Tsukishima Kei mendapatkan jumlah bendera yang nyaris hampir sama dengan milik putra mahkota dari Kerajaan Kageyama, yang menduduki peringkat pertama. Terlihat Kageyama Tobio tersenyum puas dengan hasilnya. Dia mendapatkan banyak bendera dari bidikan buah-buah yang ditentukan oleh pelatihnya. Banyak diantara teman-temannya dalam akademi antar Kerajaan tidak heran lagi dengan kemampuannya. Bahkan banyak diantaranya itu adalah bakat yang sudah diturunkan oleh Kerajaan Kageyama.
"Kau terlihat marah, Pangeran Tsukishima." kekeh salah satu pangeran, Koganegawa Kenji, yang memberhentikan kudanya sejenak disebelah Tsukishima Kei.
"Diamlah." Kata Kei melirik teman dekatnya.
"Dia berbakat, Kei." Kata Kenji melihat teman-temannya mengerubungi Kageyama Tobio dan mengucapkan selamat pada mereka.
"Kita akan terlihat seperti musuh bila kita berhenti disini dan hanya melihat saja," celetuk seseorang yang menghentikan kudanya di sisi Kei yang lain. Kosuke Sakunami.
"Seharusnya kita juga mengucapkan selamat pada pimpinan para Kerajaan," tambahnya sambil menyeringai.
"Kita harus menunggu keputusan Pangeran Tsukishima," kekeh Kenji.
Kosuke hanya tersenyum pada Kei yang tampak tidak menyukai ajakan mereka secara tidak langsung. Kei tampak sedikit menghentakan kakinya dan membuat kudanya berjalan pergi, tidak mendekati Kageyama Tobio. Dia sedang tidak berminat berinteraksi dengan siapapun. Baginya pelatihan ini hanya sementara, hampir tidak ada satu tahun. Dia merasa bahwa pelatihan seperti ini hanya menjalin hubungan antar Kerajaan dan juga mengenal mereka satu sama lain. Tidak ada konsep pertemanan baginya, karena entah kapanpun bisa jadi mereka akan yang ada disini adalah lawannya di medan perang.
"Pelatihan ini akan selesai beberapa minggu lagi," celetuk Akira Kunimi yang duduk disebelah Tobio saat pelajaran literasi hari ini.
Yutaro Kindaichi, rekan Tobio yang lain, tampak menghelakan nafasnya. Dia memandang para Pangeran juga anak Bangsawan yang berada dikelas mereka duduk. Mereka tampak bergerombol dengan rekanan Kerajaan atau aliansi politik dari keluarga mereka.
"Kau yakin, kita akan mendapatkan rekanan baru? Aliansi baru?" celetuk Yutaro kembali menghadap ke depan lalu kearah pintu dimana cendikiawan yang akan membimbing mereka akan masuk.
"Apakah Tuan Takeda akan terlambat lagi hari ini?" tambahnya sambil menghela nafas.
Tobio ikut memandang kearah pintu, dia hanya mengedutkan pipi kanannya lalu melirik seseorang yang dirasa selalu memerhatikannya. Tsukishima Kei hanya meliriknya sekilas lalu memalingkan wajahnya.
"Bisa jadi kita akan mendapatkan aliansi baru. Itu yang diharapkan oleh orang tua kita," kekeh Akira.
Tobio hanya mengangguk-angguk. Dia kembali melirik Kei yang sudah membuka perkamen di mejanya. Dia cukup iri dengan para Tsukishima yang terlahir pintar dan otak yang cerdas. Kerajaan Kei terkenal dengan kemampuan strategi perang terbaik, dan juga para delegasinya dikenal sebagai penegosiasi yang handal. Tobio tidak akan heran, kalau Kei selalu mendapatkan juara umum dibidang literasi. Bahkan secara kemampuan umum—dia tidak mau mengakuinya—bahwa Kei memiliki kemampuan antara fisik dan pikiran yang sama tinggi.
"Kau berniat untuk menjalin aliansi dengan Kerajaan Tsukishima?" tanya Akira membuat Tobio berjengit terkejut.
"Kenapa?" tanya Tobio menaikan satu alisnya.
"Omeganya sangat pintar-pintar, Tobio. Kau tahu, mereka juga sangat rupawan. Tapi... huft... sangat pandai berdebat. Aku tidak mau dijodohkan dengan klan mereka," keluh Yutaro.
ESTÁS LEYENDO
My King
FanfictionSemua karakter meminjam dari Furudate Sensei. Tidak ada hubungannya dengan Manga - Anime Haikyuu. - AU Fanfic Fantasy - Berlatar tentang Kerajaan ABO Universe. - Tentang King Alpha Tsukishima yang memiliki Queen Omega Kageyama. - Memiliki setting k...
