Aqeela termangu menatap jendela yang berada dalam kamarnya, sungguh ia tak pernah sekelebat dalam pikirannya membayangkan dirinya akan menikah di usia yang terbilang masih muda. Dia tahu, sejak kecil bunda nya selalu menceritakan bagaimana sang bunda dapat bertemu ayahnya namun ia tak menyangka bahwa yang mereka maksud itu merupakan; perjodohan.
“Qeel” panggil seseorang yang tak lama menemani Aqeela berdiam diri dalam kamarnya atau kini disebut kamar mereka.
“Dari awal lu emang udah tau ya? Waktu pertama kali kita ketemu, lu selalu ngelihatin gue dengan tatapan yang beda sekalipun Fattah ada disana” Aqeela menggumam, sungguh dirinya masih shock dengan apa yang terjadi.
“Maaf, Qeel” ujar lelaki yang sedang berdiri tak jauh dari dirinya.
“Moh, gue sayang banget sama Fattah dan lo tahu tentang hal ini” Aqeela termenung–kekasihnya, bagaimana ia akan menjelaskan hal ini kepada kekasihnya.
“Biar gue yang bilang sama Fattah, Qeel. Dia temen deket gue, gue tahu pasti rasanya nggak akan sama setelah dia tahu tentang hal ini” Mohan, lelaki yang kini sudah berstatus suami Aqeela mencoba untuk mendekati perempuan yang terduduk mangu diatas kursi.
“Jangan” seru Aqeela dengan suara panik, sungguh ia tak mau melihat Fattah tidak dapat mengontrol emosinya apabila dia tahu bahwa Aqeela sudah menjadi milik Mohan seutuhnya.
“Tapi Qeel ini bukan sesederhana itu–nggak sesederhana saat Fattah berpikir kalau kalian nggak akan pernah berpisah dengan cara begini” Mohan benar, tak terbayang sesakit hati apa yang akan dialami Fattah jika dia mengetahui kebenaran bahwa kekasih dan teman terdekatnya ternyata bukan sekadar teman biasa.
“Biar ini yang jadi urusan gue sama Fattah, Mo.” Aqeela berkata pelan, menolak tawaran Mohan karena ia percaya hal yang paling ia butuhkan sekarang hanyalah Fattah–kekasihnya.
“Gue keluar dulu Qeel, ada urusan” Mohan menghiraukan ucapan Aqeela karena dia tahu, hati perempuan itu masih berada dalam genggaman sahabat dekatnya.
Aqeela diam, bagaimanapun posisi Mohan sama tak enaknya seperti ia sekarang. Jika saja Aqeela dapat menolak, sudah ia pastikan sejak awal dirinya memilih untuk bersanding dengan Fattah.
• • •
Fattah memandang Mohan dengan tatapan penuh tanda tanya, ada apa dengan temannya yang terlihat sedang memikirkan banyak hal.
“Fatt” Mohan mendongak, menatap Fattah dengan tatapan keraguan.
“Mau tanya lagi Raisa udah ada jadwal turnamen? Atau tentang hal lain?” tanya Fattah, merasa aneh dengan sikap Mohan.
“Jadwal turnamen Raisa, gue udah tahu. Gue mau tanya tentang hal lain” Mohan terkekeh pelan, masih saja temannya itu membahas Raisa–seorang perempuan cantik yang sedang Mohan taksir.
“Hal lain?” dahi Fattah mengkerut, tak biasanya Mohan menanyakan hal selain Raisa, tugas kuliah dan titip absen untuk mata kuliahnya.
“Semisal nih lu punya pasangan terus pasangan lu dijodohin, keputusan atau hal apa yang bakal lu lakukan?” Mohan memandang Fattah dengan tatapan yang Fattah sendiri tidak dapat menyimpulkan.
“Kalau Aqeela bilang dia di jodohin, gue pasti bakal terus memperjuangkan dia. Ntah orang tua nya setuju atau nggak, gue terus memperjuangkan hal-hal buat orang yang gue sayang” Fattah tersenyum, membayangkan perempuannya yang mungkin saja sekarang sedang sibuk mengomel karena ia tidak dapat menyelesaikan tugas mata kuliah yang paling dia tak suka.
“Kalau dia udah nikah apa lu masih mau tetap berjuang, Fattah?” ujar Mohan dengan nada serius.
“Nggak tahu, gue nggak segila itu tapi akan gue pastikan kalau dia bahagia. Bahagia dengan jalan yang dia pilih, mendapatkan kebahagiaan dari orang lain walaupun gue bukan orangnya” Fattah sempat terdiam, malam ini terasa berbeda namun ntah ia merasa ada suatu hal yang janggal.
“Lu sesayang itu sama Aqeela” Mohan berkata sambil memperhatikan ekspresi Fattah yang kebingungan.
“Moh, gue bukan setahun ataupun dua tahun sama Aqeela. Gue sama dia udah empat tahun, jangan ditanya gimana besarnya rasa cinta maupun sayang gue ke dia” Fattah menepuk bahu Mohan, yang Fattah butuhkan hanyalah Aqeela masih sama–seperti pada saat awal mereka bertemu sampai sekarang.
Mohan memandang Fattah dengan tatapan sendu, kalau saja Fattah tahu bahwa kekasihnya sudah dipinang oleh Mohan. Jika saja dia berani menolak permintaan orang tua nya, pasti tak ada rasa bersalah menghantui dirinya, menghantui Aqeela–perempuan manis yang membuat Fattah jatuh hati dan menaruh hati pada perempuan tersebut.
“Gue duluan ya Moh, masih harus jemput Aqeela karena malam ini gue mau ngajakin dia dinner” Fattah beranjak dari tempat duduknya setelah melambaikan tangan pada Mohan.
• • •
“Fattah” Aqeela menepis tangan Fattah yang hendak mengacak-acak rambutnya, bibirnya mengerucut yang mengartikan sebentar lagi bendera perang akan berkibar.
“Cantik banget pacar siapa ini?” Fattah tersenyum menatap Aqeela, merasa gemas melihat ekspresi wajah kekasihnya.
Aqeela hanya memandang Fattah dengan tatapan sinisnya, namun di mata Fattah bukanlah ekspresi Aqeela yang ia takutkan tetapi merasa gemas karena Aqeela selalu menggemaskan.
“Lucu banget” Fattah mencubit pipi Aqeela dengan gemas, sungguh perempuannya ini cukup membuatnya jatuh hati.
“Nanti jelek kalau diacak-acak gini Fattah” ujar Aqeela dengan menunjukkan wajah kesalnya.
“Masih sama” jawab Fattah, menggenggam tangan Aqeela dengan erat sambil merapihkan anak rambut Aqeela.
“Sama apanya?” Aqeela bertanya, ia sudah tahu jawabannya namun lebih suka mendengar jawaban kekasihnya.
“Cantiknya” Fattah melepas genggaman tangannya dengan Aqeela lalu ia memeluk kekasihnya dengan erat, seakan tak ingin malam ini berakhir.
Aqeela membalas pelukan Fattah dengan erat, ia menahan air matanya. Sungguh, sakit sekali rasanya menatap Fattah walau rasanya masih sama, Aqeela merasa bersalah kepada lelakinya. Aqeela tertawa kecil, Fattah masih sama–tak ada yang berubah dari dirinya meskipun hubungan mereka sudah menginjak empat tahun lamanya.
“I love you so much, cimit” Fattah mengelus rambut Aqeela dengan pelan, merasa tak ingin pisah dari Aqeela sedetik pun.
“I love you more” Aqeela termangu, dari kejauhan ia tak sengaja melihat bayangan hitam di balik mobil yang tak jauh dari mereka, dia tahu itu bayangan siapa tetapi ia memilih untuk diam dan memeluk Fattah lebih erat.
Sepasang kekasih tersebut masih berada di dunia mereka sendiri, dimana mereka dapat mencurahkan kasih sayang satu lama lain. Rasa cinta yang begitu dalam membuat Fattah dan Aqeela sempat merasakan kesempurnaan yang sesungguhnya, walau kini perlahan-lahan semua dapat berubah kapanpun waktunya.
ESTÁS LEYENDO
On The Wings of Love.
FanfictionAqeela harus menerima kenyataan bahwa ia yang masih berstatus mahasiswi terpaksa menerima sebuah pernikahan yang membuat dirinya harus menerima pinangan Mohan yang merupakan teman dekat kekasihnya, membuat Aqeela terpaksa menerima keadaan tersebut.
