Namaku Santi

11 1 0
                                        

“Kita harus merasakan semua hal, kita hidup untuk pertama kalinya kenapa takut bersedih? Kita hidup untuk terakhir kalinya kenapa tak mau bahagia?”

Kita bicara soal dunia maka James adalah duniaku, jika kita bicara soal hidup ini kapal maka james adalah pulau terakhir yang akan aku tuju, aku benar-benar jatuh hati padanya. James adalah lelaki yang cukup eksentrik, banyak hal aneh tapi entah bagaimana malah kusukai contoh kecil ketika dia mulai bertanya akan banyak hal yang aku bicarakan atau mulai melakukan kebiasaan-kebiasaan baru yang selalu coba aku bangun (walau pada akhirnya biasanya aku gagal). Belum lagi kita membicarakan soal semudah apa dia berbaur dengan orang baru, atau sehebat apa dia dalam olahraga. Masih banyak hal baik yang dimilikinya walaupun tak bisa dipungkiri seorang James-ku ini juga memiliki banyak kekurangan. Mulai dari ucapan yang kadang tidak bisa kuanggap itu sopan (hanya ke aku) atau kelakuan aneh yang kadang tiba-tiba merajuk tanpa sebab. Apapun itu aku tetap tak bisa menolak fakta bahwa aku telah jatuh cinta padamu James.

Surat ini kutuliskan untukmu untuk menjelaskan semua permasalahan yang ada diantara kita James, antara kau dan aku, antara James dan Santi. Kuharap kau mau menemuiku untuk terakhir kalinya  (walau aku harap akan ada pertemuan lainnya lagi karena soal itu nanti tergantung kita) untuk memperjelas status hubungan kita yang abu-abu ini. Mungkin surat ini akan berisi celotehan panjang dariku kepadamu, soal bagaimana dirimu dimataku ini. Dan kalau kau bertanya-tanya kenapa aku lebih memilih mengirimimu surat daripada mengirimimu pesan lewat aplikasi, karena aku ingin hal ini bermakna James, ini berbeda dari biasanya.

Hubungan kita dimulai ketika aku berada di perkuliahan semester 5 atau 7? Aku tak terlalu ingat, yang kuingat kau masih berada di bangku SMA James. Keberanian yang luar biasa ku ucapkan padamu mengingat berani-beraninya kau mendekatiku yang jelas terpaut 2 tahun lebih? Meskipun sebenarnya titik awal hubungan kita tidak benar-benar dari sana, karena kita sudah saling mengenal sejak kecil bukan? Dimulai dari bermain bulu tangkis dengan peraturan seenaknya kita sendiri itu. Apa kau masih ingat James, bagaimana kita dengan percaya diri berpikir bahwa bulu tangkis bisa melakukan operan seperti voli?.

Ketika itu aku pulang dari kelas dengan keadaan lesu dengan jelas kuingat itu adalah hari rabu, dan aku lesu karena judul skripsi yang ku ajukan tak mendapatkan reaksi bagus dari dosen pembimbing. Aku baru mau memasuki rumah tapi kau berteriak dari ujung gang, “San, besok minggu free ga?” dan anehnya kali itu bukan jawaban seperti “Ada kerjaan” atau “Belum tau sih” melainkan “Kosong sih, gimana” jawaban yang entah sekarang aku tak tau apakah aku harus merasa bahagia atau malah menyesal?. Malam harinya setelah 3 tahun atau mungkin lebih tidak ada percakapan di room chat kita, kau mengirimkan bubble pertama, menanyakan tentang kejelasan soal hari minggu besok. Dan percakapan malam itu menjadi percakapan yang cukup panjang. Terbukti pada esok harinya, tepatnya hari kamis ada kelas yang harus kuhadiri jam 7 pagi tapi aku tidak berangkat, terlambat bangun, aku baru bangun pukul 9.

Hari minggu itu, pertemuan pertama kita atau lebih bagus jika kusebut pendekatan pertama darimu? Meninggalkan kesan yang amat dalam, kau bukan lagi James aneh yang kadang tiba-tiba menjauh tanpa alasan tapi benar-benar menjadi James yang tau bagaimana cara berteman. Jika boleh jujur dari pertemuan di hari minggu itu aku secara diam-diam sudah menaruh rasa padamu. Aku nyaman berada di sekelilingmu tapi tentu aku tak berani untuk bicara, takut kamu merasa jijik dan tidak nyaman jika dikejar-kejar. Jadi, kubiarkan kau berlaku sesukamu, aku akan tetap mengikutimu. Tak ada hal buruk pada pertemuan pertama itu, mungkin selain ajakan-ajakan keluar bersama yang hampir setiap hari ku dapatkan setelah pertemuan itu (Hei aku juga menyukainya saat itu).

Intensitas interaksi kita semakin sering setelah pertemuan pertama itu, dan mungkin karena kita sama-sama dimabuk rasa? Sehingga tak melihat problema besar yang terpampang jelas di depan mata. Kalau bicara soal dimabuk rasa mungkin hanya aku yang dimabuk rasa jadi hanya aku yang tiba-tiba menjadi buta tentang problema itu karena pada saat itu dan sampai sekarang kau masih menolak percaya bahwa kau jatuh cinta dan nyaman denganku, dengan seorang Santi, James. Kita masih menjalani hubungan ini, saling bertukar kabar itu pasti walau tak setiap menit setidaknya izin untuk pergi kemana hari ini atau sebatas bertanya apa yang kau alami hari ini, itu menjadi rutinitas. Kita tak saling menjadi sepasang teman yang mengganggu, kita menghargai privasi satu sama lain karenanya kita berpikir, maaf tak bisa kukatakan kita lebih tepatnya adalah aku, aku berpikir ini hubungan yang bisa berjalan dengan baik, dan menjanjikan untuk masa depan. Dan sekali lagi aku menjadi buta padahal sudah ada problematika yang jelas dan besar ketika hubungan ini dilanjutkan.

Pertemuan-pertemuan lainnya terjadi begitu saja begitu cepat, rasanya semuanya begitu membahagiakan, banyak kenangan tertoreh disana ataupun dimari dengan berbagai warna, aku benar-benar merasa hidup untuk pertama kalinya. Dan kau masih belum sadar bahwa kau memiliki rasa yang sama. Di tahap ini James, aku benar-benar merasa harus berjuang sendirian karena aku pikir pada awalnya hanya aku yang menyimpan rasa ini James. Hanya Santi seorang. Kau memperlakukanku dengan istimewa tapi kau merasa itu semua biasa saja, “Aku juga melakukan hal yang sama pada temanku yang lain” tambahmu saat itu ketika ku tanya “Kamu ga kerasa aneh dengan pertemanan kita?”. Hatiku cukup terpatahkan kala itu, tapi mau bagaimana lagi aku sudah berpikir untuk mulai menjaga jarak darimu.

Layaknya permasalahan, itu harus diceritakan untuk menghilangkan beban. Sama perasaan ini harus kukatakan untuk menghilangkan perasaan ganjil yang kurasakan. Tak bisa dibilang waktu yang sebentar untuk mengumpulkan nyali, James. Aku memakan waktu 6 bulan lebih, yang selama 6 bulan itu perasaanku benar-benar kau campur adukkan, kau tarik ulur bagai permainan tarik tambang dan berengseknya kau tak pernah sadar akan hal itu. Dalam 6 bulan itu aku akhirnya mulai merasa ragu dan mulai bisa membuka mata terhadap dirimu. Karena sejatinya manusia pasti tak pernah bisa sempurna, kau pun sama sedikit demi sedikit aku tau kekuranganmu.

Kalau dulu kupikir kelakuan anehmu itu sudah hilang ternyata belum, kau masih kadang tiba-tiba marah tanpa mau menjelaskan penyebabnya. Tiba-tiba menghilang tanpa kejelasan dan kembali dengan membawa harapan, dan anjingnya tak sekalipun kata maaf kau ucapkan. Walau memang kuakui dalam 6 bulan itu ada beberapa hal yang memang salahku, seperti kau sudah mulai tau bagaimana cara menghargai orang untuk tidak hanya membaca pesannya saja tetapi juga membalasnya walau tidak penting, dan ketika kau mulai berubah malah aku sendiri yang dengan sengaja hanya membaca pesanmu tanpa membalasnya. Kalau pakai istilah di dunia HP maka ‘kau kembali ke setelan pabrik’, manusia angkuh yang merasa dirinya pusat dunia. Kau hanya membaca tak pernah menjawab jika itu tidak menarik perhatianmu. Tak hanya itu banyak ucapanmu yang sebenarnya menyinggungku walaupun kau ucapkan dengan bercanda, seperti ucapan bahwa aku bodoh? Aku kurang kemampuan dalam olahraga? Aku memperburuk moodmu? Dan lainnya. Tak pernah aku bilang aku tersinggung, kau tau aku terlalu menjaga perasaanmu.

Dan setelah 6 bulan yang sangat menyiksaku itu, akhirnya aku berani untuk bicara padamu, bahwa aku menyukaimu bukan sebagai teman tapi sebagai seorang pasangan. Dan inilah akhirnya permasalahan kita, kau menghilang lagi tanpa kejelasan, kau kembali hanya membaca pesan-pesan yang kukirimkan. 1 minggu lalu aku mengucapkannya tepat dihadapanmu, mukamu langsung berubah dan pergi meninggalkan aku sendirian di kafe itu. Room chat kita kembali lagi seperti  sedia kala, tidak ada lagi laporan soal bagaimana hari ini atau apa yang terjadi. Setelah ungkapan rasa itu hanya satu bubble chat yang kau kirimkan pada hari yang sama saat kau pergi meninggalkanku di cafe itu sendiri, di jam yang sama saat aku merasa menyesal berani untuk mengatakan, dan tepat 3 menit setelah aku mengucapkan “Aku menyukaimu sebagai pasangan”. Isi bubble chat itu  adalah “Apa kau sudah gila Santi?”.

Mengapa aku gila James?.

JantiWhere stories live. Discover now