Suara langkah kaki sedikit berlari memenuhi koridor di jam awal kelas, Satoru, lagi lagi terlambat dan seperti biasanya, lelaki itu tidak sendiri, langkah lain mengiringinya berlari, sahabatnya, Suguru.
Mereka tahu jelas bahwa mereka sudah terlambat hampir setengah jam, tetapi lari kecil mereka terasa sangat ringan bahkan tawa menghiasi dua wajah pria yang menjadi icon sekolah SMA Jujutsu.
"Selamat pagi, Yaga Sensei!" Sapa Satoru saat lelaki itu berhasil membuka pintu ruang kelasnya bersama Suguru di belakangnya.
Lelaki di usia awal tiga puluhan dengan kacamata aneh dan bulu yang tumbuh di area mulut dan rahangnya itu menggeram, ada kerut kesal di kening lelaki dengan seragam guru yang baru saja disapa oleh Satoru dan Suguru.
"Kalian ini! Jangan karena kalian adalah dua siswa paling pintar satu sekolah, bukan berarti bisa seenaknya mengikuti jam pelajaran!" Yaga menggebu, emosinya akhirnya keluar.
Sialnya dua bocah tengil itu hanya terkekeh, seolah tidak ada yang salah dari mereka, namun Suguru yang melihat wajah gurunya semakin tidak karuan, menekan kepala Satoru yang kemudian keduanya membungkuk. Selayaknya tingkah Satoru pada umumnya, lelaki itu tentu akan memberontak. Namun entah apa yang dibisikkan padanya oleh Suguru, hingga membuat lelaki dengan anugrah mata sebiru samudra itu akhirnya diam, dan bahkan mengucapkan maaf dengan kepala yang tertunduk.
Hingga suara Yaga yang menyuruh keduanya pergi ke tempat duduk, membuat mereka akhirnya pergi menuju kursi yang menjadi tempat mereka menimba ilmu.
Satoru baru saja memulai fokusnya pada penjelasan penjelasan Yaga tentang penguraian atom. Namun atensinya teralih pada jendela yang menghubungkan kelas dengan lorong kelas. Shoko —sahabat lainnya yang berbeda kelas dengannya yang memiliki rambut bob itu, tengah menggodanya dengan mengacungkan jari tengah dan menjulurkan lidahnya.
Bukan, bukan Shoko yang mencuri atensi Satoru, namun gadis disamping Shoko, yang menggunakan setelah casual dilapisi oleh jas putih seperti jas lab, atau jas kesehatan dan sebagainya yang sukses membuat dua berlian sewarna lautan milik Satoru membola menatap sosok itu hingga menghilang seiring jarak pandang manusia yang sangat pendek, dan tentu saja halangan dari benda benda di sekitar.
Istirahat, Satoru begitu heboh bertanya pada Suguru tentang sosok yang berjalan bersama Shoko. "Kau tanyakan saja langsung pada Shoko, aku mengantuk." Ujar Suguru acuh kemudian kembali menenggelamkan kepalanya pada lipatan tangannya yang dia tumpu pada meja kelas di hadapannya.
"Tsk, tidak membantu, Shoko tidak membalas pesanku, bodoh! makanya aku bertanya padamu!" Satoru mendengus kesal. Lelaki itu menerawang, matanya menatap langit cerah melalui jendela kelas yang mengarah pada lapangan basket yang tepat berada di sampingnya, sampai akhirnya retina indah miliknya mendapati objek yang membuatnya mati penasaran, objek yang baru saja ia tanyakan pada Suguru.
Wanita dengan rambut yang digelung half twirl dengan pita putih besar menghiasi rambutnya. Kali ini Satoru dapat melihat dengan jelas bagaimana rupa yang sebelumnya hanya satoru lihat dari sisi kiri wanita itu.
Wajah cantiknya terasa ayu dan lembut, dengan bibir tipis yang tengah tersenyum, dan iris coklat teduh terbingkai mata bulat, Jas lab telah terlepas dari tubuh mungil wanita itu menyisakan pakaian casual musim semi, sweater turtle neck berwarna gading dengan bawahan rok span yang menutupi hingga bagian bawah lutut wanita itu.
Tidak, Satoru bahkan tidak berkedip menatapnya. Sampai akhirnya sebuah suara familiar masuk menyapa rungu Satoru. "Kau sedang memperhatikan Kak Utahime?"
Satoru cukup terkejut dibuatnya, kemudian menoleh mendapati Shoko yang bergantian menatap objek yang sama kemudian wajahnya.
Dapat Satoru rasakan wajahnya bersemu, seolah terpergok tengah mencuri oleh sahabatnya.
"Kaaaak Utahimeeeee! sampai jumpaaa!" Shoko berteriak tepat di sisinya, membuat Satoru mau tak mau mengalihkan kembali pandangnya pada objek yang Shoko panggil. Dan Utahime –begitu setidaknya Shoko memanggilnya, tengah tersenyum melambaikan tangannya pada Shoko.
Satoru tahu, senyum itu bukan untuknya, namun debaran jantungnya tidak dapat diajak berkompromi, tanpa Satoru sadari, lelaki lain tengah merasakan debaran yang sama kala senyum itu tertangkap pada mata foxynya.
Haiii!!!
Well, too fast buat book baru sih, cuma kali ini aku mau refreshing dulu dari Haitani bersaudara ke SatoSugu friendship and bromance. jadi ya watch this out, semoga kalian suka 😁
Jangan lupa meninggalkan jejak, karena Vote dan Comment kalian itu semangat updateku.
YOU ARE READING
White Cloud.
WerewolfIni bukan tentang langit dan bumi, atau hitam dan putih, atau juga gunung dan laut. Ini tentang awan yang bergumul putih, tentang abu-abu yang menjadi antara, dan tentang laguna yang bersisian dengan perbukitan dan pasir putih yang ombaknya saling b...
