Aku masih mengingat dengan sangat baik bagaimana suara lembut bapak menyuruhku untuk sholat senja itu.
Aku masih mengingat dengan sangat jelas percakapan yang bapak bangun di tengah diriku yang sedikit merajuk yang pada akhirnya es dalam diriku mencair dengan sendirinya hanya karena lelucon kecil bapak sebelum kejadian paling mengerikan itu terjadi.
Kejadian yang merenggut bapak pada maghrib itu.
Kejadian yang membuat bapak pergi selamanya di bawah bulan purnama yang menyaksikannya beserta jeritan pedihku yang menggema.
Kejadian yang selamanya akan tertanam di dalam amygdala ku bersama trauma lainnya.
Kejadian yang membuat mimih kehilangan cinta sejatinya.
Aku tidak tau bagaimana kecelakaan maut itu terjadi sebegitu cepatnya sebelum aku melihat bapak sudah berlumuran darah dan memuntahkan darah sebanyak-banyaknya di pangkuanku yang bergetar seluruh tubuh.
Aku hanya tau kami sedang bersenda gurau di tengah semilir angin senja sebelum bapak menjerit begitu kerasnya dan suara yang memekakakkan telinga itu seakan menghancurkan indra pendengarku saat itu juga.
Aku hanya tahu..
aku hanya ingin tahu itu hal itu.
Namun sayangnya semesta tidak mengizinkan itu dan kembali meberiku lara lewat kehilangan paling menyakitkan sepanjang hidupku dengan hal yang paling aku benci dan takuti.
Aku kehilangan Bapak hebatku satu-satunya pada maghrib itu karena kecelakaan maut yang tidak pernah aku sangka dan duga-duga karena nyatanya kamilah yang menjadi korban. Kami yang di tabrak. Kami yang hanya sedang berkendara sesuai dengan aturannya dan tenang menikmati semilir angin senja yang menemani.
Bapak
Pada saat itu juga, aku benci buasnya jalanan
Aku benci baso yang tadinya menjadi favourite kita sekeluarga, karena baso itulah yang menjadi faktor aku kehilangan bapak pada malam yang sangat ingin aku lupakan namun nyatanya tidak akan pernah bisa.
Aku benci pada tatapan orang-orang yang hanya memandang penasaran dan ketakutan di tengah keadaan bapak yang sedang sekarat daripada menolong kita berdua.
Aku benci bulan purnama yang menyaksikan pilunya suara tangisku mengatakan "Bapak iok ning kene" berulang kali namun nyatanya tidak akan pernah bisa mengembalikan bapak.
Aku benci truk pasir yang terlambat membawa bapak untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Aku benci pada suara ambulans yang membawa bapak pulang ke rumah dengan keadaan tidak bernyawa.
Aku benci rumah sakit dan suara bullshit dokter yang menyuruhku untuk tabah di saat duniaku sudah runtuh sepenuhnya saat dokter itu menyatakan bapak sudah tiada.
Seketika itu, aku benci semua hal yang aku lihat dan aku dengar di tengah kejamnya dunia pak.
YOU ARE READING
Bapak (a beautiful story behind the bitterness of regret)
RandomPada akhirnya, setelah perintah sholat bapak yang terakhir, aku tidak bisa lagi menemukan bapak di manapun. Hanya sebuah cerita kecil yang kutulis setelah bapak tiada, sebagai bentuk media ingat yang abadi dari kenangan tentang bapak yang tertanam...
