Karin menggeliat diatas kasur putihnya. Sinar matahari mulat menyorotinya dengan hangat melalui jendela kamarnya yang terbuka. Kepala terasa agak berat mungkin karena minuman keras yang kemarin ditegaknya. Tapi tunggu dulu... bukankah kemarin ia masih di bar bersama Miyon? Hah, ia yakin Miyon menyuruh Kazune datang kesana dan membawanya pulang.
Karin menoleh saat telinganya mendengar suara pintu yang tergeser. Mulut Karin sedikit terbuka saat melihat sosok Kazune keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk di punggulnya, dengan sebuah handuk kecil di lehernya. Bulir-bulir air masih menggantung di tubuh Kazune yang sedang bertelanjang dada. Karin terpesona melihat pemandangan itu tubuh yang tegap, dada yang membidang dan lebar, kepala yang sedang basah, tubuh Kazune sangat seksi menurut pandangannya. Oh tidak! Pikiran Karin sudah jadi tidak waras!
"Bersihkan dirimu. Setelah itu, turunlah. Kita akan sarapan," ucapan Kazune kembali menyadarkan Karin akan lamunannya.
"Ya,"
Selesai dengan kegiatannya, Karin langsung turun menuju dapur. Makanan sudah tersedia diatas meja. Kening Karin mengerut. Apa Kazune yang menyiapkan semua ini? Mereka memang memperkerjakan pengurus rumah, tetapi mereka tidak mengambil peranan memasak. Karin lebih suka agar pengurus rumah tidak ikut ampur dalam hal makanan.
"Kenapa?" tanya Kazune disela kegiatan makannya.
"Apa kau yang membuat semua ini?"
"Ya."
"Tu... tunggu. Kau tidak berangkat kerja?"
"Tidak. Aku mengambil cuti selama seminggu,"
Cuti? Apa Karin tidak salah dengar? Setahunya pria dihadapannya itu seorang workaholic. Jadi, untuk apa dia cuti?
Kazune menarik napasnya. "Maaf, kemarin aku membaca pesan di ponselmu. Kukira itu pesan penting, jadi aku membukanya."
Alis Karin terangkat. "Pesan? Dari siapa?"
"Aku tak terlalu yakin mengingatnya dengan baik, tetapi sepertinya namanya Jin, tetapi aku lupa dengan marganya," Seketika raut wajah Karin berubah kala mendengar nama itu.
"Dengar, aku tidak peduli siapa dia. Bertahanlah untuk tiga tahun kedepan, hanya tiga tahun. Setelah itu kau boleh melakukan apa saja, termasuk meninggalkanku. Aku tahu kau mencintainya, dan aku mencintai juga sudah mencintai orang lain. Jadi, bertahanlah untuk tiga tahun. Mulai sekarang, kau boleh menganggapku teman. Kau mau, kan?"
Karin mengangguk dengan cepat. Ia rasa Kazune tak seburuk yang ia pikirkan.
"Setelah ini, kita akan pergi ke taman, lalu menghabiskan hari ini dengan bersenang-senang. Bagaimana?"
"Apa?"
.
.
.
Hari ini mereka lewatkan dengan penuh gembira. Museum, taman kota, taman hiburan, restoran, mereka jalani dalam satu hari. Rasa bahagia tak dapat terelakan dari raut wajah mereka berdua.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Tanpa terasa sudah hampir empat bulan mereka lalui. Hubungan mereka lancar meski ada beberapa cek-cok diantara mereka. Mereka masih berteman, seperti janji di hari-hari sebelumnya.
Bel rumahnya berbunyi. Dengan segera Karin melepas celemek yang sedang dipakainya. Hari ini ia tidak ada jadwal untuk mengajar, karena itu ia menghabiskan waktunya dirumah dengan bereksperimen dengan berbagai bahan makanan.
Wajah Karin tertegun saat melihat seorang perempuan berambut indigo di depan pintu rumahnya. Tunggu, sepertinya wajah perempuan itu tampak familiar olehnya. Ia tahu sekarang! Perempuan itu Adalah Himeka Kazawa, seorang aktris sekaligus model terkenal di Jepang. Tapi untuk apa orang seperti dia datang menghampirinya? Ia adalah seorang dosen seni rupa, dan suaminya adalah seorang penguasaha yang bergerak di bidang alat-alat kebutuhan rumah tangga jelas-jelas tak ada hubungannya dengan dunia hiburan. Jika pun ada, tak mungkin perempuan itu datang kerumahnya hanya karena itu.
"Apakah ini rumah Kazune Kujyou?"
"Ya. Aku sendiri adalah istrinya. Maaf, ada keperluan apa? Oh ya, silahkan masuk,"
"Tidak, terimakasih. Aku hanya ingin melihat saja. Kazune masih bekerja, ya?" Karin menggangguk cepat. "Aku Himeka Kazawa, dan aku sedang syuting disekitar sini. Maaf menggang guk cepat. "Aku Himeka Kazawa, dan aku sedang syuting disekitar sini. Maaf mengganggumu. Jika Kazune pulang, tolong katakan bahwa aku datang kesini. Terimakasih. Aku permisi dulu,"
Karin masih menatap sosk perempuan yang ia yakin usianya lebih muda darinya itu. Wajah bingung jelas terlukis pada wajahnya tanpa perlu diterka lagi. Karin menepuk pipinya sendiri untuk segera tersadar. Ia bari ingat beberapa dua jam lagi ia sudah berjanji untuk pergi berbelanja dengan Miyon. Belakangan ini, mereka semakin sibuk dengan urusan masing-masing, dan membuat intensitas pertemuan mereka berkurang.
"ASTAGA! AKU LUPA!" Karin berlari menuju dapur. Ia sepertinya lupa mematikan api pada masakannya.
"Ah, celaka!" Karin berdecak. Makanan itu telah merubah menghitam dengan aroma hangus yang menyeruak memenuhi ruangan. Ia terlihat kecewa. Awalnya ia sangat ingin Kazune mencicipi masakannya. Ia senang jika Kazune yang mencicipinya karena Kazune selalu berkata jujur tentang masakannya. Kazune tidak segan-segan mengatakannya jika makanan Karin tidak enak, begitu juga Kazune dengan tulus akan memujinya jika makanannya enak. Dan setiap kali ia memasak, ia selalu berharap mendapat pujian dari mulut Kazune, dan ketika hal itu terjadi, wajah Karin akan sangat terlihat senang dan bangga. Bahkan kali ini ia sengaja repot-repot bertanya apada mertuanya sendiri tentang makanan kesukaan Kazune, tapi kali ini sepertinya ia gagal. Makanan itu sudah gagal.
Tbc
Minta votement nya ya
Megami-chan01kotori
YOU ARE READING
I Love You
RandomHanazono Karin, harus terikat dengan perjodohannya dengan Kujyou Kazune, anak dari teman Ayahnya, karena hubungan bisnis. Namun, pada saat itu Karin dan Kazune telah memiliki orang yang mereka cintai. Tak lama kemudian, mereka menikah. Bagaimanakah...
