Nothing's Fair

3 0 0
                                        

"Kita semakin dekat, aku bisa merasakannya...."

"Iyaa.... " Ucapku membalas Pita

Saat ini kami berada di distrik terluar kota X. Kami berjalan menyusuri jalanan sepi yang dipenuhi oleh kendaraan rusak dengan tumbuhan berakar yang menyelimutinya. Sesekali kami bertemu dengan beberapa zombie yang berlalu lalang di sepanjang jalan, hanya kami memilih mengabaikan mereka untuk mengejar ketertinggalan.

Pita dan aku, kami atau lebih tepatnya Agatha mencari seseorang. Dia yang kami cari adalah tunangan Agatha yang tiba-tiba menghilang sekitar enam bulan lalu. Jejak yang dia tinggalkan menuntun kami ke arah sebuah pabrik tua yang ditinggakan.

"Pita, kau yakin?"

"Aku yakin, 100% yakin... " Dia menunduk, menyembunyikan keraguan dan keyakinan di wajahnya "Perasaan ini, aku yakin dia di sana"

Pita, dia adalah seorang wanita yang menyelamatkanku pasca aku terbangun di reruntuhan kota, menolongku ketika aku yang waktu itu tidak tahu tentang dunia ini. Jika saja dia tidak ada di situ, aku yakin aku akan menjadi salah satu dari para zombie.

Pita adalah seorang wanita cantik berambut. Umurnya mungkin sekitar dua puluh tahunan, aku tidak menanyakan umurnya karena pertanyaan ini cukup sensitif dikalangan wamita. Rambutnya hitam lurus diikat kebelakang model ponytail. Wajahnya oval mungil, pipi tirus, hidung mancung, dan mata cokelat dengan tatapan tajam. Dia memakai kemeja kotak-kotak putih hitam dengan lengan baju yang dilipat sampai siku, bawahannya mengenakan celana jeans gelap dan sepatu sneakers hitam, juga dia membawa tas dipunggungnya yang berisi perlengkapan bertahan hidup serta sebuah senapan serbu SS-2. Dia adalah definisi cantik dan mematikan untuk seorang penyintas di dunia apokaliptik ini.

Entah kenapa, aku merasa hawa sekitar saat ini sedikit mencekam. Meski biasanya suasana memang cukup suram, namun saat ini aku merasa sesuatu yang buruk akan datang.

Pita mengangkat tangannya sebahu, menandakan untuk berhenti berjalan.

"Berhenti Adler..."

Aku menghentikan langkahku. Wanita itu menatap ke sekeliling sambil mengarah senapannya itu, lalu dia berjalan mengendap menuju sebuah pojokan toko di persimpangan jalan.

Aku berjalan perlahan dibelakangnya. Wajahnya yang mungil menengintip dari balik tembok, melihat situasi di ujung jalan.

Pita berbalik menatapku dengan ekspresi yang ketakutan "Sekelompok penyintas berjumlah empat orang, masing-masing dari mereka bersenjata" Dia mengangkat senjatanya " Sepertinya mereka adalah tipe tidak ramah, kita tidak bisa menuju pabrik itu kecuali melawan mereka"

"Bukankah kita bisa memutar dan mengambil jalan lain?" Meskipun akan mengambil waktu yang lama, tapi setidaknya kita bisa sampai kesana dengan kepala yang masih utuh.

"Tidak....., hari sudah keburu gelap, jika kita mengambil jalan lain, maka kita akan kehilangan jejaknya"

Pita menundukkan kepalanya, dia merenung sejenak..... Aku tahu perasaannya yang campur aduk ingin bertemu dengan tunangannya secepat mungkin. Namun, aku khawatir bila dia terlalu sembrono dan terburu buru, dia akan bertemu dengan peluru atau gigi zombie terlebih dahulu.

"Aku tahu..... Maaf.... Aku seharusnya tak melibatkanmu dalam hal ini" Pita menatapku dengan penuh perhatian "kamu ambil jalan lain, kamu harus hidup dan mendapatkan kembali ingatanmu"

Pita berbalik mengintip kembali sekelompok penyintas itu, dia mengambil nafas yang panjang untuk bersiap memulai pertempuran.

"Pita..... "

Wanita cantik itu berbalik ke arahku "Kita akan lawan mereka, tapi bisa kah kamu memberiku pistol?, meski aku tak mahir dalam senjata api, tapi aku tahu cara menggunakannya"

Dia tersenyum mendengar jawabanku. Dengan cepat dia membuka ranselnya dan memberiku sebuah pistol revolver.

"The Peacekeeper 1872, maha karya barat di jaman wild west" Ucap dia bangga

"Yahh, ku rasa dengan ini aku akan menjadi koboy apokaliptik yang memburu zombie dan bandit"

"Definitely"

Setelahnya dia memberiku dua puluhan butir peluru sebagai cadangan. Dia tersenyum menyeringai ke arahku, entah apa tujuannya dia memberikann senyuman anehnya. Selanjutnya, dia bergerak perlahan menunduk menuju ke arah mobil rengsek, dengan aku yang mengikutinya dari belakang.

Kami berdua bersembunyi di belakang mobil ini. Kami mengambil posisi membidik ke arah mereka dan siap menembak.

"Ohhh fyi ya, kamu harus menekan hammernya setelah setiap tembakan" Ucapnya menunjuk ke arah hammer pistol revolverku.

"Iyaaa tenang, aku tahu, sepertinya sebelum ingatanku hilang, aku sering berurusan dengan senjata"

"Wuuihhhh" Dia menyeringai lagi

Keempat penyintas di depan kami berpenampilan sedikit aneh untuk standar dunia saat ini. Keempatnya mengenakan rompi geng motor dengan model rambut jabrik yang tak terawat. Masing-masing dari mereka memegang tipe senapan baut besi (bolt action rifle) ditambah pistol di pinggangnya.

"Mereka sepertinya terlatih, berbahaya, dan tidak ramah" Dia mengeker mereka dari balik kekeran besi senapan serbunya "aku ambil yang kiri berambut kuning, dan kau yang kanan yang tinggi berbadan macho itu"

"Sialan kau ya, senapanmu lebih baik dariku dan kau memberiku target yang lebih berbahaya" Ucapku protes

Dia sejenak melirik ke arahku lalu fokus kembali pada targetnya " Setidaknya kau mendapatkan ukuran target yang lebih besar, dengan kata lain kau berpeluang lebih besar mendaratkan peluru ketimbang pada targetku" Dia menepuk pundakku "aku yakin kau pasti bisa"

"Sialan, beberapa waktu lalu kau memperlihatkan wajah yang ketakutan padaku"

Walaupun jantungku berdegup kencang karena setelah ini kami akan menghadapi situasi hidup dan mati, kami memilih memulai candaan kecil untuk menenangkan diri sebelum memulai pertempuran.

"Hei, jangan mati... "

"Setidaknya bila aku mati, aku ingin mati di samping wanita cantik dengan latar sunset yang memukau"

"Kau ini...... Dalam hitungan satu"

"Dua"

"Tiga!"

Doorrrrr

Peluru tajam masing-masing meluncur dari ujung moncong senjata kami. Kedua peluru tersebut melaju dan menghujam ke punggung dari masing-masing target, membuatnya jatuh dan tewas saat itu juga.

"Kena..... "

Kedua rekannya sadar setelah rekan mereka jatuh tewas akibat dari tembakan kami. Mereka berdua berlari berpencar mengambil perlindungan pada belakang mobil rusak yang terparkir di pinggir jalan.

Dorr dorrr

Mereka melepaskan tembakan balasan ke arah kami. Kami berdua menunduk berlindung dari tembakan mereka. Peluru itu melesat secepat kilat terbang di atas kepala kami.

"Selanjutnya apa?" Tanyaku pada Pita

Pita kembali tersenyum kepadaku, kali ini senyumannya lebih aneh dan diikuti dengan tawa kecil "ya kita balas tembakannya lah"

Dorr dorr dorr

"Aku terkena

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 08, 2024 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Till The EndWhere stories live. Discover now