struktur sosial yang tak seimbang serta pengkhianatan, membuat anime tersebut bertahan selama delapan tahun terakhir.
Bulan sabit sendiri sudah memasuki musim terakhir. Di mana sang protagonis harus melawan antagonis terkuat dan kembali ke masa yang seharusnya.
Cerita tersebut berawal dari seorang yang tanpa sengaja memasuki dimensi berbeda setelah memecahkan kristal sebesar kelereng yang ada di sebuah kuil. Ia yang baru masuk pun nyaris mati tertusuk karena ada monster yang mengejarnya. Namun, siapa duga disaat genting justru sesuatu bercahaya dari pinggangnya.
Barulah dia membangkitkan darah hanyou yang ada di tubuhnya. Setelah mengalahkan monster yang memburunya, protagonis pun bertemu sosok yang memintanya kembali pulang. Ternyata dia bertransmigrasi ke masa lampau dan pada tubuh seorang pangeran Hanyou.
Dari situ konflik dimulai.
Perjalanan pangeran Hanyou menyelamatkan warganya yang sebagian besar adalah manusia dan hanyou, serta sedikit yokai. Ia harus terkalahkan beberapa kali serta melihat ibunya mati terbakar di dalam kastil yang menjulang tinggi.
Begitupun dengan cinta pertama yang salah paham dan memilih bunuh diri.
Sekarang musim terakhir di mana protagonis harus melawan antagonis yang ternyata memiliki darah yang sama dengannya.
Inuyasha sudah membaca versi manga dan tahu bahwa cerita tersebut berakhir dengan antagonis yang memilih menyegel diri bersama protagonis yang akhirnya membawa ketenangan pada ketiga ras.
Meratakan ras manusia, hanyou, dan yokai. Setelah hal tersebut ia kembali ke masanya, tubuh yang digunakan pun mati.
Hanya tersisa beberapa episode lagi sebelum anime bulan sabit berakhir.
Inuyasha begitu menikmati mi instan dan mata melotot pada televisi. Di saat adegan perkelahian antara protagonis melawan pasukan lebah di istana cermin, tiba-tiba lampu padam. Seluruh listrik di apartemen mati.
Dengan gelagapan Inuyasha menaruh mangkuk di meja depannya. Lalu bangkit dan mencari arah jendela. Ia membuka dengan susah payah. Rupanya bukan hanya gedung yang ditempati oleh dia yang mengalami masalah konslet. Beberapa ratus meter dari apartemen tersebut pun mengalami pemadaman listrik.
Dengan mendesah lelah, Inuyasha membuka jendela membiarkan cahaya bulan yang tak begitu terang memasuki ruangan. Setelah berpikir sejenak, ia bangkit dan mengambil mangkuk yang sempat ditaruh di meja. Ia lalu duduk di dekat jendela. Menikmati pemandangan di mana orang-orang keluar dari rumah mereka dan saling berbincang mengenai pemadam listrik di distrik mereka.
Cahaya bulan yang tidak membulat sempurna menerangi area tersebut. Ia menyeruput mi dengan nikmat. Tak berselang lama, lampu di ruang tamu berkedip berulang kali. Inuyasha mendelik, angin dingin bulan Mei terasa mulai menusuk, tanpa sadar ia pun bergidik.
Lagi-lagi lampu menyala-mati dalam beberapa kali, seakan mengalami kerusakan. Dengan berdecih kesal, Inuyasha bangkit dan mematikan lampu ruang tengah agar tidak mengganggu.
Ia lantas melahap cepat mi yang dibuat. Ponsel yang semula ditaruh dekat ruangan tengah pun diambil ketika ia hendak memasuki dapur. Inuyasha mengecek pesan yang masuk di aplikasi kotalk.
Grup dari universitas tengah ramai membicarakan listrik yang padam. Rupanya bukan hanya area dekat apartemen Inuyasha saja yang terpengaruh.
Ia menggulir percakapan ke bawah, membaca satu per satu obrolan yang tengah dibahas. Sampai melihat nama akunnya disebut.
[Tuan Lusa] : @Merahmembara kau dekat universitas kan? Katanya ada beberapa rumah yang dirampok benarkah? (panda bingung.jpg)
[Merahmembara] : omong kosong, baru juga mati lampu lima menit.
[Lilimpo] : Hey, Yasha hati-hati saja. Banyak modus untuk merampok sekarang. Untung saja rumahku jauh dari distrik kalian. (Tertawa.jpg)
[Tuan Lusa] : Jangan lupa tongkat baseball kesayanganmu, baby wofu bisa menyelamatkanmu di saat genting.
Inuyasha mendengkus siapa yang tidak tahu bahwa ia selalu membawa baby wofu (nama tongkat baseball kesayangan yang menjadi jimat keberuntungan). Ia baru akan membalas ketika lampu ruang tengah tiba-tiba menyala. Tangannya terhenti mengetik. Mata cokelat membesar, jantungnya berakselerasi ketika otak mengingatkan bahwa lampu tersebut sudah ia matikan.
Ia berlari cepat, menuju posisi baby wofu berada. Baru tangan memegang gagang, Inuyasha sudah merasakan sesuatu ada di belakangnya.
"Siapa?!" Inuyasha berteriak, mengingat jendela miliknya terbuka, ia berharap ada yang mendengar dari luar. Tangan pada gagang baby wofu mengerat.
Tidak ada suara. Hening.
Mata cokelat mengedarkan pandangan, mengelilingi ruang tengah yang menyala. Lalu ia tertegun.
Di sana, tepat di jendela yang ia buka dan duduki beberapa saat lalu, berdiri seorang anak kecil dengan wajah yang putih seperti pucat. Cahaya bulan sabit yang ada di luar sana memang kalah terang ketimbang sinar lampu dari ruang tengah. Namun, ia merasa bahwa anak tersebut justru seakan bermandikan cahaya bulan.
Bibir kemerahmudaan membuka, wajah tanpa ekspresi dengan rambut putih keperakan yang panjang dan tertiup angin malam, bocah itu berujar, "Chichi-ue?"
YOU ARE READING
Paralel
FanfictionInuyasha mendadak kedatangan seorang bocah yang sangat antusias memanggil ia sebagai 'ibu'. Merasa terlalu muda dan tampan untuk jadi sosok orangtua, Inuyasha pun membawa dia ke kantor polisi. Tapi, saat di sana anak itu berkata, "Papa akan memara...
