Dermaga

8 1 0
                                        

Sore itu aku sedang duduk sendirian di kursi bus yang berisi 2. Aku melihat rintik air berseluncuran di jendela. Sebetulnya, sedari di kapal aku sudah banyak berdialog kepada diri sendiri.

Perihal aku yang merindukan tubuhku yang berambisi untuk hidup lebih baik. Kemudian perihal aku yang ingin mencapai banyak mimpi tanpa rasa galau-galau tidak jelas seperti remaja pada umumnya.

Aku mau mengakhiri rasa suka, aih maaf kan aku. Aku juga tidak tau bagaimana kagum ini muncul, barangkali memang sudah diatur oleh-Nya bukan? Ini fitrah, tapi kalau terlalu lama dipendam bisa membahayakan kata-Mu.

Bukankah memikirkan sedetik pun perihalmu sudah bagian dari maksiat bukan? Kecil, tapi kalau berlarut akan banyak dan membukit. Dan aku memutuskan untuk menghentikan rantai maksiat ini. Bermulai dari aku yang menghapus cerita tentang mu sejak Januari.

Setelah 4 jam lamanya, akhirnya aku memberanikan untuk mengatakan 'itu' tanpa harap apa-apa. Harapku hanya aku yang lebih berambisi mengejar mimpi dan berhenti menyukai mu sendirian.

Aku tidak peduli rasa menjijikan apa yang setelah ini akan muncul darimu. Karena memang, aku cuma mau kamu jijik kepadaku. Agar aku lebih mudah pergi, agar aku belajar lebih baik lagi. Tapi bukan lagi untukmu.

Kala itu, bis, sore hari, gerimis, dan lagu kenangan 90an yang mengudara. Tapi setelah aku memencet tombol kirim, aku benar-benar menghentikan semua sukaku kepada seluruh manusia, kecuali untuk-Nya. Ini benar adanya. Seperti ajaib. Aku berterimakasih kepada-Mu telah membantuku pada skenario hidupku sore itu.

Untukmu, kalau benci, tolong benci yang lama. Maaf atas segala fitrah yang tidak bisa ku bendung lama sampai hari kemarin. Rinjani dan Merbabu itu tidak akan pernah ada.

Dear Allah, terimakasih telah meluruskan rasa sebelum aku terbawa penormalisasian anak muda. Semoga aku bertemu pria yang tepat kelak. Siapapun nantinya.

Pra-kataWhere stories live. Discover now