"Yibo lo tau ngga kalau sekolah kita mau kedatangan murid baru"
"Ngga tau dan ngga peduli gue"
"Halah sok ngga peduli, awas lo kalau sampe kepincut"
Itu tadi percakapan Yibo dan Dylan, mereka sekarang lagi duduk di basecamp. Lagi nemenin Yibo yang lagi nge galau lebih tepatnya, habis diselingkuhi pacarnya. Sebenernya mereka ngga cuma berdua, bertiga sama Jackson. Tapi tuh anak lagi simulasi mati alias tidur.
"Maa... Zhan gamau disini, mau balik ke Jerman aja. Malas disini banyak lonte"
"Huss.. ga boleh gitu. Ayo adaptasi pelan-pelan, di sana kamu banyak nyusahin bibi Chou, mama jadi ngga enak"
"Ishhh mamaa..."
Sean Xiao Zhan. Anak tunggal keluarga Xiao yang sedari kecil tinggal di Jerman, Zhan di sana tinggal bersama paman dan bibi nya. Sengaja dititipkan disana soalnya orangtuan Zhan sibuk ngurus bisnis yang cabangnya ada dimana-mana.
Zhan itu nakal banget, bandel ga bisa diatur. Dulu waktu umur lima tahun dia pernah nyekik leher gurunya disekolah, katanya dia kesel sama gurunya yang nyuruh-nyuruh terus. Dari mulai menyuruh berhitung, menulis sampai mewarnai. Zhan yang otaknya dari bayi sudah berlumut ga sanggup lagi nahan kesal dan berakhir mencekik gurunya.
"Besok kamu udah mulai masuk sekolah, siapin seragam sama buku-bukunya sana"
"Maa.... Zhan gamau~"
Mamanya Zhan alias Xinye yang sudah terlanjur kesal mendengar rengekan anaknya langsung jejelin dot ke mulut Zhan.
"Stop Zhan, walaupun kamu ngerengek sampai mulutmu berbusa. Bunda ga akan kasih ijin kamu buat balik lagi ke Jerman"
Zhan yang takut kalau mamanya semakin marah langsung lari masuk kamar jangan lupa sambil membawa dot nya.
Hari ini Zhan pertama kali masuk sekolah, baru sehari masuk sudah menyita perhatian banyak murid. Dari Zhan masuk gerbang sampai masuk ruang guru banyak banget yang ngelihatin, mana bergerombol lagi. Sudah mirip antri sembako murah.
Wajar saja jika Zhan banyak yang ngelihatin, suara motornya saja berisik sekali. Ditambah Zhan pakai hoodie hitam sama helm full face, rata-rata siswa perempuan yang teriak-teriak ngga jelas.
"Permisi pak, saya Sean Xiao Zhan murid baru pindahan dari Jerman"
"Oh jadi ini yang namanya Sean, ganteng juga kamu tapi masih gantengan saya"
Zhan cuma natap kepala sekolahnys dengan raut wajah datar. Nahan kesal lihat muka kepala sekolahnya, demi apa Zhan ingin gebuk tuh muka.
"Kamu tunggu disini dulu, nanti masuk kelas bareng wali kelas kamu"
"Mn"
"Selamat pagi anak-anak"
"Selamat pagi Mr. Liu"
"Hari ini kelas kita kedatangan murid pindahan dari Jerman, nah nak Sean silahkan perkenalkan diri"
"Sean Xiao Zhan"
Singkat padat dan jelas. Mr. Liu yang berdiri disamping Zhan berdehem canggung.
"Emm.. Sean kamu bisa duduk disamping Zhoucheng. Zhoucheng coba angkat tangan"
Zhoucheng yang dipanggil namanya langsung angkat tangan, nurutin perintah Mr. Liu.
Setelah beberapa jam berkutat dengan buku pelajaran dan alat tulis lainnya, kini bel istirahat berbunyi semua murid langsung keluar dari kelas dan menuju ke kantin sekolah begitu pun dengan Zhan. Tenang Zhan tidak sendirian, dia bersama Zhoucheng dan Jili. Ketiganya langsung akrab begitu saja.
Setelah sampai dikantin, mereka bertiga mencari tempat duduk. Setelah mereka menemukan tempat duduk, mereka langsung pesan makanan. Jangan tanya siapa yang pesan makanan, tentu saja Jili. Kalau kata Zhan sih mukanya cocok kayak pembantu.
"Kalian mau makan apa?"
"Gue bakso aja, lu mau pesan apa Zhan?"
"Gue chicken noodle, sama sekalian egg rolls bumbunya peanut sauce"
Zhan ngomongnya sambil dimajukan bibirnya, mana gayanya centil banget seperti penggoda ahli. Dan jangan lupa dia ngibasin rambutnya kebelakang.
Ngga tahu aja kalau Zhan ada dua orang yang memperhatikan dia dari jauh.
Ngga kerasa bel pulang sekolah sudah berbunyi, Zhan dan kedua temannya buru-buru keluar dari kelas. Zhan pengen banget cepet pulang karena mulutnya gatel pengen ngedot.
"Pulang naik taxi online Zhan?"
"Ngga, gue bawa motor sendiri. Mau bareng?"
"Ngga deh, yakali kita bertiga boncengan"
"Ya memang kenapa sih, Jili badanya kecil bolehlah ditaroh di jok"
Plakk
Kepala Zhan jadi sasaran pukulan maut dari Jili yang sedari tadi diam mendengarkan ocehan Zhan sama Zhoucheng sambil memainkan kipas nya.
"Babi lu Zhan"
Yang dipukul cuma nyengir, Jili yang tadinya kesal tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi ceria. Matanya berbinar, senyumnya lebar banget. Zhan yang penasaran pun mengikuti arah pandang Jili.
Tubuh Zhan mematung, matanya berkaca-kaca dan seketika mulutnya kaku tidak bisa berkata-kata ketika tahu siapa orang yang berdiri tepat dibelakangnya. Orang yang berdiri dibelakang Zhan juga sama seperti Zhan. Tubuhnya kaku, pandangannya terkunci manik cantik punya Zhan.
"Halo kak"
Yang disapa tersentak kecil terus mengalihkan pandangannya dari mata Zhan ke Jili.
"Halo dek"
Jili yang disapa balik tambah lebarin senyuman sampai mulutnya sobek, ngga kok bercanda. Seneng banget Jili tuh, ngga tau aja Zhoucheng yang berdiri disampingnya sudah memasang wajah kusut.
Setelah beberapa menit tidak ada yang buka suara, Zhoucheng sudah kesel banget ngelihat Jili senyum-senyum sendiri akhirnya dengan terpaksa Zhoucheng menggendong badan Jili ala tukang panggul beras terus dibawa pergi ninggalin dua orang yang lagi melanjutkan aksi saling tatap.
"Zhanzhan... Miss me?"
------------------------------------
See you next chapter
