Kepada makhluk berakal yang ku sebut manusia
Hadirmu bak bumi dengan penghidupan didalamnya
Tercipta sebagai wadah kebebasan bermekar
Namun kokoh mu tak akan selamanya ada
Pun mekar didalamnya akan menjumpai layu nya
Karena bugarnya punya masa sakit jika tak terjaga
Meski kata mu “daya tahanku tak ada tandingnya”
Tapi tak bisa dielakkan bahwa ketahanan bisa melemah
Wahai makhluk sempurna..
Menjadi dirimu adalah impian tiap makhluk hidup yang tercipta
Sebab hadirnya mampu menciptakan keajaiban menjadi nyata
Melalui buah pikir yang makhluk lain tak dapati kecuali manusia
Hadirnya mampu mengajarkan tentram menjadi lekat terasa
Melalui naluri rasa teraktuskan dengan bijaknya
Hingga peradaban bisa tercipta dengan daya jiwa dan raga
Tapi..
Terkadang lalainya seringkali mengubur kesempatan berarti
Bugar tak benar benar ia jaga agar selalu membersamai
Tak ingat bahwa sempurnanya berjalan sebab sehatnya diri
Tak mengerti bahwa bugar dan warasnya tak akan selalu menemani
Tak sadar bahwa lalainya bisa menggantikan bugarnya menjadi sakit
Hingga dengan bebasnya bertingkah semaunya tanpa tapi
Sebab hawa nafsu berteman ego membawanya pada keserakahan tak terkendali
Berpikir bahwa nikmatnya akan selalu ia dapati, nyatanya akan diambil alih
Berpikir bahwa kuatnya akan selalu bisa menemani, nyatanya lemah mampu beraksi
Tanam lah dengan lekat
Tentang bugar yang tak selalu melekat
Pada jiwa dan raga yang dibiarkan dengan rasa penat
Penat akan sakitnya raga yang kasat mata
Atau penat akan hancurnya jiwa yang luput terasa
Sebab daya mu membuat semuanya berjalan sempurna
Jagalah bugar daya mu, karena berdaya tak akan selalu ada.
