Semi melepas pandang ke langit-langit yang banyak dihiasi awan stratus . Awan ini cukup rendah dan sangat luas. Lapisan melebar seperti kabut dan berlapis.
Aku mendekatinya yang duduk di tepian pondok sawah
Tidak ada beban lagi dipikiranku, ibu emang membuktikan omongannya. Ibu sudah menyekolahkan semi di SMA ku dulu, ibu sangat bertanggung jawab--padahal aku sudah ikhlas merelakan tabunganku tapi ditolak mentah-mentah oleh ibu.
"Cie yang udah Putih abu-abu aja.." aku sengaja menyenggol pundak Semi pelan lalu merangkulnya. Ia menatapku sembari tersenyum tulus diimbangi dengan binar mata beningnya. Adikku ini jika tersenyum sangat manis, sayangnya senyum seperti ini jarang-jarang dipaparkannya.
"Apa kakak pernah jatuh cinta?" Semi menatapku diiringi senyum khas jahilnya bukan senyum manis seperti tadi. Aku melepaskan rangkulanku, lalu memandangi hamparan sawah. malas menjawab pertanyaan Semi, lebih tepatnya pertanyaan itu emang tidak ada jawaban.
"Tidak!" Sorak cewek yang udah tidak asing lagi suaranya ditelingaku, dia Dini.
Jantungku serasa berlari sejauh mungkin dari Dini, suaranya membuat aku terlonjak kaget.
"Astagfirullah Dini, kau mengagetkanku saja" aku langsung mengelus dada melihat aksi gila sahabat orokku ini-
Semi ketawa dan diiringi Dini. Apa yang tengah mereka tertawai? Tidak ada yang lucu disini. Aku ber-Oh ria setelah otakku mulai tersambung akan tawa dari mereka. Iya mereka menertawaiku akan ketidaknormalanku pada cinta, maksudnya tidak pernah tahu bagaimana rasanya yang mereka rasakan selama ini yang katanya indah, berbunga-bunga, atau sebaliknya.
Ya aku pantas diketawain, tertawa lah sesuka kalian. aku akan menjadi penonton setia disini.
Seketika tawa mereka menjadi hening. "Kenapa berhen..."
Aku mendengar langkah kaki seseorang mendekat kali saja petani. Aku menoleh kearah Dini dan Semi yang tadi kupunggungi. ucapanku terputus. Pria itu menyapa.
"Hey Dik, hey.. " El muncul dengan sikap ramahnya yang membuat gadis manapun terpesona. Aku melihatnya sekilas lalu beralih pandang ke sawah hijau yang terbentang lebar dihadapanku beruntunglah dia berdiri diantara Semi dan Dini sehingga pandanganku tidak terhalang oleh mereka.
Semi menatap El dengan binar mata takjub dengan ciptaan Allah yang masyaallah menawan seperti El. Aku sedikit geli melihat adik dan oh-sahabat orokku juga terlihat lebih mengelikan kebanding adikku
kenapa El harus datang kedesa ini? Mau pamer ketampanan kah. ditambah dengan sikap nya yang bersahabat itu. Ah-sudah kuduga dia mau membuat gadis didesa ini mengaguminya, tidak ada alasan lain- Dini mengulurkan tangan, mereka berdua berkenalan.
"Kita pernah bertemukan sebelumnya.. masa kamu lupa" ucap El.
Dini mengeryitkan dahinya, sepertinya ia sedang mengingat-ingat. "Kita pernah berjumpa. Aku baru pertama kali nya melihatmu disini."
El terkekeh. "Sudahlah, memang semua orang disini telah lupa padaku."
"Maksudmu?" Dini makin dibuat bingung dengan ucapan El. Termasuk aku yang menguping dari tadi.
Aku malas melihat nya, sudah berapa perempuan yang sudah ia ajak berkenalan dari sikapnya yang seperti ini bisa kutebak tidak terhitung lagi---murah sekali tangannya itu.
"Aku memanggilmu apa? El? Atau dewa yunani yang paling tampan, Apollo? Suara Dini lembut mengalun dipendengaran. Berbeda dengan biasanya, suara cempreng membahana bagai badai itu. Kemana hilangnya? pandai sekali Ia berlagak manis didepan pria. Andai aku bisa begitu---pasti El bakal tertarik olehku.
Oh tidak - tidak. Pikiranku tadi sedang mengada-ngada. Aku tidak pernah mengharap El buat tertarik apalagi semenjak aku mengetahui dia sudah memiliki pacar disana.
YOU ARE READING
ELFAYIS [Complete]
Romancesiapa yang menduga kalau teman kecilmu akan menjadi teman hidupmu untuk selamanya. yah itu terjadi pada Embun, gadis desa yang tidak pernah jatuh cinta kepada pria manapun kecuali Ayahnya namun pria itu datang meluruhkan hatinya.
![ELFAYIS [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/40337901-64-k417320.jpg)