Perkenalkan Namaku Muhammad Ali, teman-temanku biasanya memanggil namaku Ali, aku lahir dari keluarga sederhana di sebuah kota besar disulawesi selatan yaitu kota Makassar. Tempat ini adalah tempat dimana aku dibesarkan oleh Ayah dan Ibuku.
Aku banyak menghabiskan masa kecilku di kota ini, Ketika aku duduk di kelas 3 SMP aku harus kehilangan ibuku karena sakit yang ia derita secara tiba-tiba. saat itu aku merasa terpukul, akupun kehilangan arah. aku memeluk ibuku, aku menangis sejadi-jadinya saat itu. seketika diantara keputus asaanku aku merasa tidak ada lagi yang aku inginkan selain ibu kembali.
Akhirnya aku bangkit dari jasad ibuku yang ku peluk, aku ambil air wudhu lalu aku sholat dalam keadaan hati yang tidak tenang, rasanya sesak sekali hingga pada sujud akhirku akupun tidak sanggup menahan air mata yang tumpah, kemudian aku bangkit dari sujudku ku ucapkan salam setelah tahiyat akhirku, lalu kuangkat kedua tanganku dan aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya.
"Ya Allah, Ya Allah......... Ya Allah...... Kembalikan ibuku ya Allah, dosaku terlalu banyak untuk kutebus hanya dengan air mata yang keluar ini. Ya Allah aku mohon ya Allah " saat itu air mataku bercucuran nafasku sesak, keputusasaan menyelimutiku.
Lalu aku berdiri kembali dengan harapan ibuku bisa kembali, hingga pada akhir salam, kuangkat kedua tanganku kali ini aku benar-benar rapuh serapuhnya, datanglah ayahku kemudian memelukku.
"Anakku bersabarlah nak, ada ayah disini, ayahpun mencintai ibumu, kamupun mencintai ibumu tetapi Allah lebih mencintainya, ayah tahu apa yang engkau rasakan karena itu juga yang ayah rasakan hari ini, tetapi nak sabar, sabar, tenang Allah mencintai ibumu" Sambil meneteskan air mata ayah memelukku dengan erat.
Akupun terdiam aku bangkit dari tempat sholatku, kutatap wajah ibu yang pucat dan sesekali aku mencium keningnya, aku berharap ibuku kembali.
lantunan ayat suci yang kubacakan diantara sesaknya dadaku tidak mampu menahan air mataku untuk tumpah. tubuhku sangat lelah, aku sangat rapuh serapuh-rapuhnya, sampai aku terlelap tertidur disamping kepala jasad ibuku.
sampai keesokan harinya waktu dimana semua orang mempersiapkan pemakaman ibu, detak jantungku kembali berdetak kencang, sangat sesak karena masih berharap ibuku bisa kembali.
hingga akhirnya ibuku dimandikan, dikafani dan di sholati akupun semakin merasakan betapa aku merasakan kehilangan yang sangat menyakitkan, air mataku tumpah sejadi-jadinya. kemudian diantarlah jasad ibuku kepemakaman, ku tenangkan hatiku, sesekali aku menahan air mata untuk tidak menetes tetapii aku tidak berdaya saat itu.
sesampainya dipemakaman, diturunkannya jenazah ibu kedalam liang lahat saat itu dadaku berdetak sangat kencang lalu aku bergumam didalam hati.
"Ya Allah berikan aku keikhlasan untuk menerima takdir ini, ibuku sangat ku cintai berikan aku keyakinan bahwa cinta-Mu melebihi cintaku sebagaimana ayahku menyampaikan kecintaan-MU" sambil menangis, aku sesak aku berusaha untuk ikhlas.
Ayahku memelukku " Anakku bersabarlah, Ada rahasia Allah dibalik semua ini, doakan ibumu nak kamu harapan ibumu, jangan jadikan kehiilangan sebagai keputuasaan untuk menggapai semua harapan ibumu, doakan ibumu, ikhlaskan ibu, karena masih ada ayah mencintaimu".
Setelah itu kami pulang kerumah, aku duduk terdiam melamun di tempat dimana jasad ibuku tadi terbaring, kemudian ayahku mengambil makanan untukku namun aku masih larut dalam kesedihan sulit rasanya untuk makan saat itu.
" Nak makanlah dulu, nanti kamu sakit" kata ayahku sambil meletakkan piring disampingku.
setelah makan akupun bergegas bersih-bersih untuk bersiap ke masjid untuk sholat maghrib,
adzanpun berkumandang, kulangkahkan kakiku menuju Rumah-Nya berharap kesedihanku akan hilang, dan keputusasaan yang menyelimuti diriku juga berkurang.
Iqomahpun berkumandang, ku berjalan merapatkan shaf, takbirpun diangkat oleh sang imam, kudengarkan lantunan surah Al-Fatihah yang begitu indah menyentuh relung hati yang paling dalam, air mataku tak terbendung, seketika aku merindukan ibuku dalam sholatku. sampai akhirnya setelah salam kuangkat kedua tanganku.
" Ya Allah hamba mohon kepada-Mu, apakah kehilanganku ini karena atas dosa-dosa hamba selama ini ?. Ya Allah, ketika ibu ku pergi hamba dalam kekhawatiran, hamba dalam keputusasaan, aku berharap engkau menjaga hamba ya Allah. Ya Allah Ampuni dosa ibuku, tempatkan ia ditempat terbaik disisimu, lipatgandakan pahalannya, dan lapangkan alam kuburnya" .
hari pertama kepergian ibuku aku merasa betul-betul kehilangan arah hidupku, aku diselimuti keputusasaan walaupun aku sadar aku butuh dengan Allah saat ini.
keesokan harinya akupun ke sekolah, lagi-lagi masih dalam keputusasaan, masih ada rasa tidak ikhlas akan kepergian ibuku. aku dikelas hanya bisa terdiam, aku benar-benar kehilangan semangat hidupku
Setiap hari aku menjalani hari-hariku seperti berjalan dengan satu kaki, aku kehilangan semangat hidupku. di sekolah aku hanya bisa duduk termenung, dengan tatapan kosong, setiap hari begitu.
sampai suatu waktu karena keputusasaanku, setiap pagi aku pergi menyendiri aku tidak sampai di sekolah aku benar-benar kehilangan arah. padahal waktu itu sudah mendekati hari-hari ujian nasional disekolah. tetapi pikiranku benar-benar berperang untuk menerima takdir.
hingga pada akhirnya datanglah surat panggilan orang tua dari pihak sekolah, kemudian ternyata ayahku menerimanya.
Aku pulang ke rumah tanpa mengetahui bahwa surat itu datang kerumah, sesampaiku di rumah ayahku menangis entah menahan marah atau kesal kepadaku.
"Anakku, kenapa engkau lakukan itu, jangan karena ibu mu pergi lalu kamu memutuskan harapan ayah dan ibumu."
aku hanya bisa menunduk dan meminta maaf
"Maafkan aku ayah, aku benar-benar kehilangan arah, aku tidak bisa berbuat apa-apa" kataku sambil menangis, kupeluk ayahku.
Keesokan harinya aku kembali kesekolah, saat itu sudah berlangsung ujian akupun ke kelas. setelah menyelesaikan ujian, ketika aku ingin beranjak pulang, teman-temanku mengejarku katanya aku di panggil oleh guru fisika, ibu fatmawati.
Ibu Fatmawaty adalah guru fisika yang sangat senang denganku, aku adalah murid kesayangan beliau.
akhirnya aku menghadap ke ibu fatmawaty, ternyata ibu fatmawaty menyatakan kekecewaannya kepadaku, lagi-lagi aku menangis mendengar nasehat ibu fatmawaty ketika itu
"Kamu dari mana saja nak Ali, jangan karena keputusasaanmu justru merugikan dirimu, jika kamu mencintai ibumu, seharusnya engkau tidak berlarut-larut dalam kesedihanmu nak. ibu tahu apa yang kamu rasakan nak ali, kembalikan dirimu nak, jika kamu ingin almarhum ibumu bahagia melihatmu " sambil beliau juga menangis ketika menyampaikan itu
Akupun hanya bisa menangis ketika itu, aku menangis sejadi-jadinya, nafasku sesak ketika guruku menyampaikan nasehat itu kepadaku. detik itu aku merenung bahwa dibalik rasa kehilanganku ternyata banyak sekali orang yang mencintaiku.
Akhirnya aku menyelesaikan ujian nasionalku dan akupun lulus dari sekolah, akhirnya ayahku menginginkan aku untuk melanjutkan SMA di luar kota tanpa sepengetahuanku tiketpun sudah disiapkan, mengingat salah satu kebiasaan suku bugis adalah merantau, awalnya aku menolak
sampai aku menyembunyikan ijazahku karena tidak ingin pergi dari kota ini.
"Nak, kamu sudah lulus sekolah, ayah berharap kamu bisa melanjutkan sekolah diluar kota, tiketnya sudah siap, nanti subuh kita sudah berangkat" kata ayahku
mendengar itu akupun kaget "Lah kok gtu, kok mendadak sekali, aku tidak mau ayah, pokoknya aku tidak mau ijazahku juga udah gak ada aku buang, aku gak mau keluar kota" kataku kesal dan berbohong kalau ijazah sudah kubuang karena aku tidak ingin pergi meninggalkan kota ini.
akupun melihat wajah ayahku yang kecewa, sedih dengan pernyataanku, kemudian aku dikamar merenung sendiri sambil bergumam sendiri didalam hati "Kasian ayahku Ya Allah" akhirnya aku tidur dan saat aku terbangun akhirnya dengan hati yang lapang aku ikhlas aku sampaikan ke ayahku kalau aku siap untuk melanjutkan sekolah di luar kota.
akhirnya subuh itu aku kebandara bersama ayahku dan ayahku juga terbang bersamaku keluar kota untuk menemaniku selama proses pendaftaran di luar kota.
*Bersambung..........*
-Bag 2 >>>>
YOU ARE READING
Diriku
RomanceMengisahkan perjalanan seorang pria yang bernama Ali yang terombang ambing dalam proses hijrahnya, sampai ia harus menghadapi banyak persoalan hidup bahkan sampai ayah dan ibunya meninggal dunia, saat itu pula keputus asa-an menghampiri dia, hiingga...
