Blazer Cokelat

82 16 27
                                        

Sosok seorang pria kerempeng yang tinggi selalu terlihat di ekor matamu. Suatu hari, sosok itu memperlihatkan diri melalui cermin ketika kamu siap-siap pergi bekerja.
-Prompt 3

-

Tingginya lebih dari dua meter, jangkung, kurus, jari-jemarinya seperti kulit keriput yang menempel pada tulang, wajahnya gelap dan suram, jubah hitam menjuntai lebih tinggi dari tubuhnya yang tidak menapak lantai, aku tidak berani melihatnya secara detail, aku selalu melihatnya di ekor mataku, setiap tak sengaja menoleh ke arahnya aku selalu bergidik.

Aku sedang meringkuk sendirian di bawah selimut di kasur kosku, berusaha menyembunyikan pandangku. Pagi ini aku makin merasa tak nyaman karena bukan hanya mataku, tetapi bau anyir tercium di hidung dan bulu di tengkukku meremang. Kuhitung sudah seminggu ini aku diikuti.

Sudah kutanyakan pada rekanku semenjak hari pertama aku diikuti, jawab rekanku aku terlalu banyak bekerja sehingga berhalusinasi. Aku menggeleng keras, ini bukan halusinasi. Usaha lain, aku menemui orang yang mungkin lebih paham di hari kedua diikuti, tidak membuahkan hasil, malah makin jelas rupanya. Aku berusaha membiasakan diri dengan kengerian ini, tetapi sama sekali tidak membuatku terbiasa.

Sosok itu berdiri di tengah-tengah kamarku sambil menunduk dan menggerakkan tangannya. Kuulangi, berdiri di tengah-tengah. Aku bergidik memikirkan bagaimana cara melewatinya menuju kamar mandi yang berada di balik pintu. Tambahan informasi, satu-satunya tempat makhluk itu tidak mengikutiku adalah kamar mandi, tetapi aku tidak mungkin menghabiskan 24 jam di sana. Akhirnya aku berlari sambil menutup mata dan menahan napas, aku tahu degup jantungku terdengar sangat keras saat ini.

Singkat cerita, ketika aku keluar dari kamar mandi, sosok itu tidak ada di tengah kamarku lagi. Kuhembuskan napas lega sejenak. Karena aku sudah berpakaian, tinggal menambahkan blazer cokelat sebagai luaran dan merapikannya di depan cermin. Sekitar dua menit aku bercermin, aku menjatuhkan bedakku ke lantai dan aku langsung mendengar bunyinya berdebum pecah. Mataku terkunci pada sosok di cermin, bukan wajahku yang terpantul, melainkan sosok pria pucat memakai blazer cokelatku, berdiri di tempatku, dan dia adalah aku. Aku menjerit sejadi-jadinya sambil memejamkan mata dengan badan semakin bergetar.

Lima menit aku ditemani hening sambil terisak tanpa suara di depan cermin tanpa membuka mata. Kemudian, aku perlahan membuka mataku dan pantulan cermin di depanku kembali berwajah diriku. Aku tersungkur sedikit lega, dengan dada masih sesak. Kemudian aku segera keluar dari kamarku dan menuju kamar sebelahku. Tanganku dengan cepat mengetuk pintunya.

"Ada apa?"

"Maaf teriakanku mengganggu."

"Teriak? Dari tadi sepi kok."

"Kamu lagi dengar lagu menggunakan earphone atau headset?" tanyaku gugup. Dia menggeleng. Aku semakin berusaha menahan getar dan lemas tubuhku, aku tahu betul kosan ini tidak kedap suara. Aku pun mengucapkan terima kasih lalu menuju kamar yang lain. Jawaban yang kuterima sama. Aku semakin merinding.

Kemudian, aku berusaha tidak merisaukan hal tersebut dan segera berangkat bekerja dengan motorku. Kantorku tidak terlalu jauh dari kos, tetapi melalui jalan yang berkelak-kelok dengan jurang di sebelah pembatas jalan dan pepohonan. Aku agak lega, sosok tersebut hilang setelah terakhir muncul di wajahku di cermin. Aku bergidik mengingatnya, berusaha tetap fokus berkendara. Detik selanjutnya aku membanting motorku secara refleks sampai beberapa detik kemudian aku kehilangan rasa atas ragaku.

Ketika membuka mata aku merasa sangat ambruk, tidak bisa menggerakkan tubuhku. Aku terbaring memandang langit, kutebak aku sedang berada di bawah jurang, dengan dedaunan menutupi hampir sebagian besar tubuhku. Aku tidak bisa bicara dan tidak terdengar sedikit pun rintihanku. Aku mencoba bernapas yang kini setiap helaan napas membuatku merasa sakit.

Cukup lama aku berusaha mengingat apa yang telah terjadi. Saat aku berkendara, sosok tersebut muncul di depan motorku, berperawakan jangkung, tetapi tidak memakai jubah seperti biasanya, dia memakai baju yang kukenakan dari atas sampai bawah. Itulah yang membuatku membanting motorku dan membanting tubuhku sehingga aku terlempar melewati atas pembatas jalan dan jatuh ke bawah jurang.

Jikalau mereka menemukan motorku di atas sana, mereka pasti berusaha mencariku. Namun, aku punya praduga bahwa sosok yang selama seminggu ini mengikutiku berusaha mengambil alih duniaku.

Namun, kenapa? Apa yang dicari pria jangkung mengerikan itu? Dan bisakah dia berubah jadi manusia? Aku merutuk pedih, untuk apa aku menanyakan hal itu.

Akan menjadi berhari-hari lagi untuk berharap orang menolongku, daun terus berguguran ke atas tubuhku, menutupiku. Ah ya, sosok mengerikan itu punya akal, dia tahu bagaimana cara terbaik menyembunyikan mayatku di musim yang tepat.

Satu daun jatuh lagi, kali ini tepat di atas mataku, aku tidak bisa memandang langit. Aku mendengar detak jantungku melemah. Semakin lama semakin gelap. Aku gugur, bersama dedaunan, dan akan mengalami pembusukan bersama.

-

Selesai, 696 kata

Blazer CokelatWhere stories live. Discover now