Assalamu'alaikum readers 🤗🤗
Gimana kabarnyaa, semoga sehat terus yaaaa
Oiya ini cerita baru aku lagi, setelah cerita Dista, Dafian dan Dhermaga
Mohon bantuannya yaa, jangan lupa Vote dan coment,
Semoga sukaaaa🧡🧡🧡
~Happy Reading~
"Mas, besok temenin Bapak ngisi tausiyah ya, soalnya lokasi lumayan jauh," Ucap seorang Kiai bernama Junaidi yang merupakan pengasuh pondok pesantren Darul Jannah di daerah Betung Bukit.
"Baik Pak," Balas seorang pria tampan di hadapannya yang tak lain adalah asisten Junaidi yang sangat ia percaya, ia bernama Abizar Barack Abraham.
Abizar merupakan seorang santri yang sudah mengabdi selama tujuh tahun di pondok milik Junaidi, dulunya ia adalah pemuda yang sangat nakal dan jauh dari kata baik, ketika sudah menimba ilmu di pondok tersebut, ia kemudian ditawarkan menjadi asisten dari Kiai pemilik pesantren tersebut, sekaligus menjadi teman bepergian oleh Kiai itu karena di usia pernikahannya dengan sang istri yang sudah memasuki empat puluh tahun, Junaidi belum di berikan keturunan hingga saat ini.
Junaidi sendiri telah mengangkat Abizar sebagai anaknya, namun Abizar masih ingin menjadi Asisten sang Kiai, karena ia merasa belum pantas untuk menyandang gelar sebagai anak Kiai, walaupun bukan anak kandung.
"Kalo boleh tau alamat lengkapnya di mana ya Pak, biar Mas cari rute nya supaya bisa dikira-kira besok keberangkatan kita," Ucap Abizar dengan suara yang sangat lembut, ia memang sudah menganggap Junaidi seperti Ayah kandungnya sendiri, pasalnya ia sekarang sudah tidak punya siapa-siapa lagi karena keluarganya tak pernah memberinya kabar hingga saat ini.
"Ini alamatnya ada di undangan Mas, nanti bisa Mas liat di sini aja ya," Junaidi menyodorkan secarik kertas kepada Abizar yang langsung diterima dengan senang hati oleh pemuda itu.
"Baik kalau begitu Mas ke asrama dulu ya Pak, mau cek anak-anak udah pada tertib atau belum," Pamit Abizar kepada Junaidi lalu segera keluar dari Ndalem.
"Desa Suka Mulyo Batu Warisan."
Abizar berpikir sesaat melihat alamat yang ia baca di dalam surat undangan yang diberikan oleh Junaidi.
"Udah lah kan ada Maps, gampang besok mah." Lanjutnya lalu kembali berjalan menyusuri area pesantren, karena Abizar juga dipercaya untuk mengelola pesantren dan mengendalikan para santriwan dan santriwati di sana.
Abizar memicingkan matanya saat melihat segerombolan pemuda di pojok tembok asrama putra, ia lalu mendekat dan segera menyudahi perbuatan para pemuda itu.
"Siapa yang memperbolehkan merokok di area pesantren?" Suara baritone itu mengejutkan beberapa pemuda yang sedang menghisap nikotin di sana, kakinya mulai gemetar saat melihat tatapan tajam dari seniornya yang terbilang sangat kejam, bahkan Abizar terkenal tak pernah tanggung ketika memberikan hukuman untuk para santri yang terbukti melanggar aturan pesantren.
Ctarrrrr
Para pemuda itu langsung berhamburan memasuki asrama masing-masing saat mendengar cambukan yang ditujukan ke tembok oleh Abizar.
"Mau macem-macem di sini?" Tanya Abizar sembari menatap tajam rombongan pemuda tersebut.
"Ah, ga enak banget sih di sini, ga bisa ngerokok, ga bisa liat cewe-cewe, ga bisa tebar pesona, apalagi kalo Mas Abi udah keliling," Ujar lelaki yang sedang bersandar di tembok asramanya, ia merupakan salah satu pemuda yang tertangkap basah oleh Abizar tadi.
Memang banyak sekali santriwan yang mengumpat akan kedisiplinan Abizar ketika menghakimi mereka, namun tak sedikit juga santriwati yang justru menarug hati kepada Asisten Kiai mereka itu.
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Pesona Asisten Pak Kiai
Rastgele⚠️DUA TIGA MAKAN ALPUKAT, SORRY DI SINI GA TERIMA PLAGIAT, Jika Santriwan untuk Santriwati, Gus untuk Ning, Ustadz untuk Ustadzah, Habib untuk Syarifah, Mas Hafidz untuk Mbak Hafidzhoh, Mbak Abdi Ndalem untuk Supir Kiai, lalu aku gadis biasa dengan...
