CW ⚠️ Kata Kasar, Kekerasan, Toxic Relationship
----
Hiruk pikuk dunia luar terasa kian padat saat akhir pekan, banyaknya orang yang menikmati hari libur membuat jalanan macet, tempat belanja padat, dan juga taman-taman cukup ramai dikunjungi orang untuk sekadar jalan santai atau piknik.
Salah satunya Sabiya, akhir pekannya ia isi dengan berpiknik di taman bersama dengan kakaknya. Gadis berambut panjang itu menikmati hari libur sebelum kembali bertempur dengan skripsinya. Mengajak kakaknya yang kebetulan sedang tidak ada pekerjaan juga di hari libur ini.
"Teh, liat. Momo makin hari makin introvert, masa diajak jalan-jalan dia maunya diem begini aja, jago kandang doang nih anak Teteh," kata Sabiya pada Sabrina yang sedang memakan apel menggunakan garpu kecil.
Si kakak yang berambut coklat pendek itu tertawa, ia mengusap-usap kucing peliharaannya yang ada di pangkuan Sabiya. Kucing putih itu terlihat nyaman memejamkan mata di atas paha Sabiya yang dilapisi kain.
"Kasian lagian, dia mah kalo ketemu kucing lain yang lebih galak, bisa-bisa pulang dekil sama pincang lagi," ujar Sabrina.
Sabiya terkekeh mengingat momen seberapa panik mereka berdua saat kucing peliharaannya pulang dari luar dengan keadaan terpincang-pincang.
Baru saja akan bersuara, ponsel Sabiya bergetar, ada telepon masuk dari kekasihnya. Namun, ia ragu untuk menjawab telepon tersebut di depan Sabrina.
Buru-buru dimatikannya sambungan telepon itu, dan mengalihkan ponselnya ke mode senyap. Meskipun selanjutnya ia lihat notifikasi pesannya langsung banyak masuk dari kekasihnya.
"Dimas? Kenapa kamu tolak? Lagi berantem?" tanya Sabrina melihat gelagat adiknya.
"Iya lagi marahan dikit," jawab Sabiya seadanya.
Tanpa banyak bertanya, Sabrina hanya mengangguk, memberi batas privasi yang tidak pernah Sabiya ceritakan padanya.
"Itu Momo ajak ke sana tuh, ini bawa mainannya," kata Sabrina memberikan sebuah bulu yang memiliki lonceng, membuat kucing di pangkuan Sabiya langsung membuka matanya.
Sabiya pun bangkit menggendong kucing berisi itu, membawa ke bagian taman yang cukup luas dengan beberapa daun-daun jatuh. Memberi makan kucingnya dan mengajak bermain, ia tahu pasti Sabrina akan menghubungi calon suaminya jadi ia sedikit diusir.
"Eh, mau kemana Mo, sini aja." Gadis itu mengekor dengan cepat mengikuti larinya kucing putih tersebut.
Ekspresinya berubah panik kala ada kucing lain mengacungkan ekor dan menggeram ke kucingnya.
"Waduh, gak boleh, Meng. Kucingku cemen," kata Sabiya langsung menggendong kucingnya. Dan ia juga menoleh pada pemilik kucing lain yang langsung diambil juga.
"Maaf ya, Kak," kata laki-laki tersebut mengangguk segan. Kucing itu terlihat sangat terawat, bulunya tebal dan bagus.
Sabiya dengan ragu turut mengangguk. "Gapapa, Kak. Namanya juga hewan," jawabnya. Menatap laki-laki itu sedikit lama karena merasa tidak asing.
"Kucingnya ada luka, Kak?" tanya si laki-laki karena Sabiya menatapnya lama.
Dengan kesadaran yang kembali, Sabiya segera menggeleng, lalu tersenyum malu. "Nggak, Kak. Maaf aku kayak gak asing sama Kakaknya, maaf ya." Sabiya langsung mundur pamit, membawa kucingnya berlari menjauhi pria dan kucing coklat itu.
Sabrina yang melihat dari jauh terkekeh pelan. "Kayaknya Teteh kenal deh kucing itu," katanya saat Sabiya sudah kembali duduk di sampingnya dengan memeluk Momo.
"Siapa ya? Soalnya aku liat orangnya kayak gak asing," ujar Sabiya kemudian.
"Kalo gak salah sih itu kucingnya Jevano, pernah dibawa ke agensi, tapi yang bawa itu kayaknya adik bungsunya." Jawaban dari Sabrina membuat Sabiya membulatkan matanya.
YOU ARE READING
Lay Your Head on Me
RomanceJatuh cinta itu membuat bahagia. Dan kadang, bahagia juga bisa membuat jatuh cinta. Keseimbangannya harus ada, dan setara. Cinta yang setara tidak hanya berkata tentang kasta, tapi tentang rasa. Pun tidak ada kebahagiaan yang mutlak di dunia, suka d...
